Sculpture or Icon?

Hari Selasa lalu (tanggal berapa sih lupa, pokoknya minus dua dari tanggal posting-an ini) sculpture baru kampus Arsitektur Universitas S...


Hari Selasa lalu (tanggal berapa sih lupa, pokoknya minus dua dari tanggal posting-an ini) sculpture baru kampus Arsitektur Universitas Sebelas Maret diresmikan dalam acara soft opening. Kenapa soft opening, karena beberapa bagian dari sculpture itu belom terpasang alias belom seratus persen fix. Tetapi karena sekalian penutupan serangkaian acara Lustrum V Arsitektur UNS, maka peresmiannya dilakukan pada hari itu. Kata salah satu dosen senior, sculpture itu juga sebagai marker atas pencapaian 25 tahun Jurusan Arsitektur.

Sculpture pada tahun lalu dilombakan sebagai wacana identitas kampus yang merefleksikan nilai-nilai arsitektur di dalamnya. TOR sayembara emang gitu. Satu lagi TOR-nya, bahan baku sculpture adalah dari pipa bekas yang berjumlah sekitar 15 buah dengan panjang maksimal 2,3 meter! Dan melalui serangkaian seleksi desain akhirnya meloloskan lima finalis yang diberi kesempatan presentasi. Kesimpulan dewan juri memutuskan bahwa karya sculpture yang didesain gue dan co-desainer gue: Dodi sebagai pemenang sayembara.

So...beberapa bulan kemudian direalisasi dan jadilah kampus Arsitektur mempunyai sebuah sculpture baru.

Proses terbentuknya desain berasal dari ide "semi spontan". Apa yang mau kita representasikan melalui sculpture? Wacana apa yang mau diwadahi? Blablabla....sejuta konsep lainnya muncul seketika. Tapi karena orientasinya adlah memberikan citra bagi kampus Arsitektur maka: first thing first! Penampilannya harus mampu "menggugah" apresiasi estetika, psikologi ruang dan konsep fisik. Dodi mengambil sisi konsep fisik dengan menyodorkan bentuk box sebagai representasi geometris.

Bentuk estetika yang baku tapi selalu menjadi unsur utama dalam arsitektur. Kemudian sebagai konsep estetis, box tersebut mestinya dinamis dan tidak solid. Estetika dan konsep fisik sepakat, kemudian gue memberi sedikit masukan psikologi "meruang" dengan konsep warna yang mencolok agar dominan di tengah-tengah area. Inspired by Bernard Tschumi's foilee di Parc De La Villette ya?

So next question adalah menambahkan konsep instalasi. Apa yang pengen kita sampein? Selidik demi selidik, akhirnya kita memutuskan untuk mengapresiasi sistem pendidikan dalam lingkup global. Bahwa kenyataannya, bahan utama sistem tersebut, yaitu manusia-nya udah sedemikian kalah oleh mekanisme dan substansi sistematikanya. Kurang lebih demikian. Dan emang banyak yang mengrenyitkan dahi tanda ketidaksepakatan (atau ketidakmampuan) membaca pesan yang akan kita sampaikan begitu sculpture jadi. Tetapi "kernyitan dahi" tersebut justru menjadi dialog yang menarik antara objek (sculpture) dengan apresiator dengan versi masing-masing. Sesuai dengan misi arsitektur kita (gue dan Dodi) bahwa objek arsitektur tidak boleh berhenti, maka "dialog" itulah penjiwaan yang menghidupi objek.

Sculpture ini sedikit banyak merupakan manifesto kita untuk berpikir lebih konteks tetapi dengan memperhatikan kaidah ke-awam-an. Karena, rata-rata kompetitor sayembara kita maju dengan konsep yang sedemikian abstrak, mulai dari mendekonstruksi program ruang sampai refleksi budaya "joglo"-ism melalui model-model tribal. Sculpture kita hadir dengan ke-bimbang-an arsitektur dalam konteks "generalissimo"-nya bidang humaniora dan "specializatione" bidang eksakta.

Well...enjoy sculpture baru kampus arsitektur UNS di album foto, sekaligus sedikit share moment peresmiannya.

Co-Designer: Dodi Wahyudi (mahasiswa - Tugas Akhir: Arsitektur Metafora untuk Gereja, 25 tahun) dan Hilman Taofani (fresh graduate - Tugas Akhir: Studi Kecenderungan Arsitektur di Masa Depan, 23 tahun).
Reactions: 

Related

universitas sebelas maret 2069500045006992349

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item