Another Leap for Englishman

Sebetulnya, jika tidak terlalu "tercemar" dengan film-film komersialnya yang "mengejar Hollywood", sinema Inggris Raya b...


Sebetulnya, jika tidak terlalu "tercemar" dengan film-film komersialnya yang "mengejar Hollywood", sinema Inggris Raya bisa menonjolkan potensinya dengan sangat baik. Mereka mempunyai signature unik yang memperlihatkan khasanah budaya negara pulau di Eropa tersebut. Era Danny Boyle, Guy Ritchie dan rekan seangkatannya telah berakhir ketika mereka mengangkat subkultur kelam dari Inggris melalui rangkaian film independen. Mereka kini menjadi sutradara papan atas yang justru sementara ini masih gagal mengembalikan kejayaan klasik mereka yang terangkat bersama film macam "Trainspotting" atau "Lock Stock and Two Smoking Barrels".

Adalah film keluaran tahun 2007 ini, bertajuk "This is England" yang kembali menceritakan tentang satu subkultur Inggris di tahun 1983. Tahun 1983 digambarkan sebagai tahun yang penting dalam sejarah Inggris dengan banyaknya kejadian historis, termasuk yang paling besar pengaruhnya adalah perang Falkland. Perang tersebut turut membentuk jiwa seorang bocah berusia 12 tahun bersama Shaun yang kini tinggal sebatang kara bersama ibunya di sudut rural area di Inggris. Isolasi terhadap lingkungan sekitar, karena absennya figur ayah yang turut membentuk karakter Shaun membuat dirinya merapat ke lingkungan anak-anak Skinhead. Karena kedekatan strata sosial, maka dengan segera lingkungan Skinhead menjadi keluarga yang mempengaruhi pertumbuhan Shaun, termasuk ketika mantan pentolan geng tersebut kembali dari penjara.

This is England dibuat dengan sangat rapi, dengan tekstur yang cermat baik dari sisi visualisasi maupun storyline yang diiringi ilustrasi musik. Padahal film berjudul serupa dengan salah satu lagu band punk legendaris The Clash ini adalah film independen yang mestinya serba terbatas dari sisi bujet dan sumber daya. Tetapi, aspek seperti visualisasi digarap dengan apik untuk menggambarkan setting 1983, di mana untuk sementara waktu membuai pemirsa bahwa ini adalah film benar-benar buatan tahun tersebut. Alunan musik yang dipilih juga merupakan teknik penceritaan, mulai dari alunan musik-musik reggae yang berasal dari Jamaika, sampai ke musik punk khas Skinhead. Hal itu sinkron dengan alur cerita yang mengetengahkan infiltrasi white supremacist ke kultur Skinhead, yang notabene banyak dipengaruhi kultur ras kulit hitam (terutama dari Jamaika dengan reggae dan ska-nya).

Film yang disutradarai oleh Shane Meadows ini menampilkan bintang baru, Thomas Turgoose yang mampu bermain sangat meyakinkan sebagai Shaun. Meski mendapat catatan khusus akibat pemakaian bahasa-bahasa kasar, film ini tetap mampu menjadi highlight dalam sejumlah festival di Inggris Raya. Tentu saja, bahasa kasar adalah ironi yang menjadi sepaket dalam kultur modern Inggris Raya. Jika kita mengamati sukses film-film kultur dari Inggris semacam Trainspotting, maka suka atau tidak suka, gambar menarik justru datang dari kejujuran mereka menggambarkan kelas bawah dalam kultur modern Inggris. Padahal aspek tersebut merupakan bab marjinal dalam industri film yang rentan terhadap gunting sensor atau kecaman kaum konservatif. Gamblangnya Danny Boyle menampilkan pemakaian narkoba dalam Trainspotting membawa film tersebut ke jajaran cult. Keberanian Guy Ritchie mengangkat dialek Cockney yang penuh foul languange juga menjadi poin penting dalam film-filmnya. Hal itu tampaknya dinapaktilasi oleh Shane Meadows dalam mengetengahkan "This is England". Jujur dan detail meski satir adalah kata kunci Meadows dalam menggambarkan dunia Skinhead di kota kecil Inggris pada tahun 1983.

Dan bukan tidak mungkin, napaktilas Boyle dan Ritchie akan segera direngkuh Meadows yang mungkin akan melangkah ke film besar. Kesamaan mereka telah terpatri, yakni dengan menghasilkan film independen bercitarasa sinema kelas wahid. Rasanya, rating freshness yang mencapai angka 93% di Rotten Tomatoes cukup memberi gambaran apakah film ini wajib tonton atau sebaliknya.
Reactions: 

Related

movie 2889195891584330833

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item