Fundamental Records

Beberapa album penting dalam fase pertumbuhan saya sebagai seorang music-junkie: 01. Katon Bagaskara (Dinda) Ini adalah kaset pertama yang ...


Beberapa album penting dalam fase pertumbuhan saya sebagai seorang music-junkie:

01. Katon Bagaskara (Dinda)
Ini adalah kaset pertama yang saya beli di masa SMP. Cupu mungkin kedengerannya, tapi suka atau ngga, saya justru bersyukur mendapatkan rekaman ini. Komposisi Katon, bagaimanapun, adalah merupakan lagu pop "yang baik dan benar", dengan pilihan nada ter-struktur dan rapi. Tetapi faktor terkuat membeli lagu ini adalah kenangan terhadap almarhumah ibunda saya yang meninggal beberapa tahun sebelumnya di dalam salah satu lagu.

02. Elton John (OST Lion King)
Gubahan dan komposisi soundtrack film animasi Lion King dari musisi Inggris Elton John. Kakak saya mengrenyitkan dahi ketika saya meminta dibelikan album dari Elton John. Tetapi pendapat saya yang menggemari alunan instrumen atmosferik dari latar film tentang singa bernama Simba tersebut memang tidak salah. Album ini menyabet Grammy pada masanya dan menjadi salah satu album soundtrack terbaik. Saya bahkan masih fasih melafalkan penggalan lirik di lagu "Circle of Life" atau "Be Prepared" sampai sekarang. Ini adalah album pertama yang saya cintai secara utuh.

03. Guns N Roses (LIES)
Jaman saya kecil, melihat album ini adalah "dosa". Sebab, ada gambar perempuan telanjang di dalamnya (dengan "sensor" bloking tinta). Salah seorang kerabat berujar jika versi rilisan Singapura menampilkan gambar nudity. So, ketika beranjak puber album ini masuk dalam hunting list untuk mendapatkan "pemuasan visual" yang tabu di masa kecil. Namun ketertarikan visual itu untungnya juga diiringi dengan ketertarikan audial dengan masuknya rendisi akustik grup yang dimotori Axl Rose dan Slash itu dalam membawakan lagu semacam Patience atau Used to Love Her.

04. Oasis (Be Here Now)
Meski di-klaim sebagai rilisan paling "lame" dalam sejarah Oasis, mau tidak mau harus diakui jika album ini memang yang paling "easy listening" dari Gallagher bersaudara. Lagu-lagu semacam "All Arond the World" dan "Don't Go Away" memang bisa secepat kilat nyangkut di telinga dan mendengung di otak, seperti yang terjadi kepada saya di masa masuk SMA. Beruntung, dengungan itu segera tercuci begitu saya mendapatkan album pendahulunya, "What the Story (Mornng Glory)".

05. Various Artists (OST Spawn)
Album ini sempat mematenkan tekad dari saya sebagai pengkoleksi soundtrack (terkait juga dengan poin nomer dua di atas). Saya cenderung menyukai album kompilasi (seperti halnya sindroma penggemar musik novice), dan soundtrack adalah salah satu solusi untuk membeli kompilasi tanpa harus terlihat cheesy dengan memungut rekaman gotong royong semodel "NOW" yang juga laris pada masanya. Soundtrack lebih bergengsi karena biasanya juga dicompile berdasarkan suatu aras yang melandasi. Seperti misalnya di soundtrack Spawn ini yang menampilkan "perkawinan" antara musik elektronika yang tren mid-akhir 90an dengan rock dan metal. Sampai sekarang, warisan mp3-nya masih terpampang dan wara-wiri di playlist winamp menampilkan beberapa nomor favorit seperti kolaborasi dahsyat Tom Morello dan Prodigy (One Man Army).

06. Various Artists (Working Man - A Tribute of Rush)
Perkenalan pertama dengan Rush justru dimulai dari album tribute mereka. Dulu, album ini saya worship sekali karena menampilkan permainan dan penguasaan spektakuler dari musisi yang mengisi album ini seperti Billy Sheehan, Sebastian Bach, Mike Portnoy dan Steve Morse. Namun, yang lebih penting adalah album ini mengantarkan saya pada salah satu band favorit sepanjang masa saya: Rush. Dan album ini pulalah yang mengantar saya pada apresiasi per-instrumen dari sebuah band.

07. Metallica (Live Shit: Binge and Purge - Seattle 89)
Formatnya adalah video yang diambil dalam tur album "And Justice for All". Jadi belum ada nomor-nomor hits macam Enter Sandman dan kawan-kawan yang sudah saya kenal sebelumnya melalui kakak saya (he's a devout Metallica fan). Video ini adalah standar dari sebuah konser band metal yang terpatri sampai sekarang: liar, keras dan kencang. Dari video ini saya membentuk jaringan penggemar Metallica di sekolah menengah atas pada saat itu. Perkenalan pertama pada maestro gitar Jimi Hendirx juga atas jasa video ini ketika Kirk Hammett melakukan improvisasi solo "Little Wing" selepas Creeping Death.

08. Pearl Jam (Yield)
Meski mendapat rekaman Ten sebelumnya, apa yang saya ingat dari band Pearl Jam hanyalah "dengung" Eddie Vedder di dalam lagu Garden. Lagu Given to Fly yang ada di album kelima, Yield, mengubah semuanya. Musik Pearl Jam mulai terdefinisi di otak saya, mendengung makin kencang dalam resonansi antara dua telinga, serta mulai menyerap energi apresiasi yang dalam. Parahnya, itu berlangsung sampai sekarang!

09. Pantera (Official 101 Proof: Live)
Phil Anselmo dan kawan-kawan adalah limit terbising dari sebuah definisi musik keras yang bisa saya nikmati. Format live dari kuartet asal Texas ini memang masih terkomposisi dengan bagus. Saya juga dulu obsessed dengan Anselmo sebagai sosok "tough guy" serta gitar custom signature almarhum Dimebag Darrel yang berbentuk khas (Washburn dan Dean).

10. Boomerang (Segitiga)
Saya menonton Gito Rollies dalam sebuah acara televisi menyanyikan lagu "Haus di Padang Tandus". Saya sangat suka dengan lagu tersebut, dan menemukan versi "modern" dan rock-nya dalam album Boomerang yang khusus berisi lagu-lagu cover ini. Lagu tersebut tertutup oleh sorot yang mengarah ke lagu-lagu populer semacam Berita Cuaca atau Setan Tertawa. Namun menurut saya, interpretasi mereka dalam Haus di Padang Tandus adalah klasik! Boomerang juga merupakan pengalaman konser pertama saya ketika menyaksikan penampilan mereka pasca kerusuhan Solo di akhir tahun SMA saya.

10 album dan diteruskan oleh beratus-ratus album lainnya untuk membentuk sosok music junkie, die-hard Pearl Jam fan, obsessed with "muscular and echoing" music. Here I am...right here, right now as I am.
Reactions: 

Related

music 8030814697053627922

Posting Komentar Default Comments

6 komentar

Orang Gila mengatakan...

hehehe..
bener2 selera musik yang gado2...mulai dari yang nge-pop ampe yg nge-rock..

kalo gw sih dulu sempat ngefans berat juga ama NKOTB, Ace of Base, MLTR, Boys II Men, Westlife dan BSB...kalo sekarang lagu2nya gw puter lagi, rasanya agak2 geli gitu...tapi asyik juga kok...

tapi khusus tun ini, gw ampir sama sekali gak dengerin musik lain selain PJ....

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Alhamdulillah gado-gado, jadi bisa sedikit open mind. Tapi gw ngga sempet "kesentuh" sama Boys II Men dan sebagainya. Jadi rada buta apresiasi R&B.

Anonim mengatakan...

given to fly bikin merinding hel! menurutku itu holy song-nya PJ :))

setuju dgn pendapatmu ttg oasis, sayang mereka gak bikin album seperti be here now dan (what's the story) morning glory lg.

++retno

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Halo Retno,

Awalnya emang dari Given to Fly, tapi ngeresepnya malah dari Faithful tuh. Hehehe...

imyattic mengatakan...

Iya lagu2 Oasis di 'Be Here Now' emang easy listening sekali. Gak kaya lagu2 di album sebelumnya yang butuh denger 3 sampai 4 kali baru di bilang enak. tapi saya lebih suka lagu2 di album yang lama.

Btw.. sy lagi suka nonton serial Supernatural. Gimana kalo mas Taofani nge-review miniseri itu, secara kan review-nya keren2 tuh

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

Serian Supranatural tadinya pengen ngikutin juga May. Cuman keseringan udah tepar atau kalo ngga kelamaan nongkrong di luar jadi lolos mulu deh. Cuman ngikutin Prison Break doank sekarang ini mah.

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item