Solo in 32 Hours (Pt. 01)

Setelah terakhir Maret lalu, Sabtu dan Minggu kemarin saya berkesempatan "pulang" ke Solo. Kali ini bukan pulang seperti jaman kul...


Setelah terakhir Maret lalu, Sabtu dan Minggu kemarin saya berkesempatan "pulang" ke Solo. Kali ini bukan pulang seperti jaman kuliah dulu, tapi experiencing Solo dari sisi traveler. Kebetulan sekarang saya "memboyong" keluarga, alias Gina yang notabene seorang culinary geek.

Kita berangkat dari Surabaya pada Jumat malem, setelah melalui serangkaian kemalasan. Jam 23.00, bis patas jurusan Surabaya-Magelang meluncur keluar dari mulut terminal Purabaya (yang lebih populer dengan nama Bungurasih). Bis patas Surabaya-Jogja terkenal dengan mental para sopirnya yang melebihi pembalap F1, yakni ngebut. Maka jarak Surabaya-Solo yang ratusan kilometer ditempuh hanya dalam waktu 5 jam (khusus untuk nite-trip, soalnya durasi daytrip dengan bis yang sama bisa 6-7 jam sampai Solo). Setara dengan durasi tempuh Kereta Api yang jelas lebih bebas hambatan.

AKOMODASI DARURAT
Sampai di Solo sekitar pukul 4 dinihari. Karena hari masih gelap gulita, dan kita butuh akomodasi darurat, maka saya memutuskan turun di perempatan Pasar Legi. Di daerah itu, ke arah stasiun Balapan terdapat banyak penginapan murah (semalam ada yang Rp. 45.000,-). Setelah berjuang di 3 buah hotel, termasuk membangunkan centeng untuk menanyakan vacancy, akhirnya di hotel Indah Jaya (hotel kelas melati) kita mendapatkan tawaran akomodasi yang menarik. Yakni check in jam 4 pagi, dan check out hari berikutnya (jam 1 siang) dengan rate 1 malam. Padahal kita hanya membutuhkan tempat transit saja, karena sebetulnya untuk Sabtu malam kita sudah booking di hotel Agas (hotel bintang dua). So, Agas terpaksa kita cancel...hehehehe. Rate di Indah Jaya cuman separuh dari Agas, plus kemudahan ekstensi akomodasi dari Subuh sampai jam 12 siang gratis. FYI, saat itu, akomodasi di Solo tengah loaded, karena ada semacam Mukernas Pemkot se-Indonesia.

Puas membalas kompensasi terlipatnya tulang punggung dan tulang ekor, jam 8.30 kita memutuskan jalan keluar untuk mencari sesuap nasi di pagi hari (haha). Hotel belum menyediakan free breakfast, karena baru available untuk Minggu pagi. Tak apalah, toh posisi hotel yang berada di dekat Stasiun Balapan (dan Jalan Gajah Mada) membuat kita mempunyai banyak alternatif untuk mencari sarapan.

KUPAT TAHU SOLO
Di Jalan Gajah Mada Solo, tepatnya di depan Hotel Sahid Raya terdapat deret penjual Kupat Tahu yang masyhur. Dari Indah Jaya, jaraknya mungkin sekitar 600 meter, dan kita memutuskan untuk mencoba salah satu kuliner khas Solo tersebut. Kupat Tahu Solo hampir sama dengan kebanyakan olahan ketupat. Berupa irisan ketupat, plus tahu goreng, bakwan (ote-ote atau bala-bala), mi dan kacang goreng dengan siraman kuah kecap. Kecap adalah salah satu rukun bumbu dalam kuliner Solo. Dua porsi Kupat Tahu plus dua gelas es teh cuman seharga 13 ribu (wuhuuu, it's Solo we like, heavenly cheap).

Selepas sarapan, saya sudah ditunggu beberapa rekan kuliah saya dulu untuk pergi ke acara Temu Alumni Arsitektur UNS (itu "main course" agenda saya di Solo). Gina memutuskan untuk tetap di hotel karena dia ada agenda sendiri siangnya, yakni menyatroni Bakso Kadipolo, salah satu highlight dunia perbaksoan di kota Bengawan.

BAKSO KADIPOLO
Usai Temu Alumni, sekitar jam 2 siang, saya join dengan Gina di Bakso Kadipolo, yang terletak didepan PKU Muhammadiyah. Sekitar 2-3 kilometer dari hotel tempat kita menginap. Di warung Bakso yang mempunyai tagline "paling enak nomer 2 sedunia" (nomer satunya? Semua warung bakso sedunia...haha) tersebut ternyata ada banyak varian menu, termasuk "cabuk rambak" yang konon hampir punah dari khasanah kuliner Solo. Tapi saya lebih tertarik mencoba Garang Asem khas Solo. Olahan "opor" ayam dengan belimbing wuluh (term "asem" mungkin dari sini) dan dikukus di dalam daun pisang (yang ini term "garang"-nya). Gina, tentu saja, be there for bakso's sake. Term "heavenly cheap" kembali terbukti. Dengan menu segambreng (kita nambah nasi beras merah, sup iga, dan cemilan) serta minum cuman menghabiskan 23 ribu rupiah!

CITYWALK
Status turis segera kita lanjutkan dengan berjalan dari Bakso Kadipolo ke citywalk Slamet Riyadi. Citywalk di sini term-nya secara harafiah, bukan model arcade artifisial yang pura-pura jadi citywalk. Di Solo, itu diartikan sebagai pedestrian ekstra lebar yang dipaving, di sepanjang jalan Slamet Riyadi (dari Purwosari sampai Gladak). Kita browse "citywalk" dari museum Radya Pustaka sampai ke Solo Grand Mall (SGM). Melewati beberapa mantan atraksi unggulan Solo yang telah pudar pesonanya, yakni museum itu sendiri (yang terkenal karena kasus pemalsuannya - foto di atas), taman Sriwedari, dan stadion R. Maladi (atau dulu dikenal sebagai stadion Sriwedari).

Satu-satunya objek yang mungkin masih menarik mungkin hanya Loji Gandrung. Rumah dinas walikota Solo peninggalan jaman kolonial. Itu juga kita tidak berani blusukan masuk ke dalam...hehe. Dulunya sering digunakan sebagai dance-hall oleh meneer dan noni Belanda, sehingga orang lokal menyebutnya sebagai gedung (loji) tempat orang bermesraan (gandrung). Agenda citywalk terpaksa diakhiri di SGM, sekitar 20 meter dari Loji Gandrung, karena saya harus memenuhi undangan futsal pada malam harinya. So, save my feet for later. Kembali ke hotel (by cab, dan tetep heavenly cheap...hehe).

Jam 6 sore, kita sudah keluar lagi karena sebelum futsal pengen merasakan dulu Bestik Harjo nan terkenal di daerah Pasar Kembang. Apa itu yang disebut Bestik Harjo? Bagaimana saya terjun lagi setelah absen futsal selama lebih dari 4 bulan? Rasanya posting ini lebih baik displit jadi 2 bagian.

To be continued then...
Reactions: 

Related

travelogue 9036342239394055436

Posting Komentar Default Comments

9 komentar

Anonim mengatakan...

oo kamu alumni uns ya hil? ngomong2 suka tengkleng gak?

++retno

Helman Taofani mengatakan...

Wah guilty pleasure gue tuh mBak Retno...hehehehe. Udah nyoba tengkleng di daerah Pasar Klewer? Kalo ngga ngisep tulangnya kok dosa rasanya...hahaha.

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Nyapo gak nginep nang kos sahih ae pak?Kan iso gratis malahan..Sekalian temu alumni kos2an..hihi..

Helman Taofani mengatakan...

Jane nek dewe yo mending numpang wae. Neng gandeng niate wisata, yo metu duit sithik ra popo...hehe.

donlenon mengatakan...

waduh, enaknya bisa jalan-jalan en makan-makan bersama wisata.. eh mas helman.. i wish i was there.. T_T

taNti mustika mengatakan...

tahu kupatnya paling enak pake telor (aslinya sih telor dadar campur tahu).. nyam nyam... aaahhh, drooling bin ngecess.. :))

Helman Taofani mengatakan...

@Don Lenon:
Alah, Jogja - Solo cuman sejam doank. Busted gih! Hehehehe..

@Tanti:
In fact gue emang pake yang ada telornya kok. Heuheuheuhee...

Bazoekie mengatakan...

Memang beda ya man ngrasake Solo dalam suasana "plesir" dibanding Solo dalam keseharian saat kuliah dulu.Disamping wisata kulinernya cuma ada dua macam rasa ; uenak...dan uenakk tenan, Ragam "klangenan" di solo ga ada habisnya.
Btw ga sempet neng soto "triwindu" ato "gading" ya? Bulan lalu aku sempet mampir ke gading, tapi sayang ga sempet mampir neng "Bakso Rusuk" Palur.

Helman Taofani mengatakan...

@Basuki:
Rung sempet mrono, sesuk yen neng Solo neh meh ngincer Timlo Sastro barang.

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item