Why So Serious?

Masih dalam rangka hangover setelah dihajar durasi dua setengah jam film "The Dark Knight" semalam (20 Juli 2008)... Overall , sta...


Masih dalam rangka hangover setelah dihajar durasi dua setengah jam film "The Dark Knight" semalam (20 Juli 2008)...

Overall, standar ekspektasi tinggi saya memang terpenuhi dengan suguhan film franchise Batman terbaru ini. Sebetulnya saya adalah fans setia Batman versi Tim Burton di era 90-an dulu, dan masih sedikit bingung dengan pola yang diambil Chris Nolan dalam Batman Begins (eventhough saya sangat menggemari Nolan, terutama dengan "Memento" yang menjadi salah satu film terbaik dalam sejarah hidup saya). Tetapi, gaya yang diambil Nolan memang baru (terlihat) tegas di sekuel keduanya, "The Dark Knight". Meminjam istilah yang diberikan salah satu media nasional, Batman versi Nolan bergerak di ranah realistis, sementara Tim Burton menggarap sesuai dengan keahliannya, yakni surealistis. Untuk porsi penggemar komik old-school, versi surealis mungkin lebih pas karea senafas dengan pakem-pakem superhero lainnya. Tapi merunut kecenderungan tren komik pula, saat ini karakter-karakter fantasi makin dibawa mendekat ke realistis.

Dan jika memang demikian tujuannya, maka memang sangat tepat penggarapan Batman dipercayakan ke Chris Nolan setelah sempat dua kali flop di tangan Joel Schumacher sampai ke titik nadir pada "Batman and Robin". Sejak Batman Begins, Nolan telah memperkenalkan pendekatan baru tentang kesan gothic yang lekat terhadap karakter kreasi Bob Kane ini. Tak lagi berwujud setting dan fantasi yang kembali ke abad pertengahan, namun ke penggalian karakter-karakter absurd yang terwujud dari komplikasi psikologis. Oleh karena itu, tak heran jika di film pertama (Begins), setting Arkham Asylum (RSJ) yang lekat dengan kekalutan psikologis menjadi salah satu favorit Nolan. Dan hasilnya baru bisa dituai di film berikut, dengan munculnya alumni paling akut dari RSJ beken tersebut dalam karakter Joker, nemesis sejati Batman. Terimakasih untuk penjiwaan metodis dari Heath Ledger.

Kematian Ledger di awal tahun ini memang turut mendongkrak promosi Dark Knight. Dan ketika melihat gambar Ledger sebagai Joker, fans komik akan sedikit ragu mengingat perbedaan fantasi dari versi komik dan versi Nolan. Namun setelah menonton filmnya, kehadiran Joker-lah unsur pivot dalam merubah Batman fantasi (surealis) ke Batman realistis. Joker versi Heath Ledger memberi garis tegas antara penjahat-penjahat tipikal superhero, dengan psikopat sadis yang turut merubah ambience film ini menjadi film psiko-thriller. Tak ada bedanya dengan menonton "Se7en" atau bahkan ke thriller yang menjurus horor macam franchise "Saw". Tiap frame yang menampilkan Joker adalah horor, dan terus terang sepanjang film saya dilanda kengerian menanti teror dari si pelawak tak lucu ini.

Joker adalah tajuk utama dalam film Batman kali ini. Saya bilang lebih bagus daripada "Batman Begins" karena saya (lebih) setuju sepenuhnya dengan pendekatan Nolan kali ini. Bila ingin mengangkat film superhero ke ranah realistis, maka sisi yang dieksplore harus bergerak juga dari ranah serupa. Ekspose terhadap villain, pada film superhero lain yang fantastis jarang diangkat karena memang mementalkan ekspektasi penonton untuk melihat kecanggihan dan kehebatan sang pahwalan (di film pertama masih terlalu berkutat pada upaya mencari "wow effect" dari kehadiran Batman - meski hal itu sah mengingat tajuknya adalah "Batman Begins"). Joker adalah as dari film "The Dark Knight" kali ini. Semua karakter digerakkan mengelilingi Joker. Dan itu adalah bayaran yang paling setimpal untuk menegaskan status Joker sebagai musuh abadi Batman, seperti yang diutarakan sang Joker sendiri: "...kau dan aku mungkin ditakdirkan untuk selalu bertarung." Sekaligus homage paling sempurna untuk menutup karir Heath Ledger.

Fans komik dan penggemar superhero biasanya, yang telah dimanja dengan Iron Man sebelumnya, mungkin akan kaget dan sedikit boring dengan rollercoaster plotnya. Di sini, hampir ada 4 kali klimaks yang menjadikan film memang terasa lama. Unsur aksi dan kecanggihan efek juga jadi terasa mini dibandingkan durasi film. Dan mungkin juga akan banyak komentar dari movie-goers yang berharap suguhan hiburan, seraya mengamini dialog terkenal Joker di film ini: "why so serious?".

Ya, film ini memang serius. Sehingga saya menganjurkan bagi yang mungkin sedikit kecewa dengan mis-ekspektasi pada pengalaman menonton pertama, ambillah kesempatan kedua. Kali ini set pikiran Anda untuk menonton film thriller serius, yang bisa Anda nikmati dari unsur ketegangan, drama, kualitas akting dan plot cerita.

Kemegahan karakter Joker rasanya terlalu agung untuk dinikmati sebagai (wahana) hiburan belaka. Inilah jawaban Nolan kenapa film Batman-nya dibawa (terlalu) serius.
Reactions: 

Related

movie 799234426498439846

Posting Komentar Default Comments

18 komentar

Gina mengatakan...

Emang ni pelem box office sih.. gara-gara kematian Heath Ledger yg bikin heboh kali ya, secara ini jadi pelem terakhirnya.

Kalo boleh jujur sih, nothing so special with this movie, except the JOker. Ekspresi dan suaranya itu loh... nyampe banget pesan bahwa ini orang psikopat. Bravo Heath Ledger!

Overall, ngga ada yg baru dari pelem ini. Ada unsur maksa, salah satu contohnya memasukkan adegan si betmen minta kostum, dan aksi selanjutnya ga ada beda tuh sama konstum baru...

Rasa-rasanya pelem ini cuman jadi alur cerita yg ngeidupin si Two face, dan matiin rachel itu aja sih...

Overall.... It's so boring.

Why so serious?

It had happened too when I saw Batman Begins.

Bisa jadi, its not a good kind of MY movie.

Helman Taofani mengatakan...

Wah lu ngga sejalan juga sama IMDB. Godfather mulai terancam posisinya sebagai nomer satu sama Dark Knight lho Yung...hehehe. Nonton lagi yuk?

Bazoekie mengatakan...

Kenapa "so serious?". Selain karena typikal film sejenis yang nampak semakin seragam gaya ungkapnya (istilahku "tokoh Komik" yang dimanusiawikan dan didramatiskan ceritanya -istilahnya DHF dunia realistic tadi-).Chris Nolan tentunya ga mau cuma di bawah bayang2 itu. Kejutan dengan ruwetnya cerita dan twist-nya ending kata oco, membuat kualitas garapan Nolan masih terjaga dg ciri khas dia yang kental.Tokoh Joker bener2 ok's..Juga kejutan yang berulang-ulang...gila.Mungkin memang bener kata si DHF, untuk saat ini yang terbaik.
Tak ragu nonton lagi..

Helman Taofani mengatakan...

Sebenernya yang "bermasalah" adalah bergesernya genre Batman lebih ke psiko-thriller yang mana itu potensial bikin "gesekan" ekspektasi orang yang nonton. Banyak juga, setelah terbuai oleh Iron Man dan Wanted, yang berharap bahwa Batman akan menjadi eye candy movie. Nyatanya, porsinya menjadi jauh lebih berat dan serius, plus durasinya lama.

eko mengatakan...

serius. memang itu kata yang cepat. cape banget gua nonton film yang satu ini. tadinya hanya berharap kadar seriusnya sebatas karakter batman yang menjadi lebih keras dan sinis seperti di batman begins. ternyata berlaru-larut ke seluruh bagian film.
bukan film yang buruk, itu jelas. joker jelas menjadi bintang. kalau dipersen berdasarkan durasi muncul, mungkin dia nomor satu dengan urutan: joker, wayne, dan batman.
gua sendiri berdoa semoga tidak banyak film seperti ini. kalau film saja sudah demikian serius, lalu kemana lagi kita akan berpaling dari dunia yang udah bikin pusing ini?

Helman Taofani mengatakan...

Sabar mas Eko...masih ada Hellboy 2 dan Mummy 3.

Harusnya Batman tetep rilis di saat Natal nih. Why so serious? Hahaha...

eko mengatakan...

bener juga! mummy 3 dan hell boy 2 dijamin akan menjadi hiburan yang sesungguhnya (baca: ringan dan menyegarkan, hehehe...)
gua pribadi mengharapkan x-files: i want to believe agar tidak jatuh pamor. secara film ini keluar gak ada angin gak ada hujan. semoga mulder tidak kehilangan momentum...

Helman Taofani mengatakan...

I also want to believe kalo X-Files masih bertaji. Secara, Scully adalah idaman jaman...err...SMA? Hahahaha.

donlenon mengatakan...

ehm, jujur saja saya selalu deg-degan lho kalo mo memberi komen di blog ini.. kesannya gimana gitu..

well, baiklah pertama saya sangat gembira mas helman sudah mengupas tentang film yang bercerita mengenai salah satu tokoh idaman saya saat kecil.

kedua, tentunya saya setuju dengan anggapan bahwa film kedua ini lebih tokcer dibandingkan versi pertama Nolan (begins).

katanya sih, layer psikologi yang coba diangkat di film kedua ini lebih kental dan kompleks, jadi berasa memiliki banyak angle gitu..

namun, saya rasa (kalo menyimak kembali sosok idola saya waktu kecil), film ini lebih tepat ditonton 13th ke atas kali ya, soalnya gak ada kesan film 'keluarga'-nya sama sekali sih..

Helman Taofani mengatakan...

Walah, deg-degan kenapa bos? Saya ngga gigit kok...hehehehe.

Speaking of film keluarga, sebeah gue nonton ada yang bawa anak-anak balita-nya. Kayaknya rada banyak juga yang ketiduran tuh anak-anak.

ros_ocoe mengatakan...

IKUTAN.....
SALUT! Sama semua review filmmu Man, soalnya blogmu bisa membuat suatu film "kontroversial" dengan kosakata "aneh" yang kamu pakai, sehingga membuat rasa penasaran bisa muncul pada film tersebut... Tapi itu buatku pribadi, soalny membaca reviewmu tentang WANTED lebih membuatku "kagum" daripada nonton filmnya langsung:p

Anyway kembali ke Dark Knight, seperti kata BAZUKI TWIST BGT FILMnya!GA NYANGKA! Misalnya....
- Setiap Jagoan memutuskan 2 pilihan sulit pasti win2 solution (Spiderman1, HANCOCK, HELLBOY, bahkan WANTEDpun juga, ehm dll), tapi diDK gila tokoh cewek dibuat MATI!!!
- Benar2 terlihat sekali arti sebenarnya perang antara "kebaikan dan kejahatan", bukan hanya antara jagoan dengan penjahat
- Kekalahan penjahat tidak harus selalu diakhiri kematian, penjara tetapi mengalahkan ideologi juga bisa membuat penjahatnya kalah
- Pendapatku pribadi, BATPOD ternyata dari BATMOBILEnya!!!!?
KEREN ABIZZZZZ

Helman Taofani mengatakan...

Jujur aja Co, karena tingginya ekspektasi, sepanjang film gw emang kaya nyari celah buat dicela aja. Tapi emang susah. Kecuali gue pikir setelah klimaks ketiga, filmnya jadi over-durasi dan bikin males lagi (malah pengen cepet-cepet kelar).

SPOILER

Setelah Joker ketangkep dan Harvey Dent evolved jadi Two Face di rumah sakit, harusnya itu bisa jadi gate untuk sekuel ketiga yang lebih seru (kaya ending di Begins, yang ada clue Joker-nya). Buat gue, kalo mungkin diakhiri di situ, bakal pas sama rata-rata mood penonton (mungkin dengan sedikit modifikasi supaya tetep terjadi pertarungan antara Batman dan Joker - sebagai lambang pertarungan dua ideologi as you said). Sayang evolusi karakter Harvey yang udah mulus diungkapin di film, cuman berakhir gitu doank.

Soal Rachel Dawes yang mati, ngga heran juga sih since Bruce versi asli kan emang ngga punya soulmate sejati (nggak kayak Lois-Clark, Peter-MJ). Kalo ngga mampus, nanti sekuel berikut malah jadi rada susah ngasi peran pacar Bruce selain Rachel.

SPOILER END

Tapi setuju kok, unsur dramaturgi di film itu ngga keliatan bodoh kaya film-filmnya Michael Bay (Transformer misalnya). Jadi formulasi Bay: "adegan heboh+drama bodoh = film panjang pointless" ngga berlaku di Dark Knight.

tammi prasetyo mengatakan...

ahh akhirnya nonton batman juga!

iya iya
saya sebel, kenapa two face nya enggak di kembangin lebih lanjut lagi..
sayang banget ah.. hehe

overall, saya suka film ini
keren!

WhySoSerious mengatakan...

Emangnya ada yg bilang Harvey Two Face dah mati? ga ada yang bisa mastiin kan kalo Harvey Two Face it bener2 udah mati? Yang ada di makam Harvey Dent itu kan cman fotonya doang Harvey, bukan Two Face, dmana Gordon dan Batman ingin memberi image kepada orang2 di Gotham City bahwa White Knight Gotham City itu udah tewas, bukan turn in into a villain.

Helman Taofani mengatakan...

Wah kalo ngga mati malah justru lebih cupu lagi filmnya (kaya film-film sekuel picisan yang villain-nya ngga mati-mati).

whysoserious mengatakan...

Lho bukannya kamu sendiri diatas ada comment kalo seharusnya plot Harvey Two-Face bisa dikembangkan lebih jauh? Dan lagi kalo Harvey ga mati di scene itu, bukankah wajar juga?

As produser PoV kan kita ga mau kalo kita patokin Harvey mati, trus ntar di film film selanjutnya kita ga bisa tampilin Harvey lagi (and maybe bisa menurunkan profit or etc etc sesuai pertimbangan produser)

FYI, Sejauh yang gw tau kalau di dalam buku2 yang ada, Two-Face itu emang ga pernah dicertain mati. Ada juga dia masuk Arkham, ato engga dia dicoba untuk diluruskan kembali ke jalan yang benar ama Batman, ato dll dsb dst CMIIW.

Well, maybe for the next movie Batman, gw ingin lihat sampe mana Batman bisa dikembangkan ama Nolan.

Helman Taofani mengatakan...

Versi gue (di atas) adalah Harvey-nya dibiarin pas adegan di rumah sakit, yang secara fisik berubah jadi Two-Face. Ngga usah ada adegan akhir di gedung yang Two-Face nyandera keluarga Gordon, trus akhirnya "ditumpas" oleh Batman. Buat gue itu udah berarti tamat juga si Two Face, either itu mati atau diamankan polisi. Two-Face-nya bisa disimpen di sekuel berikutnya. Sekarang kalo mo nampilin lagi Two-Face di sekuel berikut bakal berasa janggal, karena secara alur psikologis, dia udah selesai di The Dark Knight. Beda kan sama Joker di Batman Begins - itu diceritain tahanan Arkham pada kabur semua, salah satunya Joker yang cuman dikasi hints kartu joker.

Di komik-komik Amrik mah emang absurd ceritanya. Ngga ada tokoh yang bener-bener mati. Kalo udah mati bisa idup lagi. Remember Death of Superman? Atau Charles Xavier yang mati, idup, jadi Onslaught, dll.

Bang Mupi mengatakan...

Wah gua setuju dengan Harvey harusnya bisa diteruskan di episode berikutnya :) Karena menurut gua terlalu cepat transformasinya menjadi orang jahat. Butuh waktu lebih banyak Man. Dan biarkan plot beralih ke Batman vs Joker. Apalagi kan diceritakan di film, rumah sakit tempat Dent hancur, biar jadi pertanyaan buat penonton. :)
Btw, maksudnya film Batman flop ditangan Joel Schumacher tuh, flop karena jelek atau flop karena kurang laku? Karena bukankah batman forever tuh film paling laku pada tahun itu? Salam kenal. :)

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item