Antipati Musik Dalam Negeri?

Let see... Ketika kecil dulu saya suka sekali mendengarkan lagu Fariz RM yang duet dengan Mus Mujiono, entah apa judulnya. Kemudian proye...


Let see...

Ketika kecil dulu saya suka sekali mendengarkan lagu Fariz RM yang duet dengan Mus Mujiono, entah apa judulnya. Kemudian proyek-proyek keroyokan para musisi beken Indonesia juga sering dilahap karena frekuensi tayang di "Album Minggu Ini" cukup tinggi. Beranjak SD, bareng para preman kampung sering dengerin Iwan Fals. Ada lagu pengantar maen kartu, ada lagu pengantar nongkrong di trotoar, etc. Deket lah sama aktivitas kaum muda nan marjinal...hehehe.

Menginjak SMP, saya mulai mendengarkan album pop Katon Bagaskara yang ada lagu "Negeri di Awan", saat itu video klip masih barang baru dan lagu ini salah satu yang punya video. Masih di SMP pula, saya lumayan sering mendengar lagu Project P, plesetan lagu yang tenar jaman itu. Bahkan pada waktu itu, saya lebih tahu "Kambing Liar" daripada "Come As You Are" (maafkan saya bang Cobain!). Akhir SMP dan SMA, mulai berkenalan dengan Pas Band. Awalnya memang suka dengan "Psycho ID", dan dig dua album sebelumnya (termasuk "4 Through the Sap" loh...). Thanks God ada kaset yang terbeli dengan uang saku sekolah saya. Saat kelas 1 SMA, lagu "O o o"-nya Gigi rajin saya nyanyikan di depan kelas kalo kena hukuman guru Bahasa Inggris. Di jaman SMA sampai masuk kuliah, masih apal semua lagu Boomerang, terutama yang kerap diputar adalah "Segitiga".

Dan ya, saya sedikit kehilangan selera sesudahnya, seiring dengan mandegnya celah apresiasi untuk musik secara holistik. So, memang ngga cuman lokal, tapi global. Saya juga stop nambah referensi setelah era post-alternative dinyatakan usai dan berganti nu metal dan rap metal. Imbasnya ke apresiasi sama musik lokal memang. Terakhir saya membeli album band lokal yang saya suka adalah Mocca ("My Diary"). Sempet juga mencoba beberapa yang lain (termasuk Tika dengan "Frozen Love Song") tapi kesannya biasa saja.

Kenapa saya jarang denger musik lokal? Karena album lawas (dari musisi lokal) yang saya suka jarang dirilis dalam format CD. Dan untuk mendigitalisasi katalog musik (baca: ripping ke mp3), saya paling anti format ulang dari kaset. Unduh? Ah, saya tidak tega mengunduh ilegal hasil karya orang sebangsa. Kalo ada saran album yang bagus, kasih tahu saja, bagaimana dapetin rekamannya...Salah satu garis bawah lagi, saya jarang denger TV dan nonton radio. Sumber terbesar info musik lokal saat ini.

Begitulah...
Alasan kenapa saya terkesan tidak ambil pusing dengan silang sengkarut dunia musik lokal. Bahkan saya sering tertegun ajaib menyaksikan beberapa nama band di majalah Rolling Stone Indonesia. "Ada ya, band kaya gitu?" Hehehehe.



PS: Ditulis setelah membaca Rolling Stone edisi Immortals versi Indonesia.
Reactions: 

Related

music 4442913230408535677

Posting Komentar Default Comments

8 komentar

Andri mengatakan...

Rekomendasi pak:album 'Good Morning' karya D'Cinnamons..Lagu2nya simpel tp layak untuk dicoba,terutama bagi mereka yg lg jatuh cinta...halah.. :D

Jati Priyoharjono mengatakan...

Saya dulu juga memulai "debut" dengan menggemari lagunya Fariz RM. Yg judulnya "Barcelona" itu loh... Mangkanya sejak itu saya jadi penyuka FC Barcelona. (Halah!) :-P

Helman Taofani mengatakan...

@Andri: D'Cinnamons yang akustik itu yak? Udah denger deh kayaknya...decent record sih. Coba deh kapan-kapan...cuman masih sangat "Alanis" yak...hehehe.

Bazoekie mengatakan...

wah,urusan lagu lokal aku dulu sangat ketinggalan.
mulai bener2 ngikutin musik lokal setelah ada band-band baru seangkatan dewa dan gigi (sekitar SMP kali).wah gaul neh aku.
masalah musik ga fanatik banget. Luar dan dalam okey, ibarat st12 s/d metallica oke aja.
Tapi sekarang di TV jg banyak music lokalnya (selain MTV tentunya), plus radio jg sukanya yang lokal aja. Jadi kuping sekarang lebih biasa ndengerin lokal.
Pertama ngejek2 st12, lama2 malah nyandu, he2.

NB: download MP3 masih agak susah ninggalin, he2...
realistis.

Helman Taofani mengatakan...

Unduh mp3 juga masih jalan kok Bas. Cuman kalo unduh musik lokal, source-nya ngga jelas. Kadang udah cape-cape unduh, ternyata konvert-an dari kaset pake bitrate 96 KBPS pula. Bikin sakit kuping aja (mending juga kalo lagu-lagunya jelas).

Preferensi itu, IMHO perlu, supaya kita selalu mempunyai konsep dan "state" tentang hidup kita. Jadi mulai bikin preferensi Bas, mulai dari musik.

Ipul mengatakan...

Musik lokal..?
sayangnya saya sudah tidak terlalu mengikuti. dulu paling demen sama Slank (formasi awal) sampe bela2in puasa biar bisa beli kasetnya. trus terakhir mentok di PADI yang konsep musiknya lumayan.

dulu juga suka DEWA, tp sekarang keknya udah jadi band menye2 juga...

sekarang keknya musik lokal banyak yg gak berkualitas deh...banyak band tiga jurus yang gampang naik dan gampang juga turunnya..

untuk musik lokal, saya paling ngikutin yang jazz kek Maliq aja..lebih ketahuan...

Anonim mengatakan...

Hidup NAPRETEP!!

-Gene

Helman Taofani mengatakan...

Ah, Nap Retep juga kita beli CD kan. Kalo suka, beli CD-nya, that's fine kok Mou...

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item