Remaster dan Remix (Antisipasi Re-Rilis TEN)

Mengantisipasi rilis ulang album TEN dari Pearl Jam yang memuat edisi "Remastered" dan "Remixed", saya mencoba memahami...


Mengantisipasi rilis ulang album TEN dari Pearl Jam yang memuat edisi "Remastered" dan "Remixed", saya mencoba memahami tentang beda keduanya (Remaster dan Remix) dengan bertanya ke beberapa sumber serta browsing seputar masalah ini.

Pada umumnya, dari info yang saya peroleh (feel free to discuss, please!), untuk memahami istilah Remix, Remaster, dan sebagainya memang idealnya perlu sedikit paham dengan tahapan umum sebuah rekaman (recording) album atau lagu sebelum dirilis. Tahapan umum tersebut adalah:

- TAKING
- MIXING
- MASTERING
- COPYING

Masing-masing tahapan itu mempunyai suatu tahapan rekayasa suara (sound engineering) yang nantinya akan berpengaruh terhadap hasil akhir (kopi rekaman).

Tahapan pertama adalah Taking, di mana input suara mulai dimasukkan. Untuk kasus band pada umumnya (termasuk Pearl Jam), tahapan take ini dilakukan terpisah antar bagian (instrumen). Vokal sendiri, bass sendiri, fill gitar sendiri, fill melodi sendiri, drum sendiri, dan seterusnya. Nanti mereka akan membentuk layer-layer suara yang bekerja pada frekuensi tertentu, untuk kemudian dicampur (mix) di tahapan berikut.

Tahapan kedua adalah Mixing, yang pada dasarnya adalah mencampur dan mengolah input suara yang masuk dari tahapan sebelumnya. Tahapan ini akan menentukan konsep sound yang akan dihasilkan nantinya. Apakah suara bass menonjol pada saat intro, apakah vokal diberikan porsi frekuensi sama dengan melodi sehingga membentuk harmoni, dan sebagainya. Peran dari produser dan sound engineer di sini cukup tinggi, karena -bekerja sama dengan band (atau malah kerja sendiri)- mereka menentukan seperti apa karakter lagu nantinya. Hasil dari tahapan ini kemudian akan menjadi master copy dari sebuah lagu atau album.

Tahapan ketiga, yaitu Mastering adalah untuk membuat master kopi. Yang paling menentukan adalah dengan medium apa nanti lagu atau album dirilis, sesuai dengan skala prioritas. Antara vinyl, CD, Super Audio CD, DVD dan BluRay tentu berbeda, terutama dari sisi kapasitas mereka menampung. Ibarat istilah digital, seberapa besar kompresinya. Kompres suara ini akan berpengaruh pada "sound clip", artinya akan ada pemotongan-pemotongan frekuensi supaya bisa masuk ke kapasitas medium. Sedikit flashback ke pelajaran SMP, gelombang suara memiliki amplitudo, tinggi-rendah gelombang, yang makin besar amplitudo-nya, makin besar pula file-nya. Jadi, Sound Clip ini untuk "adjustment" amplitudo. Misalnya untuk frekuensi rendah (bass), dibatasi sampai sekian Hertz. Dan untuk frekuensi tinggi (trebel) dibatasi untuk sekian Hertz. Itu sebabnya kita sering mendengar "geber" (biasanya pada bass) dan "pecah" (biasanya pada trebel) ketika sebuah rekaman diputar di volume tinggi. Artinya, rekaman tersebut sudah melampaui batasan maksimal frekuensi.

Kemudian ditentukan juga "Volume Gain", yang teknisnya adalah menentukan titik tengah amplitudo gelombang suara. Secara kasar, ini akan menentukan default noise-loudness (tingkat kerasnya bunyi) yang dihasilkan rekaman suara. Volume Gain ini juga akan menentukan sound clipping.

Tahapan mastering ini menjadi isu produksi rekaman akhir-akhir ini, karena sebagian besar rekaman yang beredar sekarang hanya mementingkan Volume Gain (yang disorot adalah Arctic Monkeys, Red Hot Chili Peppers - Stadium Arcadium -, dan yang paling gres: Death Magnetic-nya Metallica), sehingga amplitudonya menjadi kecil (dan memicu clipping yang signifikan). Akibatnya para audiophile mulai protes karena rekaman hanya berlomba untuk lebih keras, tanpa mementingkan kedalaman frekuensi.

Usai tahap Mastering, maka akan dibuat kopinya yang kemudian diedarkan dalam bentuk produk yang kita terima.

Bagi yang sering bekerja dengan Photoshop, mungkin bisa dianalogikan, jika tahapan Remix ini berarti mengolah layer per layer. Kita masih bisa mengganti kontras background, mengganti tone tulisan, ubah warna objek, dan sebagainya dalam kadar yang berbeda. Sebelum hasil akhirnya di-merge. Sementara kalo Remaster ini mengolah dari file yang udah di-merge, jadi opsi perbaikannya juga limited. Paling-paling seputar kontras, level, tone secara keseluruhan.

Kembali ke album Ten versi Remaster dan Remix.

Untuk Ten Remaster, seharusnya tidak akan ada perbedaan yang signifikan dari sisi lagu-nya. Hampir pasti hasilnya akan sama dengan rekaman Ten yang udah kita kenal, karena secara teknis, hasil Ten Remaster masih diproduseri oleh Rick Parashar. Untuk membedakan memang harus diamati dengan perangkat audio yang memadai. Atau lihat saja pada grafik equaliser yang ada di pemutar audio kita. Karena untuk Remaster tidak akan mengubah mixing, namun hanya adjustment kompresi, sound clipping dan volume gain yang akan disesuaikan dengan media rekam. So, efek "solo gitar tampak berbeda", dan "suara gitar Stone di intro 'Black' lebih keras", itu sepertinya tidak akan ada di versi Remaster. Jika ada yang merasa demikian, mungkin karena pengaruh Volume Gain yang berbeda (secara keseluruhan), namun secara layer masih tetap sama susunan frekuensinya.

Sementara untuk Ten Remix, output-nya bisa saja berbeda. Bisa saja Brendan O Brien -misalnya- memutuskan "menghilangkan" (teknisnya sih menutupi layer) teriakan Vedder "Yeee.. eeee.... eeee... ooooow" yang ada di intro lagu "Black", dan ditutup dengan intro gitar Stone. Karena untuk Remix, Brendan akan mengerjakan dari dokumen take yang masih berlayer-layer, kemudian mencampurkannya (mix) lagi sesuai dengan konsep dan visinya (yang tentu berbeda dengan versi Rick Parashar).

Jadi memang mungkin bakal ada perubahan layer, misalnya bass lebih dominan di Jeremy, dan volume (frekuensi) gitar sedikit diturunkan. Secara keseluruhan, memang nanti bisa membuat karakter yang beda dari sebuah lagu, tapi biasanya susunan melodi, syair, ritem dan sebagainya tidak berbeda karena band tidak melakukan take ulang (bandingkan dengan rekaman ROXX yang menjadi bonus Rolling Stone Indonesia, Januari 2009 yang merupakan Re-Take).

So, menanggapi berita yang beredar di forum Pearl Jam tentang solo lagu Alive yang berbeda -kecuali Mikey memang punya alternate take-, saya sedikit sangsi sebetulnya. Jika memang demikian, mungkin dia dulu mengisi part solo itu dengan bentuk harmoni melodi, atau dua kali take, sehingga pada proses re-mix, fill yang dulu frekuensinya rendah jadi tinggi, dan sebaliknya.

Sebagai gambaran kilas, bisa dibandingkan lagu "Once", "Even Flow", "Alive" dan "Black" di album Ten (1991) dan album kompilasi Rearviewmirror (2004). Versi pada album Rearviewmirror (RVM) adalah Remix dari Brendan O Brien. Bisa diamati dari lagu Black, jika di album Ten intronya berkonsep fade in (sehingga intro Stone samar, dan "Yee...yeee...ooow"-nya Ed juga samar), maka di RVM intronya lebih jelas dan bekerja di layer frekuensi paling tinggi, sehingga "crisp" gitar-nya kerasa. Itu contoh pengaruh dari Remix.

Dengan membandingkan, setidaknya fans Pearl Jam bisa mengantisipasi apa yang bisa mereka harapkan dari Ten Remastered dan Ten Remixed (selain gimmick koleksinya yang aduhai).

Semoga bisa membantu...
Reactions: 

Related

music 1715650380733714812

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item