Si Gembel Jutawan

Sudah jadi pakem lama apabila kita menonton film India (dari jaman baheula) selalu menampilkan ikon-ikon tertentu. Bisa dicek lagi, di hamp...


Sudah jadi pakem lama apabila kita menonton film India (dari jaman baheula) selalu menampilkan ikon-ikon tertentu. Bisa dicek lagi, di hampir semua film Bombay itu turut menampilkan polisi, gangster, kisah cinta yang tidak mudah dijalani (Cinderella story), penampakan figur keagamaan, dan tentu saja tari dan nyanyi yang dimeriahkan para figuran "nggak penting" (5 ceklis, oke?). Bagaimana jika film itu kebetulan tentang India, namun diproduksi oleh sineas Inggris bernama Danny Boyle (dia yang menghasilkan Trainspotting)? Well, mahzab yang diambil tentu tidak akan sama dengan sekte Punjabi yang merajai film kita...

Mungkin komparasi terlekat adalah membandingkan film Slumdog Millionaire karya Boyle, dengan magnum opus Fernando Meirelles di 2002 lampau berjudul Cidade de Deus. Keduanya melihat perspektif tentang kehidupan keras dibalik megahnya kota metro negara ketiga, yang sarat dengan pelanggaran-pelanggaran bingkai indah hidup untuk meraih satu pencapaian: survive! Komparasinya bisa juga melihat lakon kedua, yang jika di Cidade de Deus menokohkan kota Rio de Janeiro, maka Slumdog Millionaire adalah Mumbai (a.k.a Bombay), kota yang kebetulan juga menjadi Hollywood-nya India.

Plot-wise, maka Slumdog sebetulnya "sangat India" karena berangkat dari as cerita lika-liku hubungan antara Jamal dan Latika. Dua insan berbeda gender yang telah membangun kemistri sejak masa kecil, namun harus melalui jalan berliku untuk mencampurkannya dan mengakhirnya dengan manis (so, Cinderella Story - checked). Di belakang mereka ada sosok kakak Jamal yang bernama Salim, figur keras nan brutal, yang akhirnya membawanya ke tangan gangster Mumbai (Gangster - checked). Ringkasnya, upaya Jamal untuk menjalin kasih dengan Latika harus melalui episode kuis "Who Wants to be a Millionaire?", yang menyedot animo masyarakat India melalui siaran televisi. Dari sekedar niat untuk mencari perhatian (mohon dipahami harafiah) dan keberadaan Latika, Jamal ternyata mampu melewati satu demi satu tahapan pertanyaan yang kebetulan (sesuai dengan tag film: "Everything is Written") terkait dengan memori masa lampaunya nan kelam di belantara kehidupan kumuh Mumbai bersama Salim dan Latika. Misalnya ketika dirinya bisa menjawab benda apa yang dibawa sang Dewa Perusak, Syiwa; hal itu membawa Jamal ke flashback masa kecil ketika dirinya melihat "penampakan" Dewa Syiwa dalam sosok anak kecil yang membawa busur dan panah di tangan kanan (penampakan Dewa - checked; meski kemudian memicu kontroversi). So, kebetulan-kebetulan tersebut akhirnya membawa Jamal ke tingkat akhir kuis.

Kemampuan seorang gembel menempuh tahapan yang bahkan membuat seorang profesor angkat tangan menjadikan Jamal dicurigai curang. Itu membuatnya harus berhadapan dengan interogasi polisi (Polisi - checked). Dan dari sesi interogasi ini jalinan cerita di atas meluncur deras, dengan visualisasi sangar adegan per adegan. Di sini letak intervensi Danny Boyle untuk mencampur bumbu-bumbu India-nya. Danny Boyle tidak membuat "film tentang India", namun tetap membuat "film India", dengan gaya yang jelas berbeda dengan mainstream film India. Ah, tapi film India tanpa tari-tarian nggak penting bukanlah film Bollywood. Saya sendiri sempat tercetus "kekosongan" tersebut, sampai akhirnya...

Yes! Tetap ada tari-tarian nggak penting, diletakkan dalam scene yang tidak mengganggu plot. Lengkap dengan figuran yang tidak kalah "ngga penting"-nya (Tari - checked).

All checked? So, itu yang membuat film ini hebat bukan?
Reactions: 

Related

movie 5585684817770060893

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item