Buku atau Film?

Satu prinsip yang saya pegang teguh adalah untuk tidak pernah membandingkan karya literer (novel, buku - bukan komik) dengan adaptasi visu...



Satu prinsip yang saya pegang teguh adalah untuk tidak pernah membandingkan karya literer (novel, buku - bukan komik) dengan adaptasi visualnya (film, teater). Hal yang paling mendasar adalah: imajinasi yang kita bangun dari sebuah aktivitas membaca adalah sebuah proses rekayasa pikir yang bersifat subjektif. Kita yang membentuk penggambaran tokoh dan karakter yang ada, berdasarkan persepsi pribadi sehingga menghasilkan bayangan yang ideal (bagi kita).


Sementara film adalah hasil imajinasi "objektif" (dari sebuah tim casting mungkin) atau mungkin subjektif yang dihasilkan dari alam pikiran berbeda dengan kita. Berbeda sama sekali kadang, karena terpisah ribuan kilometer, bahasa, dan kultur. Oleh karena itu, imajinasi subjektif kita tentu akan selalu lebih unggul dari rekayasa pikir orang lain. Dan entah berapa juta kali saya mendapati kalimat apresiasi: "Ah, bagusan buku daripada filmnya!".

Hal kedua, kadang buku lebih detail menjabarkan sesuatu dengan jutaan frasa dan lema. Sementara film terbentur dengan satu kendala bernama durasi, di mana secara mainstream masih diukur dengan banyaknya roll menampung kapasitas film, yakni kisaran 120 menit (more or less). Benar bahwa buku juga memiliki kendala kuota halaman, namun biasanya sebuah literatur lebih fleksibel menyesuaikan. Mungkin, kesempatan sebuah film bisa lebih banyak "bicara" dibanding karya tulisannya terjadi pada adaptasi sebuah cerita pendek. Ranah ini menghasilkan beberapa film sukses macam Fight Club atau Shawshank Redemption.

Era paling mutakhir menunjukkan bahwa skenario orisinal makin melangka, dan sejumlah film pengumpul pundi uang adalah berasal dari skenario adaptasi. Buku yang sukses biasanya merupakan lahan skenario yang paling diburu. Robert Mulligan konon tak sampai setahun langsung menyambar hak adaptasi karya Harper Lee, "To Kill a Mockingbird", dan menghasilkan salah satu film terbaik sepanjang masa. Masih tetap sama dengan era mutakhir ini ketika pembaca Harry Potter harus "ngebut" melahap halaman demi halaman, sebelum adaptasi filmnya naik layar. Beberapa penulis bahkan sudah di-booking oleh studio besar untuk dibeli hak adaptasinya bahkan sebelum mereka menulis!

Tentu ini menjadi ironi bila dibanding dengan apa yang saya tulis di awal. Bahwa selalu ada gugatan tentang versi buku dan film yang hampir 90% selalu dimenangkan oleh pihak pertama. Namun satu fakta mendasar bahwa perdebatan itu lahir tujuh abad setelah Gutenberg. Euforia terhadap budaya tulis mulai memudar, memicu apa yang dinamakan oleh pemikir budaya (Marshall McLuhan) sebagai retribalisasi.

Ribuan tahun lalu, sekelompok suku purba di Perancis mendokumentasikan cerita mereka dalam bentuk lukisan di sebuah gua. Itu adalah bagian dari fase budaya bernama tribalisasi. Hal yang bertahan berabad lamanya, dengan macam ragam relief, patung, lukisan dan sebagainya. Lalu Gutenberg menemukan cara yang memukau guna menyebar ide bernama aksara, yakni melalui mesin cetak. Propaganda tulisan menjadi satu hal yang mengemuka, di mana jutaan ide menjadi liar karena bisa dibaca dan dipersepsikan secara subjektif oleh makin banyak orang. Hal yang (justru) memicu "pencerahan" bila mengikuti pakem Eropa, lantaran orang bisa lebih bebas mengemukakan sesuatu dengan media yang abstrak dan tak terkungkung imej ketat seperti halnya gambar.

Namun seperti halnya hidup, peradaban dan budaya hanyalah merupakan sebuah daur. Abad membaca pada akhirnya akan sampai puncak, kemudian tergelincir seraya memberi momentum bagi apa yang disebut retribalisasi. Ketika imej visual kembali menjadi cara komunikasi paling digemari lantaran efektivitas dalam penyampaian makna. Abad yang dimulai dengan lahirnya komik, fotografi dan tentu saja menyusul adalah foto bergerak alias film.

Dan kita ada di satu masa di mana retribalisasi mulai menjadi nyata. Film diproduksi dalam kuota yang hampir sama banyak dengan buku. Film kadang lebih mudah diakses publik ketimbang buku. Bahkan, kini mulai ada kecenderungan bahwa film mulai lebih murah daripada buku. Mulai lebih banyak orang menonton film dibanding yang membaca buku. Orang lebih menunggu film daripada buku. Beberapa mulai "menyerah" membaca lantaran lebih memilih menunggu filmnya. Bahkan beberapa lagi mulai alergi dengan setumpuk huruf, kata, kalimat, tanda baca dan ratusan halaman tak bergambar sebagai sesuatu yang (amat sangat) membosankan.

Oleh karena itu, perdebatan "versi buku lebih baik daripada film" mulai menjadi samar. Siapa juga yang masih membaca buku?






(Saya!)
Reactions: 

Related

movie 8840774157399358778

Posting Komentar Default Comments

5 komentar

fahmi! mengatakan...

buat yg bisa sedikit meluangkan waktu, sebaiknya baca buku. karena kebebasan berfantasi itu lebih nikmat (imho). tapi yg super sibuk, ya terima nonton filmnya aja kali ya. tapi buat pembaca buku, bagusnya nggak usah nonton film karena nanti bikin sakit ati kalo visualisasinya nggak cocok sama fantasi. walopun paham betul kalo buku dan film itu 2 produk seni yg beda. tapi susahnya aku yg suka baca buku ini kadang suka penasaran pingin liat filmnya... hahaha :D

Helman Taofani mengatakan...

Bener banget si Mi...inevitable lah buat liat dua-duanya. Mencocokkan imajinasi yak.

PNMF mengatakan...

Hmmm.... Kadang2, setelah baca buku, kita jadi kecewa liat filmnya...

andRie mengatakan...

dulu kala senggang, n belum doyan film, suka mojok megang buku berjam2.
skr, enakan film deh.
ga capek mbaca dan membayangkan

Helman Taofani mengatakan...

Saya sendiri jarang membaca novel fiksi karena hampir yakin, kalo best seller pasti difilmkan (dengan jeda yang makin rapat). Hehehe...

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item