Multiwarna - Sydney Travelogue Pt. 12

Hari kedua di Sydney hendak diakhiri dengan agenda makan malam. Mengacu pada catatan kuliner di bagian ketujuh travelog ini, maka mencari ...



Hari kedua di Sydney hendak diakhiri dengan agenda makan malam. Mengacu pada catatan kuliner di bagian ketujuh travelog ini, maka mencari kuliner Asia adalah safe bet.

Di hotel (Mercure George St) ada makanan fusion, yang dipungkasi dengan satu kesimpulan dari Gina: tidak enak! Alhasil kami hanya bersantap roti bakar dan selai marmalade sebagai bekal arungi itinerari hari kedua.

Untuk makan siang, pihak Moonshadow Cruise di Port Stephens sudah berbaik hati dengan menyediakan nasi dan makanan halal sebagai menu pelayaran. Tapi nasi di sini bukan seperti nasi yang kita makan, rasanya. Keras dan jauh dari pulen atau wangi. Mungkin kentanglah satu-satunya stok karbohidrat yang benar-benar enak di Australia. Bahkan keripik kentang yang dijual kemasan juga sangat enak.

Anyway, kembali ke kuliner Asia, kebetulan hotel kami terletak tak jauh dari sentra imigran Asia terbesar se-Australia, yakni chinese quarter di Haymarket. Ada banyak pilihan kuliner di sana, yang dekat dengan citarasa Asia, dan dalam perjalanan ke sana sekalipun beberapa kali kami memapas restoran-restoran Vietnam. Tujuan kami adalah ke "pasar malam" Chinatown di dekat Sydney Entertainment Center yang diadakan setiap Jumat malam. Konon hanya diadakan bila tidak hujan. Namun, meski kala itu sedikit gerimis, keriaan pasar itu tetap ada, dengan pengunjung hampir 90% bukan ras kaukasia, melainkan mongoloid.

Tampak jelas visualisasi dari apa yang disebut "chinese quarter" yang menunjukkan bahwa Australia adalah salah satu negara destinasi imigrasi di dunia, terutama dari negeri tirai bambu. Kesan itu diperkuat dengan simbol gapura khas Cina yang menjadi signature chinatown di seluruh belahan dunia. Sejak era koloni awal, imigrasi memang sudah didominasi ras mongoloid yang membanjiri antrian. Orang China adalah imigran pertama yang datang ke Australia menyusul goldrush yang melanda benua ini, sekitar pertengahan abad ke-19.

Daerah downtown Sydney juga rasanya sangat multikultur. Kebanyakan toko dipunya oleh imigran, apalagi bila sudah mendekati chinese quarter. Di jalan, juga pemandangan normal bila berpapasan dengan rombongan pejalan yang terdiri dari satu etnis. Paling jamak terlihat memang dari Asia, entah itu Cina atau India. Mereka relatif distingtif dibanding dengan Kaukasia, yang sebetulnya banyak juga mengirimkan wakil imigrannya. Pemukim pertama di Bondi juga keturunan Israel dan Brasil. Negara Balkan dan Yunani punya lumayan banyak keturunan di Australia. Sopir bis yang kami tumpangi ke Port Stephens bernama Ratko, dan selidik punya selidik, ternyata dia baru datang ke Sydney tahun 2006 dari Kroasia.

Bagaimana dengan Indonesia? Setidaknya dua kali saya berbicara langsung dengan bahasa Indonesia. Yang pertama dengan ibu-ibu pemilik kedai es krim di Bondi, yang bersama anaknya ternyata datang dari Jakarta sekitar tiga tahun sebelumnya. Lalu seorang pramusaji di restoran Sydney Tower juga ternyata mahasiswi Indonesia yang nyambi bekerja. Dan entah berapa kali kami berpapasan di jalan dengan orang yang kami "suspect" sebagai kompatriot. Wakil dari negara kita lumayan banyak di Sydney, meski konon tak sebanyak di Melbourne yang menjadi destinasi pelajar Indonesia.

Impresi akhir dari hari kedua adalah melihat kemajemukan. Aroma multikultural memang kental di pusat kota Sydney. Warga "asli" yang notabene merupakan keturunan Inggris Raya memang lebih banyak tinggal di suburban. Ini adalah tonal lazim dari sebuah metropolitan, di seluruh dunia, yang menjadi palet warna dari berbagai ras, negara dan juga keyakinan.
Reactions: 

Related

travelogue 7870663010902935774

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item