Scenic World - Sydney Travelogue Pt. 15

Kini rentang waktu sudah terlalu lama, dari semenjak saya terakhir kali menulis mengenai petualangan 4 hari di negeri Kanguru. Beberapa me...



Kini rentang waktu sudah terlalu lama, dari semenjak saya terakhir kali menulis mengenai petualangan 4 hari di negeri Kanguru. Beberapa memori sudah mulai kabur. Jadi apa yang akan saya tulis di akhir-akhir ini mungkin lebih ke obligasi untuk tuntaskan sesuatu yang tertunda.


Akhir kali catatan ditutup adalah mengenai perjalanan ke barat, yang dihiasi dengan hinggapnya kami ke Featherdale Wildlife Reserve Park, guna mengamati dari dekat wujud sebenarnya dari fauna australis. Destinasi utamanya adalah untuk mengamati kekayaan natural Australia dalam bentuk monumen geologis, ke sebuah daerah rural di 110 kilometer barat kota Sydney yang bernama Katoomba. Seperti halnya dugaan Anda, saya pun menebak bahwa nama "Katoomba" tentulah bukan bawaan para kolonis Inggris Raya yang membuka permukiman. Kaum pendatang yang lebih dahulu tiba, yakni suku Aborigin adalah empu dari kota yang berada di lereng bukit ini.

Katoomba menawarkan paket "Scenic World" untuk melihat dari berbagai angle, keindahan-keindahan geologis dan hutan eucalyptus di sekitarnya. Yang paling terkenal, dan menjadi tujuan pertama setibanya di sana, adalah Echo Point. Semacam gardu pandang yang menampilkan vista langsung ikon area Blue Mountains, Three Sisters. Disebut demikian lantaran ada tiga buah "tugu" cadas raksasa yang menjulang, yang menurut saya malah mirip dengan visualisasi tapak Buddha di legenda Kera Sakti. Di sekeliling Three Sisters, nampak panorama menakjubkan dari Blue Mountains, yang merupakan bagian dari "Great Dividing Range" Australia (lihat notes "Pilgrimage to the West"). Itu adalah bukti sahih dari keberadaan tembok yang memisahkan bagian Australia.

Untuk memperkuat promosi vista Three Sisters, dewan turisme lokal lantas membuat bumbu-bumbu folklore yang sebetulnya lazim dan jamak di Indonesia. Taruhlah seperti legenda Sangkuriang dan Tangkuban Perahu, atau Roro Jonggrang dan Candi Prambanan. Tapi mitologi dan legenda macam itu tumbuh subur di negeri kita, yang memang rakyatnya lekat dengan tradisi mistis. Sementara di Australia, yang dominasi utamanya adalah ras kaukasia dengan alam logikanya?

Di sisi lain, pemberian latar folklor mengenai Three Sisters juga bisa dilihat dari upaya turisme untuk "menjual" wisata mengenai suku Aborigin. Bukan rahasia umum bila Australia lemah di wisata yang menampilkan khasanah budaya asli, lantaran penduduknya juga sebagian besar pendatang. Oleh karena itu, mereka melihat bahwa budaya Aborigin yang dulunya mereka perangi, kini menjadi potensi. Berbagai karya seni Aborigin banyak dijual di toko-toko suvenir, dari bumerang sampai instrumen musik tiup didgeridoo.

Selain di Echo Point, vista Three Sisters juga bisa dinikmati dari titik lain. Masih di Katoomba, rangkaian Scenic World membawa kami ke Scenic Railway. Bekas area tambang batubara yang terletak di bawah Echo Point. Daerah yang dulunya disebut dengan Lembah Jamison. Di situ, selain melihat tembok raksasa melalui kereta kabel (Scenic Skyway), juga menawarkan atraksi menerjuni lereng curam dengan kereta. Ini menapaktilasi aktivitas para penambang batubara di masa lampau, dari atas bukit, atau area yang dekat dengan kota Katoomba, menuju ke daerah di lembah yang kaya akan batubara. Konon, jalur ini tercatat sebagai rel kereta yang paling curam di seluruh dunia, dengan tingkat kemiringan hampir mencapai 52 derajat. Artinya beberapa derajat lebih curam dari sudut empatpuluh lima derajat yang menjadi standar jalur vertikal untuk kendaraan!

Landasan wahana ini adalah di sebuah lembah yang penuh dengan pohon eukaliptus. Suasananya sangat teduh karena cahaya matahari sangat minimal menembus masuk ke tanah, terhalang oleh berbagai barrier. Dari tebing yang membentengi lembah ini, sampai julangan pohon-pohon yang mirip dengan hutan kanopi di wilayah tropis. Saya dan Gina tertarik dengan sebuah papan pengumuman yang menuliskan bahwa di situ adalah habitat dari burung Lyra. Itu adalah burung luar biasa yang pernah kami tonton di acara dokumenter, dengan kemampuan luar biasanya meniru suara. Sayang burung ini cenderung "pemalu" dan kami hanya bisa membayangkan bahwa suara pekikan yang terdengar di hutan itu barangkali merupakan imitasi dari burung Lyra.

Dari bawah kembali ke atas, kami harus berjalan melewati hutan menuju pos Scenic Skyway yang akan mengangkut penumpang ke atas bukit, sambil melihat Three Sisters dari sisi lain (dari bawah). Destinasi di atas bukit adalah "markas" dari rangkaian Scenic World ini, yang juga tempat kami mengawali petualangan berkereta. Di depan bangunan markas Scenin World terdapat patung tiga orang wanita dan satu dukun Aborigin. Ini berkaitan dengan folklor yang saya tulis di atas, bahwa Three Sisters, alias tiga tugu cadas raksasa, konon merupakan penjelmaan tiga orang bersaudari yang diubah menjadi batu oleh sang dukun Aborigin. Di Indonesia, entah sudah berapa folklor yang menyebutkan kutukan menjadi batu...

Waktu menunjukkan pukul 2, dan itu tandanya kami harus segera bertolak lagi ke Sydney. Seperti biasa, itinerari di hari efektif terakhir ini juga tak luput dari padatnya jadwal. Reservasi makan malam menunggu kami di dermaga Circular Quay pukul 5 sore. Mengingat bahwa kami harus menempuh perjalanan menembus dua digit kilometer, maka lebih baik antisipasi lebih awal. Perjalanan ke Sydney akan ditempuh dalam waktu lebih kurang dua jam. Dan lagipula, bagi saya dan Gina, petualangan yang lebih menarik memang lebih ke petualangan kota. Passion kami di situ. Dan bila itinerari tepat, jam 6 sore sampai malam adalah waktu bebas kami untuk strolling Sydney.

So, goodbye Katoomba!
Reactions: 

Related

travelogue 386562468578800241

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item