5 Ekspektasi Ironis Surabaya

Kota nomer dua di Indonesia, konon. Demikian orang memandang Surabaya, sehingga ada ragam ekspektasi yang membayang bagi mereka yang bel...



Kota nomer dua di Indonesia, konon. Demikian orang memandang Surabaya, sehingga ada ragam ekspektasi yang membayang bagi mereka yang belum sempat mengalami sendiri markas Persebaya ini. Apa 5 besar ekspektasi orang terhadap Surabaya, yang pada kenyataannya tak terlalu tepat?

1. Second Largest City
Status sebagai "kota terbesar kedua di Indonesia", entah dalam konteks geografis atau metropolis, orang acap memandang Surabaya hanya berselisih tipis dengan ibukota, Jakarta. Gedung tinggi, flyovers, kemacetan akut, slums, kriminalitas, dan aneka gimmicks metropolis lainnya.

Maka, pertanyaan yang kerap muncul adalah: "Dimana pusat kota?". Bila yang Anda maksud adalah versi lain Jalan Sudirman, Jakarta, mungkin opsi terdekatnya adalah kawasan Basuki Rahmat, dengan julangan gedung tertinggi Plaza BRI. Namun desnitas skyscrapers di kota ini masih rendah. Kemacetan tak terjadi parah seperti Jakarta, karena jumlah penduduk tiap tahunnya selalu berkurang yang ironisnya bermigrasi ke ibukota. Flyovers dan signature struktural metropolis berlum terlalu nampak di ibukota Provinsi Jawa Timur ini. Morfologi kota -dalam tataran metropolitan- masih bersifat second grade-nya Jakarta. Pedamba hedon dan gemerlap urban acap tak betah di sini.

Gimmick metro lain? Kriminalitas tak segila di Jakarta. Koran lampu merah tak selalu penuh berita perharinya. Penataan kota juga masih lumayan berhasil tekan area slums meski sejumlah konflik status lahan masih kerap terjadi.

2. Dolly
Konon sebagai "lokalisasi terbesar di Asia Tenggara". Gelar yang lumayan menggertak. Orang lantas berasumsi bahwa Dolly adalah heavenly large "red district", seperti mal untuk pekerja seks komersial.

Adalah pertanyaan lazim pada banyak pendatang untuk tahu dimana dan seperti apa Dolly. Rata-rata akan kecewa kala melihat wujud langsung "Gang Dolly" yang memang hanya berupa gang. Sekitarnya, Jl Jarak juga merupakan pusat transaksi "kepuasan" dengan grade yang lebih rendah. Suasananya tak beda dengan sentra "lampu merah" lainnya, yang penuh dengan tatap tajam berhawa kriminalitas yang dibangun dari sindikasi preman pelindung kompleks.

3. Rock Capital
Era keemasan rock lawas, dibawah asuhan Log "Slebor" memang besar di Surabaya, termasuk (dulu) langgengnya Festival Rock yang menelurkan sejumlah nama macam Power Metal, Mel Shandy, Elpamas, Lost Angels (menjadi Boomerang), Andromeda (drummer-nya kini menjadi penabuh band Padi). Kota Buaya ini tak akan pernah lepas dari suara menggelegar di PA, "Selamat malam Surabayaaa! Are you ready to raaawk?".

Sesuai tren global, hal itu kiamat di era 90an. Semenjak Padi dan Dewa 19 menjadi simbol sukses, pemusik di kota Pahlawan juga mulai tinggalkan Festival Rock sebagai jalur karir. Imbasnya, kini Log malah bergantung pada daerah-daerah "pedalaman" untuk mencari bibit musik rock baru di Indonesia, seperti dari Kediri atau Turen. Orang Surabaya lebih sibuk bermigrasi ke Jakarta untuk dulang sukses dengan inspirasi Andra, Piyu atau Maya Eastianty. Tentu dengan formulasi "cepat sukses" ala mereka, bukan old-school rock seperti imej Surabaya.

4. Bonek
Hooligans versi Indonesia, kecuali mereka tak punya cukup uang untuk ke pub dan beli bir sendiri. Teror demi teror yang dilancarkan oknum suporter ini lantas mengapungkan tanya di segenap bangsa: "Bagaimana orang Surabaya hidup sehari-hari bersama Bonek, bila kota lain bergidik walau hanya dilintasi rombongan setan-setan hijau tersebut?".

Analogi hooligans memang tepat. Seperti halnya para kompatriot bonek asal Inggris mereka, Bonek Persebaya juga jarang rusuh di kota sendiri (jadi lebih "aman" dibanding Jakmania). Giliran matchday kandang Persebaya tak sampai membuat tweets berterbangan laporkan aktivitas Bonek di jalan-jalan. Macet (kecuali di kitaran Gelora 10 November) juga jarang terjadi.

Bonek tampaknya hanya berulah karena mob factor, yakni ketika mereka berkumpul dalam jumlah besar dan tak ada distractor seperti pertandingan sepakbola. Bonek roaming dari pelbagai penjuru kala ada pertandingan kandang Persebaya, jadi di dalam kota hampir jarang terjadi kerumunan. Dan ingat, biangnya Bonek juga tinggal di kota ini. Jadi, Surabaya tak pernah hidup dalam teror para Bonek. Untuk ini, saya ikut bersimpati kepada kalian yang hidup di kota lain.

5. Menyumpah
"Jancuk" mungkin menjadi salah satu umpatan yang paling terkenal. Frekuensi pengucapan yang lumayan tinggi di kalangan rantau asal Jawa Timur membuat kata tersebut lumrah dipakai sehari-hari. Lantas, orang mulai berpikir bahwa di Surabaya, umpatan dan kata-kata kasar itu hal yang santai diucapkan, seperti halnya lelakon Srimulat kala pentas.

Faktanya, meski nyaris tak ada kasta bahasa seperti di Solo/Yogya, namun bukan berarti Anda bisa bebas menyumpah. Nuansa egalitarian di Surabaya cukup besar, tapi legacy mengeluarkan kata-kata kotor tampaknya hanya hidup dalam fragmen urbanisasi perantau Jatim di kota lain. Di sini, mengeluarkan sumpah serapah tak seobral Kapten Haddock, dan beberapa (termasuk "jancuk") tetap berkonotasi (amat) kasar. Dengan tempramen keras, salah konteks atau ucap bisa berakhir dengan keributan. Maka, berhati-hatilah menyumpah, bila Anda tak ingin sial ditantang carok oleh orang Madura.
Reactions: 

Related

urban living 4064520663772156718

Posting Komentar Default Comments

6 komentar

Gina mengatakan...

Whoahahahaha, so true!

Helman Taofani mengatakan...

Bole tu ditambah faktor-faktor lainnya Mui.

Ipul dg. Gassing mengatakan...

nice...

nomor satu : betul.!!! waktu benar-benar mengunjungi Surabaya yaitu tahun ini saya baru sadar kalo ternyata emang jauh banget perbandingan Surabaya ama Jakarta. Surabaya hanya beda sedikit dari Makassar. 11-12 lah..gak kayak Jakarta yang perbedaannya bisa 11-22

nomor dua : mmmm..no comment, belum pernah liat langsung sih dan belum bisa membandingkan dengan red district lain. emang kamu pernah..?

nomor tiga : oh yeah..!! kangen sama SBY tahun 80-90an yang terlanjur dikenal dengan julukan : Kota Rock..

nomor empat : belum ngerasain bener soalnya di SBY cuma beberapa hari. tapi kesan yg saya dapat, SBY lumayan aman koq..entah dari para bonek atopun kriminal lainnya.

nomor lima : ooo..masih dianggap kasar ya..? di MKS ada beberapa umpatan yang dulunya dianggap kasar banget tapi kemudian mulai meluntur dan akhirnya jadi bahasa sehari2 dan hilang nilai ke-kasarannya.

Ipul dg. Gassing mengatakan...

eh btw...
itu fotonya ambil sendiri bukan..? :)

Helman Taofani mengatakan...

Red Districts di luar negeri literally kaya "shopping mal" untuk striptis, film porno sama esek-esek mas Ip. Dolly lumayan "terbuka" sih, tapi adanya julukan "terbesar se-Asia Tenggara" memang rada-rada overrated. Rata-rata yang udah liat langsung biasanya komentar: "segini doang"? Karena emang cuman se-gang.

Anyway, harusnya kemarin ada kredit fotonya. Itu karya temen wartawan foto Kompas Jatim. Nanti saya perbaiki. Thanks mas Ip!

Anonim mengatakan...

tulisan yang bagus,,
bener semua tu, klo dibilang beda sedikit dari makasar nggak juga, masih jauh kayaknya

ow ya..saya ijin kopas untuk dipost di sebuah forum-thread pembangunan ya gan..
ntar ane cantumin link blognya koq :)

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item