Monumen Biosfer Kuno dengan Banyak Cerita

Taman Nasional Lore Lindu yang berada di jantung Pulau Sulawesi menyimpan banyak cerita tentang salah satu bagian terbesar gugus Sunda ini...



Taman Nasional Lore Lindu yang berada di jantung Pulau Sulawesi menyimpan banyak cerita tentang salah satu bagian terbesar gugus Sunda ini. Kisah yang dibentangkan semenjak beribu tahun sebelum masehi.

Taman Nasional Lore Lindu yang berada di seputaran danau Lindu, membentang dari Poso sampai Donggala, merupakan salah satu habitat utama dari ragam flora dan fauna endemik Sulawesi. Dengan ketinggian 500 sampai sekitar 2600 meter dpl, Taman Nasional Lore Lindu menyediakan berbagai lapis jenis ekosistem, yang menjadi tempat menancap sejumlah vegetasi yang beragam. Jenis ekosistem dataran rendah, pegunungan sampai sub-alpen di puncak permukaan menjadi tempat hidup berbagai macam satwa. Data Departemen Kehutanan menyebut 117 spesies mamalia, 88 burung, 29 reptil dan 19 amfibi hidup di Lore Lindu, dengan separuh diantaranya endemis Sulawesi.

Ini adalah laboratorium hidup yang menahbiskan teori Sir Alfred Wallace, dalam bukunya The Malay Archipelago, mengenai keunikan fauna di region ini. Fauna wallacea, istilahnya, merupakan peralihan satwa Asiatik dan Australia. “Sulawesi adalah situs endemis nomer dua di dunia setelah Madagaskar,” ujar Jennifer Hile dalam National Geographic (12/12/2001). Di Lore Lindu, beberapa satwa yang menjadi sampel Wallace masih lestari. Sebut saja babi rusa, tarsius, kuskus, burung maleo dan spesies unik lainnya.

Habitat hidup flora dan fauna ini berdampingan dengan permukiman manusia, terutama etnis Kaili, Kulavi dan Lore. Keberadaan manusia di Lore Lindu bukanlah hal yang baru. Tercatat di sejumlah tempat, terdapat peninggalan purbakala dengan inkrispi tertua berupa benda megalit dari masa 3 milenia sebelum masehi!
Lebih dari 400 monumen megalit ditemukan di area Lore Lindu, dari yang paling kecil sampai berukuran "mega", mencapai 4,5 meter. Peninggalan pahatan granit ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia di sekitar danau Lindu memang sudah dimulai semenjak jaman prasejarah.

Dengan keragaman yang dimilikinya, Taman Nasional Lore Lindu ditahbiskan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO pada tahun 1978. Taman Nasional saat ini merupakan gabungan dari 3 buah kawasan, Cagar Alam Lore Kalamanta, Taman Rekreasi Danau Lindu dan Suaka Margasatwa Lore Lindu.

Seperti halnya taman nasional lainnya, Lore Lindu juga dihinggapi ancaman deforestasi. Berdasar studi kolaborasi Indonesia dan Jerman (STORMA), taman nasional ini digerogoti penyusutan sebesar 9% per tahun yang tentunya mengancam kehidupan di dalamnya.

“Dengan status sebagai Taman Nasional, mestinya ada tindak lanjut yang signifikan dari otoritas untuk melakukan perlindungan ke aset didalamnya,” ujar Reza Lubis, seorang pekerja lingkungan di sebuah NGO. Perhatian, kesadaran dan juga tindakan kini tentu diperlukan supaya monumen biosfer kuno ini tetap lestari dan bisa memberi cerita kepada generasi mendatang tentang keunikan Sulawesi.
Reactions: 

Related

random notes 8199191212093759554

Posting Komentar Default Comments

3 komentar

Ipul dg.Gassing mengatakan...

mau ke sini gak Man..?
ajak2 ya..:D

eh..itu si Mas Reza udah dari sini apa ya..?

Helman Taofani mengatakan...

Pengen bangeeet. Semakin sering nulis soal Sulawesi, semakin pengen ke sono. Gue pengen liat Yaki. Hehehe...

Mas Reza special edition tuh kemaren. Hehehe.

Ipul dg.Gassing mengatakan...

ya udah sempatin aja..tar ditemenin deh asal pas waktu liburan sekolah..
okeh..?

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item