Serangan Kilat Petik Hasil

Giornata kesepuluh Serie A Minggu (7/11) kemarin memertemukan Milan dengan tuan rumah Bari. Stadion San Nicola di Italia selatan tersebut ...



Giornata kesepuluh Serie A Minggu (7/11) kemarin memertemukan Milan dengan tuan rumah Bari. Stadion San Nicola di Italia selatan tersebut lumayan ramah buat Rossoneri dengan rekor tak terkalahkan yang bertahan 12 tahun.

Aura percaya diri nampak menaungi anak asuh Massimiliano Allgeri. Menyimpan beberapa starter regulernya, Milan turun dengan formasi alternatif 4-3-1-2 dengan menempatkan 3 gelandang pekerja di belakang trequartista, Clarence Seedorf. Ronaldinho dan Pato dicadangkan untuk memberi ruang pada duet Robinho dan Zlatan Ibrahimovic di depan.

Massimo Ambrosini dan Mathieu Flamini turun menjadi starter. Menggantikan Andrea Pirlo dan Kevin Prince-Boateng. Sementara di lini belakang, Mario Yepes masuk starter setelah Thiago Silva kembali masuk ruang perawatan.

Formasi yang lumayan fierce ini jelas beda dengan karakter reguler Milan yang cenderung "salon". Presumsi yang muncul adalah Milan akan coba patahkan kemungkinan dominasi Bari di lini tengah. Meski banyak perebut bola, namun tidak ada pengontrol macam Pirlo, sehingga bola akan lebih cepat dialirkan ke depan.

Menit keempat, Ambrosini sudah berhasil mewujudkan gaya taktis Milan kala menanduk umpan Seedorf. Kalah dalam dominasi penguasaan bola, Milan melancarkan serangan-serangan kilat yang akhirnya dikonversi Flamini setelah ia dibebaskan Ibrahimovic dari kawalan bek Bari. Flamini rayakan gol pertama sepanjang karirnya di Milan.

Di babak dua, strategi Allegri terbukti masih ampuh. Meski harus kecolongan dengan gol mantan pemain Milan, Vitaly Kutuzov, namun peluang Rossoneri jauh lebih banyak dengan beberapa kali melepas Robinho one on one dengan kiper Bari, Gillet.

Pato memperbesar keunggulan Milan, setelah masuk gantikan Robinho. Bari memertipis marjin dengan satu gol di menit akhir via Baretto.

Ini kali pertama Milan era Allegri tak dominan di dalam penguasaan bola. Meski tipis, namun tuan rumah menguasai bola lebih lama (52%). Hanya saja, Milan sudah terbiasa dengan strategi penguasaan minim semenjak era Ancelotti.

Berkat serangan cepat, formasi serang Milan luncurkan delapan peluang bersih (dari hanya 12 tembakan) yang seharusnya bisa dikonversi lebih banyak gol. Ignazio Abate dan Gianluca Zambrotta juga tak sering naik, sehingga Milan hanya catat 8 umpan silang (salah satunya berbuah gol).

Strategi ini sudah dicoba melawan Real Madrid, dan memang terbukti bahwa serangan kilat dalam skema ofensif Milan lebih efektif. Diferensiasi gaya striker Milan membuat mereka lebih fleksibel melahap semua jenis serangan.

Ujian format baru Allegri ini bisa dicoba kembali kala Milan jamu Palermo dalam laga midweek, Rabu (10/11) ini. Pertanyaannya adalah, bila Pirlo bermain - dobel fantastista - apakah flow serangan Milan bisa secepat kala melawan Bari?
Reactions: 

Related

serie a 6236857415854746974

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item