My Life, My Path

Apa sih, tujuan hidup Anda? Saya beruntung, telah menemukan jawaban pertanyaan di atas 4 tahun lalu. Sebelumnya, saya berpikir masih menj...



Apa sih, tujuan hidup Anda?

Saya beruntung, telah menemukan jawaban pertanyaan di atas 4 tahun lalu. Sebelumnya, saya berpikir masih menjadi objek tujuan hidup orang lain. Tak salah bila Anda berpikir itu orangtua saya.

13 Januari 2007, saya menikah. Awalnya saya heran mengapa orangtua acap "mellow" manakala mereka melepas putra-putrinya menikah. Bukankah menikah seharusnya momen bahagia?

Tentu saja, seremonialnya membahagiakan, termasuk agenda "belah duren" yang dinanti mempelai. Namun konsep menikah lebih dalam ketimbang legalisasi seks. Menikah, setidaknya bagi saya, adalah momen beralihnya status objek menjadi subjek, dari tujuan dan alasan besar hidup.

"Everybody need reasons," ujar Jason Bourne, untuk membenarkan petualangannya dalam trilogi film Bourne. Pun dengan kita, yang tersirat dan tersurat sudah banyak diresital melalui ajaran formal dan agama. Namun kadang sulit menerjemahkannya ke dalam tujuan objektif. Momen menikah, alhamdulillah, membuat saya bisa menemukannya.

Hidup, bagi saya, adalah untuk membuat orang yang saya cintai berbahagia. Awal pernikahan, secara simpel saya merasakan bagaimana "bahagia" ketika bisa membuat istri saya bahagia. Dari hal simpel seperti membawa pulang slip gaji, mentraktir makan, dan sebagainya yang sampai saat ini masih membawa euforia serupa layaknya 4 tahun silam. Apakah saya bisa bahagia bila orang-orang tercinta tidak bahagia?

Seperti halnya hidup, stage makin membesar kala jumlah orang tercinta makin besar. Juli 2009, anak pertama saya lahir. Ini sedikit kompleks karena bayi bukan orang dewasa yang bisa berkomunikasi dengan mudah. Maka untuk membuatnya bahagia, saya harus banyak belajar lagi. Tapi meningkatnya stage ini membuat hidup makin berarti, dan makin punya tujuan.

Dengan istri, dimensi bahagia berjalan paralel, karena kami ada di umur yang sama. Artinya, cara membahagiakan istri saya berjalan dalam koridor masakini. Masa depan kami songsong bersama.

Lain dengan anak. Dimensi kebahagiaan mereka ada dua, satu paralel dan satu serial. Paralel artinya kita harus mencukupi kebutuhan mereka bahagia pada masa kini. Anak saya, Aksara, bahagia bila ayahnya mengajak jalan-jalan pagi keliling kompleks rumah. Ia akan berjalan bangga, mengejar saya, dengan tawa. Anak (balita) itu tulus. Mereka bahagia dengan tertawa. Tapi dua tahun lagi, ketika mereka mulai mengenal kompleksitas kebutuhan, akan muncul tuntutan-tuntutan lain yang tak bisa hanya diukur dari senyum.

Lalu dimensi serial juga harus saya pikirkan. Kebahagiaan anak saya di masa yang akan datang masih menjadi tanggung jawab orangtua. Dalam hal ini, tujuan hidup yang lebih klise seperti "membuat dunia lebih baik" memang menjadi relevan. Hadirnya anak membuat kita memang memiliki visi ke depan untuk memastikan kebahagiaan keturunan kita di masa yang akan datang.

Itu juga yang dilakukan orangtua saya. Menjadi alasan berurai airmata mereka kala saya menikah 4 tahun lalu. Secara realistis mereka menemukan persimpangan dimensi paralel dan serial dari tujuan hidup mereka, untuk membahagiakan anak. Momen tersebut adalah ending dari menciptakan kebahagiaan untuk anak, sebelum mereka akan berubah menjadi pribadi individual yang mempunyai tujuan hidup sendiri.

4 tahun menikah, saya kini mengemban tujuan hidup yang konkret. Dalam skala paling dasar, saya senantiasa berusaha membahagiakan istri, putra dan putri saya. Objek terakhir baru saja diamanatkan Tuhan pada hari Selasa, 11 Januari 2011. Dua hari jelang peringatan 4 tahun komitmen hidup saya.

Saya hidup dan saya mempunyai tujuan. Happy anniversary, Gina Priadini. Selamat datang Magenta Aura Madani. Dan selamat menjadi toddler, Aksara Asa Madani. Saya cinta kalian semua.

*Ditulis di atas kereta, menuju ke kota yang akan membentangkan jarak 800 km dengan para pelita hati. Membuat saya selalu mengingat tujuan hidup saya.
Reactions: 

Related

random notes 476521797583769932

Posting Komentar Default Comments

3 komentar

Ipul dg.Gassing mengatakan...

wow...speechless..:)

happy anniversary to you both..semoga makin bahagia ke depannya

Helman Taofani mengatakan...

Amin!

Gina mengatakan...

Thanks for being just the way you are sayang :)

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item