[PJ20 Screening Aftermath] Bagian 2: Ekspektasi Fans

Dari tiga golongan umat yang membanjiri Epicentrum XXI, Selasa (20/9) lalu, satu bagian telah dijelaskan dalam catatan bagian pertama. Dan...



Dari tiga golongan umat yang membanjiri Epicentrum XXI, Selasa (20/9) lalu, satu bagian telah dijelaskan dalam catatan bagian pertama. Dan inilah catatan lanjutan, terutama dari persepektif saya sebagai penggemar berat Pearl Jam.



Golongan kedua penonton Pearl Jam Twenty adalah mereka yang simply ingin catch up Pearl Jam. Mereka tumbuh di era 90an, dan sepertinya kurang mengikuti Pearl Jam di era internet. Jadi, sumber informasi mereka tentang PJ masih berupa kutipan-kutipan legenda dari media massa saat itu. Sebut saja perseteruan Pearl Jam dengan Kurt Cobain, Ticketmaster, atau menolak video klip.

Film ini akan memuaskan mereka yang di golongan ini. Cameron tampak sedikit fokus manakala ia membahas tentang isu populer yang lekat dengan Pearl Jam tersebut. Banyak pencerahan yang bisa diambil terkait sikap mereka yang tidak membuat video klip untuk album kedua, Versus, padahal dengan sales-boost yang mouthwatering di minggu pertama (terjual 1 juta kopi).

Footage sidang Ticketmaster juga tampaknya bisa memberikan gambaran jelas mengenai latar sikap mereka dengan testimonial Stone dan Jeff di kongres. Lalu gem yang dinanti oleh umat grunge tentunya klarifikasi mengenai perseteruan dua nabi besar di agama mereka, Nirvana (melalui Kurt) dan Pearl Jam. Saya yakin, mereka yang menonton sekarang mempunyai pandangan lebih balanced mengenai salah satu mitos perseteruan terbesar di era Rock N Roll ini.

Namun masalahnya adalah, hal-hal itu sudah jamak diketahui para die-hard Jamily, penggemar fanatik PJ, yang notabene menjadi komposisi mayoritas jamaah penonton malam itu (golongan ketiga). Footage yang diberikan Cameron tentulah hanya menjadi bukti sahih visual dari apa yang pernah mereka baca. Dansa Kurt dan Eddie sudah lama beredar di kalangan fans, dan akhirnya kita bisa melihatnya. Begitu juga dengan excerpt Stone dan Jeff yang mungkin sudah dihafal para penggemar, akhirnya bisa ditangkap dalam bentuk audio-visual.

Die-hard Jamily yang masih mengikuti band di era internet (The Last Ten Years) tentu paham dengan konsep "open source" mereka. Arsip Pearl Jam hampir semuanya beredar di kalangan penggemar, sehingga menonton jalinan footage ini tak akan sama rasanya seperti halnya dua golongan lain. Penggemar berat sepertinya ingin melihat dari perspektif "outside looking in". Angle penceritaan yang seolah (akan) menjadi pembela kredo mereka menggemari Stone cs.

Di situlah narasi Cameron melalui Pearl Jam Twenty terekspos kekurangannya. Sisi fans misalnya, yang notabene merupakan bekal kuat eksistensi PJ di masa kini, tidak terungkap dengan tuntas. Lalu pendewasaan band melalui sisi musik yang juga rasanya tak terlihat - apalagi sesi album yang mewakili hal itu, No Code, juga di-skip. Ini yang awalnya sempat saya rasakan pasca menonton. Padahal dua hal itu adalah great divide kenapa saya membagi klasifikasi penggemar Pearl Jam menjadi dua dalam bahasan ini.

Ada sedikit "pesan" yang sebetulnya (sebagai penggemar berat mereka) ingin bisa sampai ke penonton awam. Saya berharap Cameron akan lebih blatant menjelaskan dua proses di atas, namun yang muncul adalah footage-footage simbolis. Episode Singles Release Party, Grammy Award, Roskilde, dan juga perencanaan setlist sebetulnya secara tersirat menggambarkan hal itu, namun belum tersurat.

Skala epik dari beberapa arsip konser juga mungkin akan lebih bagus - untuk general audience - mendapatkan porsi yang lebih panjang. Presedennya adalah mood penotnon yang (menurut saya) menaik kala footage konser ditampilkan lumayan panjang (misalnya stage dive Vedder di Pink Pop 1992, koor Better Man di New York, atau Blood).

Durasi tentu menjadi handicap. Seperti yang dibilang Cameron pada awal project. Mengompilasi 2000 jam lebih footage menjadi 2 jam tentu tidak cukup. Dan inilah rasanya alasan yang bisa diambil mengapa konsep film dibuat menjadi seperti scrap book, menampilkan kolase footage. Storytelling dibiarkan "open book", dengan detail-detail berbicara. Bandingkan dengan Almost Famous, Singles, Jerry Maguire, dan sebagainya yang juga berbicara dengan bahasa yang sama.

Informasi lanjutan dari Tenclub juga mengonfirmasi hal itu. DVD Pearl Jam Twenty akan dirilis dalam format berdurasi ekstra, yakni dua kali lipatnya! Empat jam tentu akan lebih merekam apa yang saya tulis di atas mengenai celah yang masih harus diisi. Dan manakala saya scroll ke bawah (di situs Tenclub), mengenai apa yang ada di dua jam ekstra, maka puji Tuhan!

Satu ekstra berjudul "The Kids Are Twenty", dan satu lagi berjudul "The Fans Are Allright". Saya berbicara tentang proses "mutasi" konsep band dan ekspose penggemar, bukan? Apa yang Anda tangkap dari judul ekstra DVD tersebut?

Jadi kesimpulan akhir dari catatan ini adalah: dari tiga umat yang ada di gedung bioskop untuk menonton Pearl Jam Twenty semalam, mungkin golongan yang paling puas adalah golongan kedua. Mereka yang mungkin imannya terhadap Pearl Jam terbarukan. Golongan pemerhati sinema bisa menghasilkan amplitudo resepsi yang berbeda, tergantung selera. Namun bagi fans berat tampaknya bukan versi bioskop yang bisa mengguyur dahaga mereka.

Bersiaplah untuk menyambut DVD Pearl Jam Twenty!
Reactions: 

Related

pj20 7461985652841774940

Posting Komentar Default Comments

6 komentar

iPul dg.Gassing mengatakan...

oke...
mari menabung..!!!

Helman Taofani mengatakan...

Markibung...

Anonim mengatakan...

DVD-nya bakal di jual disini? Atau bro hilman punya penjelasan lengkapnya?

Helman Taofani mengatakan...

Mas Anonim:

DVD-nya bakal rilis lokal (tapi kemungkinan versi standar - film dan bonus footage). Di website Pearl Jam ada DVD Deluxe, isinya 3 DVD dengan total durasi sekitar 6 jam (masing-masing 2 jam). Ada juga BluRay cuman di website Pearl Jam.

Keke Agestu mengatakan...

haha, imannya terbarukan, gue banget itu. tersiram lagi sih tepatnya :D anyway, didn't see u that nite, takut salah orang juga, sempat beradu pendapat sm pacar gue tentang 'yg mana hilman' haha....

Helman Taofani mengatakan...

Saya juga mencari Miss Pullitzer, hehehe. Waktu sebelum masuk kita lebih sering di depan konter Pop Corn. Usai film langsung pulang cepet-cepet karena anak menunggu. Next time yak.

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item