Re Foursquare-ing

Saya berhenti "main" Foursquare , sebetulnya, sekitar satu setengah tahun lalu. Beberapa alasan yang melatari keputusan tersebut...

Saya berhenti "main" Foursquare, sebetulnya, sekitar satu setengah tahun lalu. Beberapa alasan yang melatari keputusan tersebut antara lain: jumper, data yang kurang akurat, dan kuasa mayorship yang turun (waktu itu). 

Aplikasi ini sebetulnya sangat berguna. Bagi traveler, bisa dengan cepat mencari tahu lingkungan yang masih asing melalui Foursquare. Misalnya dengan mencari tahu ada apa di sekitar area yang bisa membantu. Informasi seperti tempat makan, pasar, dan sebagainya bisa dicari dengan me-load "places" di Foursquare. Cukup penting juga untuk mengikuti aturan main Foursquare mengenai tata cara penulisan, akurasi lokasi, dan meninggalkan tip atau informasi yang berguna.

Sayangnya, banyak yang masih menganggap aplikasi ini hanya dari sisi permainan. Banyak yang menggunakan Foursquare untuk mengejar badge yang ditawarkan. Inilah yang memicu fenomena "jumper". Orang yang sebenarnya tidak berada di lokasi, tapi tetap check in menggunakan trik-trik khusus. Fenomena ini pernah dikeluhkan user luar Indonesia. Mereka bahkan sempat mengusulkan agar orang Indonesia di-ban dari Foursquare. Sedihnya, di timeline saya (karena Foursquare terhubung Twitter) sering dijumpai para jumper, yang membuat saya kecewa.

Yang kedua adalah manajemen data lokasi. Karena koneksi sering aneh, kadang kita sering load lokasi yang tidak sesuai. Ini memicu duplikasi tempat, di mana banyak yang tidak menyadari bila satu lokasi sudah diciptakan entry-nya. Hal seperti ini sebetulnya sempat dijembatani dengan kehadiran "super user" yang membantu manajemen. Tapi saya dan banyak pengguna mungkin tidak terlalu tahu mekanisme para "super user" tersebut bekerja. Plus, mengapa mereka mendapatkan privilese sebagai "super user" sementara yang lain tidak.

Selain duplikasi, hal yang cukup mengganggu adalah informasi lokasi yang tidak sesuai. Misalnya kita berada di warung indomie dan kopi milik Alex. Lalu ketika kita memuat lokasi, yang keluar adalah "Alex Cafe" dengan deskripsi dan kategori yang lebih merujuk ke kafe pada umumnya. Masalah seperti ini dulu sempat bisa dipecahkan dengan sistim mayorship. Pengguna yang menjadi Mayor di suatu lokasi bisa mengubah nama dan deskripsi. Ini dulu bisa saya pakai untuk memperbaiki informasi dan penamaan. Sistem kuasa mayorship untuk editing ini sempat hilang. Penyebabnya, karena banyak user yang menggunakan mayorship secara abusive. Mereka mengganti informasi-informasi tempat dengan tidak bertanggung jawab. Ini juga merugikan bagi yang ingin menggunakan mayorship untuk tujuan positif. Ketika kuasa ini hilang, artinya kita tinggal punya satu pilihan. Yaitu membuat venue tandingan, yang akan berujung pada duplikasi. Itu artinya kembali pada masalah di dua paragraf sebelumnya.

Nah, sekarang saya kembali "bermain" Foursquare. Masalah-masalah di atas masih terjadi. Namun saya lebih santai menanggapinya. Mayorship bukan incaran bagi, demikian juga kesempurnaan informasi lokasi. Yang saya incar adalah konsep micro-blogging-nya yang bisa mengabarkan update status lokasi saya. Hal ini sering dilakukan juga oleh non-pengguna Foursquare. Bila memang ada tool untuk update lokasi, lebih sahih rasanya menggunakan hal itu dibanding tetap memuat via Twitter atau fitur geo-tagging mereka.

Selain itu, saya juga masih bisa kembali ke khittah untuk memanfaatkan Foursquare seperti tujuan ideal.
Reactions: 

Related

random notes 1601626303860577336

Posting Komentar Default Comments

2 komentar

obed mengatakan...

Memang aplikasi ini cocoknya untuk traveler, at least untuk cari makan yang aman dan tidak mengecewakan... :D

obednugroho.net

iPul Gassing mengatakan...

3 tahun berlalu setelah postingan ini...
apakah bapak masih menggunakan Foursquare?

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item