Menatap Final

Ternyata sudah 5 tahun lamanya saya tak bersua dengan final di urusan kompetisi Eropa. Ada selingan sedikit pada tahun lalu dan dua tah...


Ternyata sudah 5 tahun lamanya saya tak bersua dengan final di urusan kompetisi Eropa. Ada selingan sedikit pada tahun lalu dan dua tahun sebelumnya, ketika timnas Indonesia gagal di final Piala AFF dan Sea Games. Tapi dalam konteks sepakbola Eropa, atmosfer final terakhir yang saya kecap adalah final Liga Champions Eropa tahun 2007 antara klub idola saya, AC Milan melawan Liverpool.


5 tahun ini adalah paceklik final dalam kaidah turnamen. Berbeda dengan 5 tahun ke belakang dari 2007 yang sarat dengan drama. Sebelum prestasi tahun 2007, saya mengalami sukses Piala Dunia bersama Italia di 2006, kegagalan pahit Istanbul 2005 bersama Milan, dan juara dengan klub yang sama tahun 2003. Sepanjang sejarah mendukung klub atau timnas yang sama – dari 1996 – rentang lima tahun adalah yang terpanjang saya tidak merasakan partai final pada turnamen. Tahun 2000, Italia masuk final, yang dulunya jeda terpanjang – 4 tahun – sejak saya beriman ke sepakbola circa Piala Eropa 1996.

Tahun ini Italia mencatat prestasi bagus dengan maju ke final Euro 2012 di Ukraina dan Swedia. Hanya saja, lawannya adalah tim legendaris yang akan mengingatkan nasib buruk Azzurri kala bertemu Brasil terbaik di 1970. Spanyol, lawan mereka di final 2012, adalah juara Eropa 2008, juara dunia 2010, dan tim yang masih menggenggam strategi terbaik di dunia. Individu berbakat terus bermunculan dari negeri matador. Pemain muda terus dicetak, dan identitas permainan selalu disempurnakan. Italia bertemu dengan mereka di final, dan baru saja rekor baru tercipta. Rekor mempertahankan gelar Henri Delauney pertama, dan rekor selisih gol di final. Harum bagi Spanyol, dan Italia dikenang sebagai tim yang mampu mewujudkan hal itu – dalam perspektif lowbeat tentu.

Saya berhenti berharap praktis pada babak kedua ketika Azzurri harus bermain dengan 10 pemain. Ketika fullteam saja Spanyol sudah sangat merepotkan dengan aliran bolanya. Thiago Motta yang diplot sebagai anti-tiki-taka justru menghilang membawa cedera pahanya. Bencana bagi Italia. Skor telak 0-4 harus mereka telan, kekalahan terbesar di final yang memupus rekor buruk Luigi Riva cs di Piala Dunia 1970 (kalah 1-4 dari Brasil-nya Pele).

Sebetulnya ini adalah kekalahan yang wajar dan mutlak. Dibanding dengan kekalahan-kekalahan konyol yang sering saya dapat di periode final dari 2000 sampai 2005. Ketika Jordi Alba memasukkan bola, feeling saya sudah bulat bahwa ini adalah tahunnya Spanyol. Tanpa perlu harus menunggu Motta cedera atau dwigol pemain Chelsea di penghujung laga, Italia sudah memainkan requiem sebelum peluit jeda berbunyi. Kondisi skuad yang burnout di semifinal jadi biang petaka. So, di atas kertas dan di atas lapangan bersepakat menjadikan La Furia Roja sebagai kampiun. Bukan kekalahan konyol memang.

Paceklik final membuat penerimaan hasil ini sedikit berbeda. Hati saya, dan juga jutaan penggemar Azzurri lainnya, tentu sama teririsnya. Kami berduka karena gagal menerbangkan impian ke langit biru yang sudah terlanjut dibubungkan ketika menghentikan Jerman di semifinal. Dan yang membuat lebih sedih, ada jarak konkret dari sisi level yang memisahkan kedua finalis, dengan para tifosi berada di hemisfer bawah.

Kekalahan kali ini masih mencerminkan simbol ketertinggalan calcio Italia, generalissimo dari sebab-musabab masa paceklik final semenjak 2007. Bila mengaca sejarah, dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun bagi Italia untuk bisa kembali ke final sejak 1970. 12 tahun berulang dua kali, disusul enam tahun tiga kali. Ada dua hal yang bisa dilihat. Gelas kosong mengajarkan bahwa kemungkinan tercepat Italia maju ke final adalah pada 2018 – Piala Dunia di Rusia. Gelas isi melihat dari rasio yang dibabat – dari 12 ke 6. Selanjutnya empat atau dua?

Melihat performa asuhan Cesare Prandelli, antara Piala Dunia 2014 atau Piala Eropa 2016 adalah saat tepat bagi Azzurri untuk maju ke final. Harapannya tentu ia akan berada di hemisfer pemenang.
Reactions: 

Related

italy 5130764870123390219

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item