Tutti Sul Campo

Bertatap muka kadang tak menjawab pertanyaan.


Bertatap muka kadang tak menjawab pertanyaan.


Ketika nama saya terdaftar sebagai peserta Meet and Greet dengan Paolo Maldini, Sabtu (9/2) lalu, sejuta pertanyaan mengapung di benak. Pertanyaan untuk saya sampaikan manakala nantinya bertemu dengan Il Leggenda yang telah turun dalam 600 lebih pertandingan bersama AC Milan.

Saya sadar bahwa mungkin tak akan sempat untuk sepuluh, lima, bahkan tiga pertanyaan. Jadi saya menyingkirkan "Kekalahan mana yang paling menyakitkan, Rotterdam 2000, Korea Selatan 2002, atau Istanbul 2005?". Menyisakan satu pertanyaan akbar, "Bagaimana kau ingin jagad sepakbola mengenangmu: sebagai bek kiri atau bek sentral?"

Bagi saya, itu adalah pertanyaan mahapenting karena melandasi apa yang saya puja dari sosok Paolo Maldini. Maldini adalah Diego Maradona di lini yang paling hina dalam sepakbola: bek. Ia berkelas, teknis, dan konsisten. Perkara ia ganteng, demikian juga dengan jutaan pemain Italia lainnya. Personalitinya juga tak terlampau menonjol, saya hanya bisa menduga seperti apa ia di luar lapangan.

Maka, dengan kesempatan bertatap muka yang ditawarkan penyelenggara laga AC Milan Glorie, saya berharap bisa memperdalam dimensi yang sudah saya akrabi semenjak 1994 sampai pensiun tahun 2009 ini.

Dalam nomor registrasi ulang, saya adalah peserta nomor 201 dari sekitar 230 orang yang beruntung. Artinya, ada ratusan penggemar di depan saya, dan dalam konstelasi tempat duduk yang diatur, itu sungguh tak menguntungkan.

Ballroom yang menampung acara Meet and Greet penuh sesak dengan orang beratribut Milan. Hanya 3 yang memilih angle lain dengan berbaju timnas Italia, tempat Paolo berkeringat dalam ratusan laga.

Acara diawali dengan sesi tanya jawab, seyogianya akan bisa membantu jutaan pertanyaan preset tadi. Tapi apa lacur, sesi ini sangat chaotic, dengan jubelan acungan tangan dan teriakan mendominasi sehingga yang muncul adalah pertanyaan dasar.

"Bagaimana Paolo, apakah kamu suka Indonesia?"
"Kapan Milan sebenarnya akan datang?"
"Apakah kamu ingin jadi pelatih?"

Dua pertama tentu jawabannya normatif, dan pertanyaan ketiga selalu diuraikan tegas dalam berbagai wawancara: "No!"

Lalu dimulailah sesi tanda-tangan dan foto bersama. Urut sesuai nomor. Artinya, saya baru akan bertemu dengan Maldini di penghujung acara, saat ia sudah muak memberi tanda-tangan, dan senyumnya lelah untuk berfoto. Dan benar saja, sejak nomor seratus empatpuluh sekian, barisan disuruh bergegas lantaran sang kapten belum makan siang dan dalam beberapa jam akan berlaga di Senayan.

Melayanglah angan untuk bersama dalam bahasa Italia yang telah saya siapkan.

"Ciao Paolo, come sta? Vorrei questione. Come essere ricordato, difensore sinistra o difensore centrale?"

Saya hanya bisa membuka gulungan poster yang saya siapkan untuk diparaf. Satu tanda-tangan dan satu foto, wanti-wanti panitia sejak jauh hari.

Karena sudah mengantri ratusan orang, saya sudah familiar dan tidak lagi penasaran seperti apa Il Bandiera berwujud. Menit yang menguap untuk mengantri saya habiskan untuk melihatnya yang selalu duduk di podium menunggu satu demi satu sampai tiba giliran saya. Tak ada lutut gemetar atau gagap bicara.

"Ciao Paolo, would you please sign this poster for me?"

Ia sangat fasih berbahasa Inggris. Segores lalu foto bersama.

"Grazie mille, grandissimo!"

Sesi saya tuntaskan, dan segera keluar menunggu hasil foto. Impresinya senang, tapi tidak meluap terharu, sesuai sangkaan orang yang mengenal saya sebagai Milanista dan tifoso Azzurri sejak lama.

Usai acara, saya bergegas menuju Stadion Gelora Bung Karno untuk bersiap menonton AC Milan Glorie. Saya duduk di bangku yang cukup dekat dengan lapangan untuk menanti para veteran Milan ini masuk lapangan.

Lalu masuklah ia, si nomor 3.

Beberapa jam sebelumnya saya bersua, tapi ketika ia di lapangan, auranya tampak lain. Postur berdirinya, tangan melipat membentuk segitiga yang khas ketika menerima bola. Saya bergetar ketika menyaksikan langsung Maldini masuk lapangan. Inilah rupanya yang saya tunggu.

Bertahun-tahun, saya melihatnya di lapangan dengan perantara televisi. Dan kini ia menginjak rumput di depan mata saya. Perasaan ini sesungguhnya lebih mendebarkan ketimbang berjumpa dalam sesi Meet and Greet. Saya tidak terlalu mengenal sosok yang menanda-tangani poster saya. Tapi saya jelas tahu si pemilik tinggi 182 cm yang menjelaskan segalanya di lapangan.

"Saya memilih untuk dikenal sebagai bek kiri."

 Ia menjawabnya dari lapangan. Kesimpulan ini saya ambil lantaran ia bermain sebagai difensore sinistra sepanjang pertandingan. Maldini adalah pebola yang hanya berbicara di lapangan. Kharismanya muncul dari sifat-sifat pebola. Oleh karenanya, saya memahami keputusannya untuk tak terjun sebagai pelatih.

Saya pikir ia memang ingin dikenang sebagai pemain hebat di lapangan. Rasanya, kita semua tak berkeberatan dengan hal itu. Saya tidak punya banyak cerita mengenai sosok Paolo meski bersua amat singkat. Segalanya bisa dilihat di atas lapangan, dan kesimpulan Anda sama dengan saya.

Tutti sul campo.
Reactions: 

Related

tifoso 3899092581789957373

Posting Komentar Default Comments

4 komentar

anbhar mengatakan...

iri......

denun mengatakan...

Membacanya dengan bergetar, sesekali menyungging senyum, tak iri hanya bangga sebagai fans Italia :))

tule mengatakan...

Sumpah saya juga bergetar dan merinding membaca tulisan ini. Sebagai seorang il capitano dan pemain belakang, Paolo dihormati oleh rekan setim maupun lawan. Forza Milan : klub sepakbola tersukses di dunia

Alif mengatakan...

Tulisannya bagusss..., idola kita sama PAOLO MALDINI tp saya melewatkan kesempatan februari lalu, ah smoga suatu saat bisa kayak bang helmantaofani :)

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item