Haji Kuota, Haji Seragam

Lantaran mengikuti penyelenggaraan haji dari Kementerian Agama, alias haji kuota, maka jamaah wajib mengikuti kurikulum yang digariskan....


Lantaran mengikuti penyelenggaraan haji dari Kementerian Agama, alias haji kuota, maka jamaah wajib mengikuti kurikulum yang digariskan.

Bicara kurikulum, ia adalah standardisasi untuk memudahkan manajemen massal. Jamaah haji Indonesia rerata berusia 45 tahun ke atas, tersebar dari berbagai provinsi. Potret negeri ini bisa dilihat dari pemerataan kesejahteraan dan profil edukasi. Oleh karena itu, kurikulum tentu memudahkan.

Sejak awal, dari manasik, ada pembekalan mengenai cara anmenggunakan kartu akses hotel. Lalu tata cara toilet duduk. Menggelikan bagi warga kota (Jawa), tapi realitanya banyak jamaah yang benar-benar menemukan hal ini sebagai sesuatu yang baru.

Bawaan sudah diatur seragam. Satu koper besar, satu cabin luggage, dan satu tas tangan. Semua tas dan koper juga seragam. Tak boleh ada sisip tas lain. Koper besar dikumpulkan H-2 sebelum berangkat untuk dikirim langsung ke maktab.

Saya teringat beberapa kisah legendaris mengenai bawaan jamaah Indonesia. Ada yang membawa minyak goreng, panci, abu gosok, dan yang lazim adalah bawang goreng.

Selain tas, kain ihram, mukena, dan pakaian juga tak luput diseragamkan. Setidaknya ada batik, baju santai, serta rompi. Semuanya tertulis jelas asal negara dan embarkasinya. Rasanya akan mudah menemukan sesama orang Indonesia di Arab, tapi susah menemukan particular Indonesian lantaran semuanya seragam.

Obat-obatan dan kartu telepon juga distandarkan. Kita juga diberi gelang yang digrafir nama, asal negara, dan nomor paspor!

Di luar detil itu, itinerari sebagai hal yang penting tentu juga harus seragam. Ketua Regu sudah dibekali to-do-list dari anggota.

So, haji kuota memang amat membatasi jamaah yang ingin berimprovisasi. Makanya banyak yang kini pergi dengan status haji non kuota. Bagi traveler mandiri, hal seperti itu tidak masalah. Tapi bila tidak membekali diri dengan baik, bisa jadi beban.

Sekali lagi, ratusan ribu jamaah mempunyai dinamika. Rasanya ini adalah the largest organized travel group in the world. Kurikulum digunakan sebagai manajemen massa dan basis standar layanan yang bisa menjangkau seluruh jamaah.

Saya berangkat bersama 300-an orang dalam satu rombongan kloter. Berangkat dinihari, jamaah berbatik hijau tertib memasuki asrama haji Donohudan. Berbaju sama, bawaan sama. We looked like herds.

Mungkin ini baru impresi awal, karena toh nantinya kita berduajuta juga akan seragam berkumpul di satu tempat.

Di Arafah.

Related

travelogue 8938405429161057431

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item