Duabelas Kilometer Jalan Sehari

Nasib kloter akhir dan dari kota kecil barangkali menentukan maktab yang kami tempati. Jujur, saya tidak tahu bagaimana rerata kondisi se...

Nasib kloter akhir dan dari kota kecil barangkali menentukan maktab yang kami tempati. Jujur, saya tidak tahu bagaimana rerata kondisi seluruh maktab lainnya.


Sesuai edaran Kementerian Agama, disebutkan kami menghuni maktab di daerah Jarwal, lebih detail lagi di hotel Burj Wahdah. Ketika saya google map sebelum berangkat, saya gagal menemukannya.

Ternyata, maktab kami tidak persis di Jarwal. Jarwal adalah distrik di utara Masjidil Haram. Sedangkan kami di barat laut, dekat daerah Bibyan di pinggir jalan Mansur. Jadi panitia haji menyebut wilayahnya sebagai Bibyan Syari Mansur.

Panitia menyediakan shuttle service ke masjid yang beroperasi 24 jam. Jadi maktab manapun tidak begitu masalah sebenarnya, yang perlu diketahui tinggal lokasi halte.

Nah, jelang hari raya haji (8-13 Zulhijjah), shuttle service dihentikan sementara. Terhitung sejak 4 Zulhijjah (atau Senin, 29 September), kami harus mencari rute sendiri untuk ke masjid. Pilihannya tentu bisa memakai taksi atau jalan kaki.

Setelah mempelajari rute, saya memutuskan untuk jalan kaki. Ini adalah the best possible way to travel. Sepanjang rute kita bisa menyaksikan beragam objek yang menarik. Dalam kasus ini, saya bisa lewat ke daerah Bir Tuwa. Di sini terdapat sumur yang konon sering digunakan mandi oleh Muhammad.

Sebelum jalan saya set Endomondo untuk menghafal rute, menghitung jarak, dan kalori yang terbuang.

Dari hotel, rute banyak melewati maktab dari negara lain. Saya sudah menyebut Benin di tulisan terdahulu, kali ini bertambah Senegal. Tak berapa jauh dari maktab Senegal ada maktab Indonesia lain, maktab H6.

Ketika melihat daftar rombongan yang menghuni maktab, ternyata salah satunya adalah rombongan Tangerang Selatan, daerah tempat tinggal saya saat ini. Dulu, untuk daftar haji kami beralih domisili KTP ke Temanggung. Kini kami ber-KTP Tangsel. Andai berangkat via Tangsel, maktab kami ya di H6 itu. Jodoh tidak akan ke mana-mana.

Selewat dari maktab Tangsel adalah shouk (pasar) Bir Tuwa. Banyak kios-kios di sini dan suasana juga sangat ramai. Maktab Nigeria, India, dan Malaysia berkumpul di wilayah ini.

Saya sempat disapa jamaah Malaysia yang bertanya di mana beli rendang dan nasi Indonesia. Di maktab kami kebetulan ada kedai Haramain yang menjual makanan Indonesia otentik seperti telor balado, sayur bening, sop, dan sebagainya.

Shouk Bir Tuwa akan tembus ke jalan besar Ummul Quro yang menuju Masjidil Haram, tepat di seberang hotel Makkah Grand Coral. Dari sini jalan menanjak sekitar 350 meter lalu turun menuju masjid.

Masjidil Haram memang dibangun di lembah dan dikelilingi bukit. Dulu celah masuk paling mudah adalah dari sisi selatan dan timur. Sekarang bukit-bukit ini diterjang jalan sehingga orang bisa berdatangan dari banyak penjuru.

Arah kami datang tepat dari sisi barat masjid. Jalan akan berakhir di plaza depan Bab al Malik Fahd (King Fahd's Gate).

Sampai di masjid, saya matikan Endomondo. 2,8 kilometer, 35 menit jalan kaki, dan 270 kalori terbuang. Total digabung jalan di dalam masjid (yang amat luas) mungkin terkumpul sekitar 3 kilometer.

Kami pulang-pergi ke masjid dua kali. Jelang subuh dan habis asar. Jadi dalam sehari kami jalan sejauh 12 kilometer dan membakar sekitar 1000 kalori. Bonusnya adalah jus buah dan chicken nuggets (nejets) dari kios kebab di pasar Bir Tuwa.
Reactions: 

Related

travelogue 5168232312686765239

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item