Yang Datang dan Yang Pergi

Dua pekan sudah kami meninggalkan tanah air untuk melaksanakan ibadah haji. Masih ada sebulan lagi, tapi prosesi ibadah haji kami sudah s...

Dua pekan sudah kami meninggalkan tanah air untuk melaksanakan ibadah haji. Masih ada sebulan lagi, tapi prosesi ibadah haji kami sudah selesai.


Dengan selesainya tawaf ifada pada 14 Zulhijjah lalu (di Makkah, saya agak lupa dengan hari dan tanggal masehi), rukun-rukun haji sudah kami tunaikan dan berharap segala prosesnya makbul.

Di maktab, tempat penukaran uang mulai ramai. Ada dua arah penukaran. Yang pertama, jamaah seperti saya yang ibadah hajinya sudah selesai, tapi masa tinggal masih lama. Peak season akan segera berakhir, pedagang murah akan mulai beranjak. Uang riyal perlu disuntik. Jadilah lembaran uang merah rupiah ditukar dengan gambar Ibnu Saud.

Yang kedua adalah jamaah gelombang pertama yang bersiap pulang. Sisa riyal mulai dihitung. Di tempat penukaran mereka mulai menjual riyal dan kembali memeluk gambar Soekarno Hatta.

Kurs saya membeli riyal setara dengan 3375 rupiah. Agak naik dibanding hari-hari pertama yang mencapai sekitar 3200 saja. Sedangkan mereka yang menjual riyal hanya dihargai 2800 rupiah. Perbedaan hampir 500 rupiah lumayan juga.

Padahal dengan sedikit ukhwah, jamaah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Jamaah yang butuh riyal, dari gelombang kedua seperti saya bertemu dengan jamaah yang butuh rupiah seperti gelombang kedua. Katakanlah kita bertemu di angka 3000, everybody happy.

Jamaah yang mulai pulang juga akan membawa signifikansi kenyamanan beribadah. Privilese ini sudah dirasakan mereka yang datang pada gelombang pertama kala merasakan Baitullah masih relatif sepi. Ketika kami datang, seminggu sebelum pekan haji, Makkah dalam kondisi peak season. Masjidil Haram selalu sesak.

Meski tidak ada jaminan masjid melega dalam beberapa hari ke depan, setidaknya dengan selesainya ritual wajib, kami bisa mengalihkan fokus untuk memperkaya dimensi ibadah.

Menteri Agama, Lukman Saifuddin, melalui buletin Kemenag menganjurkan jamaah untuk memperkaya sisi spiritual ibadah haji. Saya setuju. Makkah, khususnya Kabah dan sekitarnya mempunyai aura spiritual yang sangat kuat. Berkontemplasi di sana sangat disarankan.

Salah satu cara saya berkontemplasi adalah mengikuti salat jamaah di Masjidil Haram, khususnya untuk subuh, magrib, dan isya. Salat di mana imam mengeraskan bacaan ayat Quran untuk dua rakaat.

Ayat yang dipilih oleh imam Masjidil Haram relatif random dan misterius bagi jamaah. Bukan ayat predictable yang berasal dari juz 30 Quran seperti di Indonesia. Ditambah dengan kemampuan resital yang sangat syahdu, salat ini menjadi terapi spiritual yang dahsyat bagi saya. Sepanjang sejarah, rasanya belum pernah saya berharap imam memilih bacaan yang panjang untuk salat.

Saya juga menanti saat di mana tawaf bisa sedikit lebih lega dari hari peak season. Ajaibnya perasaan berdoa ketika wukuf ingin saya ulangi di tempat yang ijabah untuk berdoa: Multazam.

Multazam adalah bagian Kabah antara Hajar Aswad dan pintunya. Sepanjang tawaf yang saya lakukan, tempat tersebut merupakan hot spot penuh dengan orang yang menangis histeris sambil memeluk Kabah. Antriannya bisa sepanjang bagian Kabah. Ketika arena tawaf sudah melega, saya ingin juga mengantri di sana.

Konferensi besar muslimin akan segera berakhir. Jamaah dari seluruh dunia akan kembali ke tanah air masing-masing dalam waktu dekat. Agar mabrur, haji perlu diamalkan di kampung halaman. Kami masih mempunyai sebulan untuk membekali makbulan wa mabruran hasil ibadah haji.

Paska ibadah, hari-hari kami akan diisi mempertahankan kesan yang kami dapat dari seminggu penuh makna. Ziarah dan meresapi budaya serta lingkungan yang membantu melahirkan syiar Islam ke seluruh dunia.

Ditambah sedikit belanja tentu saja.
Reactions: 

Related

ziarah 3304476637684293168

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item