Binatang Berbaju Berebut Atensi

Menarik untuk menandingkan dua film animasi yang dirilis pada akhir liburan musim dingin. Zootopia dan Kung Fu Panda 3 . Keduanya berki...


Menarik untuk menandingkan dua film animasi yang dirilis pada akhir liburan musim dingin. Zootopia dan Kung Fu Panda 3. Keduanya berkisah dengan karakter binatang yang memakai baju, dan melawan kejahatan. Mana yang lebih paten, Po si panda atau Judy Hopps, polisi kelinci?

Di Amerika, Kung Fu Panda 3 rilis lebih awal sekitar dua bulan dari Zootopia. Di Indonesia, rilis keduanya berjarak hampir sebulan, justru Zootopia lebih dulu. Tapi implikasi yang terlihat di toko mainan sama saja, antara Amerika dan Indonesia. Kung Fu Panda lebih masif.

Secara brand, Kung Fu Panda 3 diuntungkan sebagai film sekuel yang telah merambah memori anak-anak lebih awal. Maka, tidak heran bila pengisi etalase mainan usai Star Wars diisi dengan Po dan kawan-kawannya. Bukan Judy Hopps, meski sama-sama rilisan Disney dengan Star Wars.

Zootopia barangkali seperti anak tiri yang dilepas sebagai filler musim dingin. Budget marketing Disney sudah terkuras habis untuk Star Wars Episode VII sehingga tak banyak upaya yang dilakukan untuk mengatrol Zootopia yang (seharusnya) bersaing dengan Kung Fu Panda 3 merebut pasar rengekan anak-anak kepada orangtuanya. Mungkin skenarionya memang Zootopia tak pernah mengincar pasar anak-anak?

Sekilas, dari sisi pasar merchandise terlihat Po menguasai. Tetapi dari sisi pendapatan box office, keduanya bertarung ketat. Zootopia lebih unggul malah.

Jurus jari maut Po mengumpulkan gross 400 juta dollar. Skadoosh!

Sementara Finnick berhasil menjual popsicle hingga hampir 600 juta dollar. Tut-tut!

Namun karya bagus akan menemukan jalannya sendiri. Demikian Zootopia, yang hingga hari ini memegang rating 99% di Rotten Tomatoes, sejatinya memang tak punya banyak gimmick marketing. Sebagai film animasi, Zootopia tak menawarkan fantasi yang tegas-gender layaknya Big Hero 6 (untuk anak laki-laki). Jagoan Zootopia adalah Judy Hopps, kelinci betina. Sidekick-nya Nick Wilde, rubah jantan yang tidak bisa dibilang jago. Juga, Zootopia tak diperkuat oleh pengisi suara bintang terkenal, bila head to head dengan Kung Fu Panda 3.

Zootopia adalah labor of love nan idealis dari kreatornya. Semangat yang sama ketika membuat Frozen atau Big Hero 6, gimmick promosi film ini. Usai dongeng (Frozen) dan fantasi (Big Hero 6), slot memori anak-anak tinggal fabel. Oleh karenanya Zootopia hadir sebagai fabel antropomorfik modern, yang secara satir menggambarkan manusia, tapi tetap punya identitas binatang.

Animator dan konseptor Zootopia (Byron Howard dan Rich Moore) berhasil mengerjakan PR mereka sehingga para orangtua mudah memberi ilustrasi seperti apa lingsang, kerbau afrika, atau kukang pemalas. Meski antopomorfik, logika ini mamalia yang berevolusi masih dipegang. Kudanil ya suka air. Serigala suka melolong. Kelinci itu bodoh, rubah itu licik. Ini stereotipika yang secara cerdas dimainkan sebagai inti cerita.

Konsep ini yang berbeda, tentu saja, dengan Kung Fu Panda. Po dan kawan-kawan juga antropomorfik, tapi jelas sedikit tautan dengan karakter binatangnya. Ya, ada beberapa yang dilandasi sifat aslinya, tetapi pemilihan harimau sebagai protagonis ya murni karena pemuas tontonan saja.

Kung Fu Panda masuk ke ranah film fantasi, bukan fabel. Ia adalah film jagoan. Entah bila Anda menganggap kura-kura ninja sebagai fabel. Di sisi lain, Zootopia juga bukan seratus persen fabel, Ia adalah fabel modern, Kita masih mendapati stereotipikal sifat binatang layaknya kancil dengan kelicikannya, kisah abadi kura-kura dan kelinci, atau kekuatan para raja rimba.

Zootopia juga mempunyai cerita yang lebih dalam karena mengulas misteri layaknya film detektif. Ada alur yang membingkai logika penonton. Karena beratnya tema, film ini menjadi agak susah dinikmati anak-anak. Hook-nya susah diraih kecuali ke karakter-karakternya. Itupun barangkali terbatas, karena karakter di Zootopia kuat karena skenario, bukan visual maupun kejagoannya.

Zootopia lebih masuk ke penonton dewasa. Penonton yang bisa mengerti konteks parodi yang ditampilkan si cecurut arktik, Mr Big. Penonton yang bisa mengikuti suspens ala noir dari penyelidikan Nick dan Judy. Penonton yang bisa menangkap ironi-ironi pada adegan dengan Flash. Bila beruntung, akan masuk juga ke penonton yang memang suka dengan dunia binatang. Sekali lagi, Zootopia boleh dibilang luar biasa detail, sehingga akan lebih masuk ke penonton dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang serba-permukaan.

Sedangkan Kung Fu Panda jelas seperti jurus Po, menyerang dari banyak sisi. Anak-anak akan suka dengan adegan slapstick. Anak yang lebih besar suka dengan karakter jagoan. Penonton dewasa suka dengan janji pengisi suara: Jack Black, Angelina Jolie, Dustin Hoffman.

Trivial, kedua film menampilkan JK Simmons sebagai pengisi suara.

Dus, tak heran bila secara marketing Kung Fu Panda memang lebih menguasai etalase-etalase toko mainan dibanding Zootopia. Tapi tentu saja kuasa di merchandise bukan jaminan kualitas film yang lebih baik.

Bagi penikmat film, rilisan Kung Fu Panda 3 yang terlalu dekat dengan Zootopia justru menjadi bumerang. Kung Fu Panda tidak bisa dikatakan jelek. Bagus malah (memegang rating fresh, 86% di situs Rotten Tomatoes). Ada tiga hal yang membuat Kungfu Panda menjadi tampak datar terkait dengan momen rilisnya yang berdekatan dengan Zootopia.

Yang pertama, Zootopia lebih menawarkan sesuatu yang baru dibanding Kung Fu Panda. Character-wise, plot-wise. Plot Kung Fu Panda selalu sama di tiga episode. Kisah kilat Po menguasai rahasia kung fu dalam waktu yang seharusnya membuat Shifu dan Tigress putus asa mengapa mereka masih belajar kung fu mati-matian.

Kedua, boleh dibilang Zootopia menyetel standar film animasi yang baru. Yaitu kemampuan sukses (secara kualitas) dari pendekatan film konvensional: skenario. Dengan jalan cerita yang sederhana, runut, logis, serta dialog-dialog paten, ternyata Zootopia tak terlau butuh deretan selebritis untuk mengisi suara.

Ketiga, bagaimanapun juga impresi dan evaluasi film akan lebih menancap ke orangtua, bukan anak-anak. Anak kecil adalah target pemasaran, bukan apresiator. Seburuk apapun filmnya, tapi Alvin and the Chipmunks juga tetap akan ditonton oleh anak-anak dan mereka tertawa. Tetapi, impresi yang tertinggal adalah di benak orangtua. Zootopia mengincar pasar tersebut.

Dalam pertarungan dua film animasi berkelas, tampaknya jurus pendekar naga tidak mampu melawan duet kelinci dan rubah.
Reactions: 

Related

zootopia 5746294630674031622

Posting Komentar Default Comments

1 komentar

ainur rifqi mengatakan...

Anakku menikmati Zootopia bagian pembukanya aja (pentas seni jadi Pulisi). Setelah itu banyak ditinggal mubeng dewe sama anakku :D

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item