Agar Waze Tak Menyesatkan

Akhirnya saya mengalami juga apa yang sering jadi tema meme tentang Waze. Akibat terlalu percaya dengan platform pandumudi itu, mobil say...


Akhirnya saya mengalami juga apa yang sering jadi tema meme tentang Waze. Akibat terlalu percaya dengan platform pandumudi itu, mobil saya masuk ke jalan tikus yang mustahil dilewat.

Kisah ini cukup viral kala ada sharing mengenai Vellfire yang nyaris terperosok waktu melaju di jalan sangat kecil, di atas semacam empang. Meski kejadian asli ada di Malaysia, sebagaimana yang disampaikan di chirpstory ini, tapi hal semacam itu berpotensi terjadi di Indonesia. Solusi akhirnya, di Vellfire diangkat dengan crane! Walah...

Platform semacam Waze bergantung pada aktivitas user-nya. Pengembangan rute akan terekam bila user melewati rute tertentu. Ini akan menjadi alternatif rute baru yang ditawarkan kepada pengguna lain. Pasalnya, banyak juga pengguna moda kendaraan lain yang memakai Waze, terutama sepeda motor. Opsi jalan tikus sering muncul akibat rekaman rute pengguna motor yang mengaktifkan Waze. Kasus di atas banyak muncul di negara yang memiliki pengendara motor cukup banyak (ditambah dengan frekuensi mereka melewati gang sempit). Jakarta adalah satu kota potensial.

Saya sendiri (akhirnya) mengalaminya di daerah Rempoa. Waze menyarankan rute hingga saya mentok ke gang tikus yang tidak mungkin dilewati mobil MPV (bahkan city car nan mungil juga akan kesulitan). Kapokkah? Tidak. Waze banyak membantu dalam menentukan rute kala saya harus menuju satu lokasi dalam batasan waktu (time-constrained).

Beberapa hari sebelumnya, saya sempat browsing mengenai bagaimana menghindari jalan tikus di Waze. Tapi itu tak cukup. Pastinya. Standar jaan tikus di Amerika beda dengan Indonesia. Jakarta beda dengan Yogyakarta. Et cetera. Et cetera. Problem sama. Jalannya mepet, manuver bahaya, dan kalau ketemu mobil lawan arah, tamat cerita.

So, banyak juga yang akhirnya give up Waze. Pindah ke pandumudi lain, Google Maps mungkin. Padahal keduanya juga sama saja. Artinya, potensi mblasak ke jalan tikus tetap mungkin dialami. Saya sendiri cenderung setia dengan Waze. Platform pandumudi lain belum tentu juga menjamin kelancaran berkendara. Mungkin sebelum Anda ditch Waze dari layar, ada baiknya simak tips saya.

Pertama, gunakan opsi standar untuk menghindarkan Anda dari jalan tikus. Pilih "setting", "navigation", dan "dirt roads" pada segmen "more options". Lalu nonaktifkan opsi "dirt road" dengan cara tick bagian "Don't allow". Harafiah, dirt road bukan jalan tikus. Lebih ke jalan potong kompas yang barangkali melewati kebun atau ladang orang. Saya pernah mengalami ini di Depok. Mentok di ladang pepaya.

Kedua, ketika Anda memulai navigasi, lihat dulu opsi rute yang akan dilewati. Sebelum mulai biasanya ada summary yang berisi gambaran rute dan tiga opsi berupa "Routes", "Send ETA", dan "Stop". Pilih "Routes". Pilih "map view", sehingga Anda bisa tahu persis daerah-daerah mana yang akan dilalui. Ini penting untuk menanamkan logika navigasi, sehingga Anda bisa senantiasa kembali ke rute utama bila Waze tiba-tiba menawarkan jalan tikus. More about this later.

Ketiga, cek-ricek dengan petunjuk jalan yang ada. Bukan apa-apa, bila sinyal tiba-tiba drop, bisa jadi Anda terlewat satu belokan. Cek-ricek dengan petunjuk jalan juga penting untuk tadi, memastikan Anda tetap di jalur sesuai tujuan.  Adanya petunjuk atau rambu pengarah (terutama yang berwarna hijau) juga mengindikasikan bahwa jalan yang akan dilewati bukanlah jalan lingkungan.

Keempat, bila Anda tidak yakin dengan kapasitas jalan yang disarankan Waze, tetaplah berada di jalan utama. Jangan ambil resiko untuk masuk gang bila memang susah dilalui dua mobil.

Kelima, bila sudah terlanjur masuk, laju pelan sambil menandai atau mengingat tempat-tempat yang memungkinkan Anda memutar mobil. Jadi, bila harus mundur, Anda tidak perlu melakukannya sepanjang gang.

Keenam, untuk perjalanan malam hari, pilihlah rute yang melewati jalan utama. Ini kembali ke tips kedua di atas.

Ketujuh, atau terakhir, kehadiran Waze ini memang membantu kita dalam menjelajah daerah. Tetapi jangan lupa bahwa kemampuan atau insting navigasi adalah salah satu bekal pertahanan hidup yang penting bagi manusia. Anda tetap harus melatih kepercayaan diri dan ketajaman insting navigasi. Paling sederhana adalah mengetahui apakah Anda melaju ke arah mata angin mana: utara, barat, timur, selatan? Sesekali, cobalah mengandalkan insting dan perhatian ke rambu yang ada di jalan untuk mencapai tujuan. Cara tersebut adalah metode tercepat untuk menghapal rute.

Selamat menjelajah!
Reactions: 

Related

waze 22923980446956453

Posting Komentar Default Comments

8 komentar

Dinda Richfiela mengatakan...

Wuihhh! Cakep tips nya. Gw pernah juga diarahin ke gang yg cm buat motor bahkan sampe kejebak banjir di lingkungan perumahan padat. ����

Helman Taofani mengatakan...

Gua paling absurd ya itu, masuk ke ladang pepaya punya orang di Depok.

farid imam mengatakan...

Kedelapan,kepepetnya,tanya ajah sama orang disekitar.hihihihi

Helman Taofani mengatakan...

Bener kuwi Mam!

Anonim mengatakan...

Yang paling penting adalah melaporkan jalan tersebut bila memang tidak bisa dilewati mobil dengan menu pelaporan yang ada di aplikasi Waze, "repot problem" akan dapat membantu para editor untuk memperbaiki jalan tersebut agar dirubah peruntukannya hanya untuk motor saja misalnya dan tentunya akan membantu pengguna lain agar tidak tersesat kembali ke jalan tersebut.

Karena waze adalah pemetaan dari dan untuk penggunanya

kasno sukasno mengatakan...

mantap gan tipsnya, boleh di coba

pengalaman gue, diputer2 sampe 3x, gara2 deket tol, he he

Rizki Ilham Muhammad mengatakan...

Saya pernah ke rumah kerabat saya karena engga tau daerahnya pake waze, karena macet saya malah dibawa ke hutan dicikarang yang jalannya jelek banget mana itu jam 8 malem. Pass pulang ternyata rumah kerabat saya engga hauh dari tempat keluar tol. ��������

Anonim mengatakan...

Gua masuk ke sawah orang wkwkwk

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item