Logika Demokrasi

Ada dua pilihan caleg, semuanya maling. Lewat voting, salah satu maling akan menduduki parlemen dan membuat kebijakan yang mempengaruhi h...


Ada dua pilihan caleg, semuanya maling. Lewat voting, salah satu maling akan menduduki parlemen dan membuat kebijakan yang mempengaruhi hidup kita. Kita memilih, maling akan menang. Kita tidak memilih, maling juga tetap menang.

Sebagai orang yang hidup di era informasi, masih bebalkah kita terhadap fenomena "googling"? Apapun bisa dicari. Google, maling A dan maling B, siapa yang lebih banyak nyolong. Maling A nyolong 4 milyar, dan maling B nyolong 100 juta.

Logika pertama: reduce the damage.

"Saya kritis, maka dari itu saya tidak akan memilih."

Duh, kalau memang beneran kritis, cobalah kritisi kenapa maling-maling menjadi bagian dari pilihan?
Benarkah semuanya maling?
Mungkinkah 90% maling, dan ada 10% yang bukan maling?

Logika kedua: let the right one in.

"Saya tidak bisa memilih maling. Ini ibarat disodorkan makanan beracun. Makan mati, tidak makan juga akan mati."

Hey, kenapa kau egois?
Bagaimana dengan keluargamu?
Sahabatmu? Bila kau mati, giliran anakmu yang akan memakan racun.

Logika ketiga: think forward.

Menyimak banyak berita akhir-akhir ini, saya percaya bahwa salah satu sumber penyakit terbesar di Indonesia adalah kualitas payah parlemennya. Tapi bila ini tidak diperbaiki (dan kita apatis, dengan menjadi golput), maka jangan berharap akan ada perbaikan.

Demokrasi dan sistim-nya ini ibarat "given", di mana kita tidak punya banyak kuasa untuk mengubahnya. Saya sendiri memang skeptis dan tidak terlalu percaya kepada apapun sistim buatan manusia. Satu-satunya mekanisme mutlak adalah mekanisme alam. Tetapi, berdasarkan tiga logika di atas, saya percaya bahwa memilih "lesser-crook" tetap merupakan upgrade atau perbaikan.
Reactions: 

Related

urban living 6814219588748004289

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item