Puncak Evolusi Wolverine


Hugh Jackman menghabisi kariernya sebagai Wolverine dengan sebuah finale yang ciamik. Tone yang tak terduga akan muncul dari film superhero Marvel.

Saya masih ingat, hampir dua dekade lalu, membaca artikel di majalah Hai mengenai calon casting film fitur X-Men. Disebut Dougray Scott akan menjadi Wolverine. Perawakan tegap, gagah, ngga terlalu ganteng, dan di artikel tersebut ia digambarkan dengan rambut naik ala jagoan paling populer dari franchise X-Men.

Tapi peran beralih ke Jackman, lantaran Scott terkendala jadwal syuting Mission Impossible 2 yang molor. Jackman hingga dua dekade (melewati Batman, Superman, dan Spiderman yang berganti) masih selalu dipercaya sebagai James Howlett, alias Logan, alias Wolverine.

Bahkan pada 2013, Jackman dipercaya menggawangi spinoff-nya sendiri, film solo Wolverine, bersama sutradara James Mangold. Ia juga karakter satu-satunya dari franchise X-Men bersama 20th Century Fox yang buatkan film origin-nya (2009).

Wolverine, karakter yang populer justru dari sifat antihero-nya, mengalami evolusi di bawah Jackman. Dari si brengsek geng motor di X-Men pertama, hingga protagonis yang mampu diandalkan pada Days of the Future Past. Di instalasi yang ditegaskan Jackman sebagai film terakhirnya sebagai Wolverine, karakter Logan mengalami puncak evolusi bahkan.

Disebutkan, Logan kini beranjak menua. Sel-sel regeneratifnya tidak bisa menjamin pemulihan seketika. Banyak substansi asing yang mencemari makhluk nyaris imortal ini sehingga ia menjadi pria paruh baya yang beruban, pincang, serta refleksnya yang tak lagi prima. Di satu scene, cakar tengahnya bahkan susah keluar.

Logan kini menjadi caretaker dari Profesor X yang juga jompo, pikun, tapi masih berbahaya karena kekuatan psikisnya masih mampu membekukan masa. Kerumitan bertambah kala ia juga mesti dibebani oleh anak kecil perempuan misterius bernama Laura, yang dikejar-kejar oleh grup paramiliter di bawah komando Donald Pierce.

Film Logan ditulis sendiri oleh Mangold, mengadaptasi dengan sangat bebas dari komik Old Man Logan. Mangold membuat cerita yang menggabungkan kisah drama, perjalanan, lalu tentu saja aksi. Yang terakhir hadir dengan gaya brutal, sesuai ekspektasi dari karakter superhero dengan senjata andalan cakar supertajam. Chop, chop!

Alur penceritaan berjalan cukup pelan, dan dengan tone serta dialog yang kasar sehingga cukup realis sekaligus memastikan bahwa ini konsumsi film serius. Banyak f-word dan sebangsanya berkeliaran. Ganjarannya adalah rating R pada film ini.

Patrick Stewart masih memerankan Prof X. Ini juga film terakhir dirinya menjadi pembina bagi X-Men. Karakternya sangat berbeda dengan Charles Xavier dari film sebelumnya. Perannya jelas memberi warna dan kedalaman bagi film Logan. Coba simak bagaimana ia (Stewart) mengubah tone adegan dengan seketika di scene karakter Logan meminta Prof X untuk membuka mulut.

Yang jelas beda, film ini seperti bukan ada di hemisfer Marvel. Apalagi dengan citra Marvel Cinematic Universe. Film ini mungkin lebih mirip dengan gaya film-film DC, tapi tetap lebih superior karena pendekatan naturalisnya. Tanpa cakar adamantium, film ini tetap bisa berjalan sebagai karya sinematik yang bagus mengenai pencarian hidup mantan serdadu bayaran. Tema semacam ini kerap diangkat.

Hugh Jackman, di atas segalanya, total memberikan segalanya untuk finale peran dirinya sebagai Wolverine. Film ini menjadi penutup sempurna bagi evolusi karakter yang dipilihnya dua dekade silam.

Setelah ini, kita akan lihat bagaimana karakter Wolverine coba dihidupkan oleh aktor lain. Barangkali akan mengalami kendala perbandingan sebagaimana karakter Joker selepas Heath Ledger. Susah melepas Jackman dari Wolverine, dan juga sebaliknya.
Reactions: 

Related

STICKY 8103774014317216579

Posting Komentar Default Comments

4 komentar

ainur rifqi mengatakan...

Setuju ama tulisan ini. Saya juga buat tulisan yang sama tentang Hugh Jackman di sini: https://angki.wordpress.com/2017/01/06/pemeran-film-pria/

Share blog ceritanya hihihihihi :mrgreen:

Helman Taofani mengatakan...

Lho, kowe jik ngeblog Ki?

Nito Septian mengatakan...

Harusnya masuk sebagai produksi Marvel Knights ya, kayak Punisher: War Zone.

Jaman dulu, itu Punisher considered paling kasar dan keji, dan Logan ini ekivalen lah levelnya.

ainur rifqi mengatakan...

Yo iyolah, awak dewe iki jek ngeblog. Masiyo wis arang-arang :)))

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item