Kembalinya Media Cetak (Bagian Pertama)


Sesaat setelah buku terakhir saya, The Tastemakers, diterbitkan, seorang perempuan dari sebuah agensi marketing terkenal di New York menghubungi. Ia sudah membaca buku saya, dan ingin berdiskusi mengenai online show tentang tren kuliner yang tengah dikerjakan untuk kliennya. Kami bertemu di sebuah kafe di New York. Percakapan kami segera membahas proyek yang tengah saya kerjakan. Saya memberi tahu mengenai buku The Revenge of Analog. Ia berpikir proyek saya menarik, tetapi mengherankan.

“Mengapa harus buku?” katanya.

Apa maksudnya?

“Mengapa Anda masih mau menulis buku?”

Rentetan argumen kemudian meluncur darinya, tentang sikapnya yang tak setuju terhadap membuat sebuah buku sebagai manifesto ekspresi. Buku membutuhkan waktu riset dan penulisan yang lama. Penerbit hanya membayar relatif kecil untuk segala jerih payah itu. Buku juga sudah tidak lagi bisa dijual dan menghasilkan uang. Di samping itu, tidak ada lagi yang masih membaca produk cetak.

“Apa alternatifnya?” tanya saya.

Branded content”, katanya. Dunia kini dipengaruhi oleh brand. Seniman dan pekerja kreatif lain menghasilkan karya dengan dukungan brand. Ia bisa melihat The Revenge or Analog sebagai bagian dari branded content. Mungkin Sony Music mau membayar konten ini sebagai web series tentang industri piringan hitam. Barangkali Canon mau jadi sponsor untuk konten blog tentang kamera analog. Tetapi tidak ada yang mau membaca buku, katanya. “Mereka mau konten yang mudah dicerna,” dan para kreator konten seperti saya bisa mengikuti arus uang di branded content atau jatuh miskin lantaran mati-matian membela warisan budaya yang usang.

Saya menyudahi pertemuan kami dengan gusar. Berani-beraninya ia, mantan model dengan hidung menjulang, mempertanyakan pilihan profesi saya hanya lima menit setelah bersua. Hari berganti, kegusaran saya masih ada. Apakah saya kecewa karena ia mungkin benar? Lalu ngapain saya menulis buku lagi?

Sejak saya mulai menulis pada 2002, prediksi bahwa media cetak akan tumbang karena digital sudah acap disampaikan. Hal itu seolah sesuatu yang alamiah. Bekerja di media cetak (buku, majalah, atau koran) sama seperti bekerja di kota yang pudar, di mana kita menikmati jerih payah masa lalu ketika dunia di sekeliling kita bergerak maju. Tahun demi tahun, sebagai penulis, makin banyak majalah yang pernah memuat tulisan saya gulung tikar. Banyak editor yang kehilangan nafkah, koran yang berkurang halamannya, dan makin sedikit uang dihasilkan dari dunia cetak. Publikasi cetak seolah hanya bergerak ke satu arah. Terjun. Ditarik oleh kekuatan paling pasti, yaitu gravitasi.

Publikasi cetak membutuhkan banyak dana untuk menghasilkan dan mendistribusikan produk. Terutama bila dibandingkan dengan digital. Untuk mengirim majalah, koran, atau buku ke pembaca, dibutuhkan pohon, pengolah kertas, percetakan, armada truk barang, gudang, agen atau kios dan toko. Publikasi cetak membutuhkan uang untuk mendapatkannya, dan membutuhkan ruang untuk menyimpannya. Di sisi lain, publikasi digital tidak butuh sumber daya ragawi, tidak perlu manusia untuk mengantarkannya, dan tidak butuh banyak ruang. Publikasi digital tak menghasilkan limbah, harganya nyaris gratis atau sangat murah. Kita bisa menghasilkan satu, lalu dikopi dengan mudah dan berlipat ganda.

Dengan segala aspek itu, mengapa masih ada yang mempertahankan media cetak?

Media cetak, hebatnya, tidak hanya bertahan. Di beberapa sektor malah tumbuh, menghasilkan media baru, bahkan kadang muncul dari entitas media yang tadinya digital. Aspek bisnis dari digital yang kerap digembar-gemborkan menghasilkan banyak uang ternyata tidak seluruhnya benar. Yang memang benar adalah ongkos produksi murah serta kemudahan pengiriman di media digital. Tetapi ada banyak masalah di dalamnya. Media cetak atau analog rupanya berhasil mengatasi permasalahan kronis yang dimiliki media digital, yaitu engagement, stickiness, discovery, dan sebagainya. Sehingga, apabila urutan inovasi di balik secara waktu, media cetak mungkin akan dikatakan sebagai disruptor teknologi.

- Terjemahan dari bab Revenge of Print pada buku The Revenge of Analog: Real Things and Why They Matter karya David Sax (Public Affairs, 2016). Bukunya bisa dibeli di sini.

- Kredit foto: Shutterstock.com
Reactions: 

Related

translation 6261249543143003752

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Translate

item