Review Film Keluarga Cemara

Karakter yang menghidupkan dan menuai pujian di banyak review film Keluarga Cemara.

Setelah dua mingguan naik layar, akhirnya saya berkesempatan mengalami film "Keluarga Cemara" yang banyak mendapat pujian. Sesuai kategorinya (SU), saya mengajak seluruh anggota keluarga untuk ikut serta menonton. Well, tepatnya, saya yang diajak menonton oleh istri saya.

Pertanyaan menarik muncul dari anak saya, Magenta, setelah menonton film ”Keluarga Cemara”.

“Pah, apa yang paling Papah suka tadi?” katanya di pintu keluar. Saya membeli waktu untuk memilih dengan balik bertanya.

“Kalau Magi, yang mana?”

Ia menjawab adegan Ara (Widuri Sasono) yang berpura-pura menangis. Saya lupa adegan yang mana, tetapi banyak scene Ara yang menangis, dan hampir semuanya memorable. Ara ini berperan sebagai semacam “tone setter” di film. Ia nyaris berfungsi sebagai narator. Emosi penonton ikut bersama emosinya.

“Ah, kalau Papah paling suka adegan Euis (Adhisty Zara) mulai jualan opak,” kata saya kemudian.

Saya sulit menjelaskan ke Magenta yang masih berusia 8 tahun. Dalam alur film, adegan tersebut mengejutkan dan keluar dari ekspektasi. Skenario film (ditulis oleh Yandy Laurens dan Gina S Noer) ini berpotensi akan menyeret ke banyak klise-klise, tetapi (untungnya) tidak. Cerita tetap bertahan dengan prahara atau puncak konflik terberat adalah ketika Abah (Ringgo Agus Rahman) kehilangan karier dan hartanya di awal film.

Seterusnya, film bergerak mengalir dengan jalan cerita yang tidak dapat diduga. Fokusnya lebih banyak pada pengembangan karakter. Setiap tokoh mempunyai peran berbeda. Ara adalah semacam narator cerita itu tadi. Euis, kakaknya, adalah karakter yang mengalami pivot. Ia yang kita ikuti sebagai alur cerita. Abah memberikan latar, serta Emak (Nirina Zubir) sebagai jangkar.

Masing-masing karakter punya fungsinya, sekaligus jadi duta untuk berkomunikasi dengan penonton keluarga. Tiap anggota keluarga bisa mempunyai wakil karakternya.

Film ini sangat bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Magi, anak saya yang berusia 8 tahun, tekun menyimak dan mempertanyakan beberapa hal (terutama yang berkaitan dengan Ara). Sementara saya dan istri, sering terbawa perasaan (baper) juga terhadap banyak scene Abah dan Emak. Ini persoalan yang sangat realistis dan menyentuh “anxiety” sehingga semua orang pasti bisa “relate”.

Saya tidak perlu menceritakan sinopsis Keluarga Cemara, yang sebagian tentu familiar dengan sinetronnya dulu. Ada perubahan latar yang bisa diikuti oleh film ini. Misalnya, becak yang dulu jadi tumpuan nafkah digantikan dengan ojek online.

Film ini unggul dalam kebersahajaan produksi, sesuai dengan latar dan pesan yang ingin disampaikan. Secara sederhana menjelaskan apa yang digaungkan dalam lagu latar, serta materi meme legendaris.

“Harta yang paling berharga adalah keluarga.”

#YouSingYouLose
Reactions: 

Related

STICKY 5768467906664266720

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item