Review Film Green Book: Empati dari Komedi


Indikator mudah apakah kita dalam keadaan depresi atau frustrasi adalah kemudahan kita tertawa menanggapi sesuatu. Sebagai referensi, saya sudah lama tidak tertawa lepas, meski dipancing dengan adegan komedi. Saya belum pernah menikmati stand up comedy.

Semalam, pertama kali setelah sekian lama saya bisa tertawa lepas. Ngakak, bahasa kasualnya. Di dalam gedung bioskop menonton film “Green Book”. Film perjalanan tentang seorang musisi dan sopirnya. Musisi tersebut, Don Shirley, adalah pianis kulit hitam kelas dunia. Sopirnya, Tony Villalonga, adalah seorang Amerika-Italia asal Bronx, New York. Mereka melakukan tur 2 bulan ke selatan.

Setting film ini adalah tahun 1962, ketika segregasi rasial masih terjadi. Utamanya di wilayah yang jadi itinerari tur Don Shirley. Selebritis kulit hitam, disopiri kulit putih. Tentu jadi pemandangan satir dalam perspektif orang-orang Alabama, Arkansas, dan sebagainya saat itu.

Tapi tunggu, apa yang ditertawakan?

Sutradara Peter Farelly jeli melihat potensi komedi dari satir yang lantang tersebut. Ia lantas membuatnya sebagai film perjalanan (road movie) yang secara tradisi akan mengembangkan karakter di sepanjang jalan. Perbedaan ras, nasib, latar pendidikan, selera, dalam konteks perspektif masyarakat Amerika saat itu adalah hal yang komedik.

Mahershala Ali sebagai Don Shirley, serta Viggo Mortensen sebagai Tony. Keduanya mengembangkan kemistri, secara karakter maupun dalam proses akting, yang sangat baik sepanjang jalan cerita. Bahwa perbedaan sudut pandang itu pada dasarnya adalah aspek yang membentuk unsur komedi.

Jatuh dari tangga akan lucu ketika dilihat orang yang tidak mengalaminya. Penderitaan orang lain kadang lucu ketika kita tidak mengalaminya atau diceritakan ulang. Dan sejatinya, inilah yang dibicarakan sepanjang jalan oleh Mahershala dan Viggo, pertukaran perspektif yang menjadi lucu ketika kita, penonton, yang melihatnya.

Namun, film ini sangat berhasil mengantar empati. Hal yang mencegahnya sebagai tragedi, karena mengembalikan kembali ke tujuan pembuatan, yaitu paparan mengenai fakta adanya Green Book itu sendiri. Ia adalah “Lonely Planet” bagi kaum kulit hitam di masa 1930-1960-an, berisi petunjuk mereka bisa menginap di mana, makan di mana, kala berkunjung ke wilayah yang rasis.

Buku itu, sempat beredar dan nyata adanya, adalah tragedi.

Mengingatkan mengenai tragedi adalah hal baik dari komedi untuk bisa dicerna oleh orang. Terutama orang-orang yang tidak mengalaminya itu tadi. Film “Green Book” rasanya sangat sukses dengan formulanya. Karena, saya bisa terbahak-bahak, tetapi kemudian keluar gedung dengan haru, sedih, dan empatik mengenai orang-orang yang mengalami pelecehan rasial.

Saya menyempatkan googling mengenai Nat King Cole yang diturunkan dengan paksa oleh penonton kulit putih yang mengundangnya. Ya, kita hidup di dunia yang seperti itu adanya.

“Green Book” adalah film kandidat Best Picture untuk Oscar, serta mengantar Viggo dan Mahershala ke nominasi juga. Viggo di kategori Best Actor, Mahershala di kategori Best Supporting Actor (dan telah memenangkan Golden Globe untuk ini). Mestinya ini apresiasi nyata, yang jadi mengherankan ketika di Indonesia hanya tayang di CGV.

Saya yakin film ini akan disenangi dan dimaknai siapapun. Tawa saya adalah garansinya.
Reactions: 

Related

viggo mortensten 6511591400373373298

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item