Review Film Bella (2007)

Recently, istri saya membawa pulang buah tangan berupa 3 buah DVD (bajakan tentunya). Salah satunya berjudul " Bella ", film drama...



Recently, istri saya membawa pulang buah tangan berupa 3 buah DVD (bajakan tentunya). Salah satunya berjudul "Bella", film drama latin yang memenangkan penghargaan People's Choice di Toronto Film Festival tahun 2007.

Film ini juga mendapat banyak rating positif di beberapa ajang apresiasi dan melejit sebagai salah satu film dengan peredaran terbatas yang paling dicari. Terlebih setelah berhasil memenangkan seratus ribu dollar di ajang Crystal Heart Award.

Padahal, ceritanya sangat sederhana, yaitu tentang mantan pebola (Eduardo Verastegui) yang berusaha embrace seorang pelayan hamil (Tammy Blanchard) usai dipecat dari sebuah restoran latin. Si mantan pebola menceritakan kisahnya yang juga menyangkut bangkit dari keterpurukan. Dia berhasil bangkit dengan dukungan keluarga latin-nya yang memang berbeda dari keluarga di Amerika kebanyakan.

Plot dibikin secara jumpcuts, dengan beralih-alih secara acak untuk menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang terjadi selain di alur utama yang sebetulnya hanya makan waktu sehari saja.

Saya tidak bisa menangkap poin apalagi yang bisa menjadi daya tarik dari film ini. Secara fotografis, gambarnya juga tidak sedahsyat "Little Miss Sunshine" misalnya. Kemudian secara akting, menurut saya, penggambaran karakternya terlalu superfisial, over-dramatis (mungkin untuk mengakali jalan cerita yang terlalu sederhana).

Satu-satunya yang bisa diapresiasi adalah twisted plot-nya, yang meloncat-loncat. Ironisnya, hal itu adalah siksaan ketika kita menonton via media DVD bajakan dengan subtitle yang amburadul sehingga saya berkali-kali kehilangan alur dalam menonton.

Hampir tak ada impresi yang berarti usai menonton film ini. Saya mencoba browse ke situs-situs kritik, untuk membandingkan pengalaman saya menonton film garapan Alejandro Gomez Monteverde tersebut. Ternyata, meski banyak sekali komplimen institusional yang mengiringi film produksi tahun 2006 (namun baru rilis 2007) ini, tidak sedikit yang berkerut dahi seperti halnya saya.

Rotten Tomatoes mengganjar dengan angka freshness 43%, itu berarti setengah bilang bagus, separuhnya lagi bilang jelek. As for me? "It's not my type."

Kata-kata itu sebetulnya adalah komplimentari. Kata tersebut sebetulnya digunakan untuk mengungkapkan ketidaktertarikan terhadap sesuatu. Hanya saja, dibalik ekspresi kalimat tersebut, tersembul satu makna positif.

Normally, jika tidak suka atau benar-benar tidak tertarik, orang akan bilang terus terang: "jelek", "tidak bagus" atau apapun yang maknanya eksplisit. Sementara, "bukan tipe saya" lebih mempunyai makna implisit bahwa objek yang diapresiasi sebetulnya (berpotensi) bagus, setidaknya dalam beberapa kriteria, namun secara subjektif tidak berkenan untuk kita.

Related

movie 3616412936575442082

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item