Festivitas yang Pudar


I have a dream.

Sekarang Nyepi mulai "laku" sebagai momen yang mendatangkan turisme. Banyak wisatawan yang datang ke Bali untuk ikut merasakan kesenyapan kala sebagian besar umat Hindu melakoni Nyepi. Daya tariknya justru mengalami jeda dari mobilitas, meminjam sedikit lagu Navicula (band Bali), kala dunia semakin cepat, Bali berani berhenti. Nyepi adalah keniscayaan. Tiap tahun akan ada.

Ramadan sebetulnya juga sama. Mestinya di bulan yang dirayakan 85% penduduk Indonesia ini ada sesuatu. Semacam festivitas yang unik, yang membawa orang (meski tidak merayakan) tapi turut larut dalam festivitas. Dalam segala keunikannya, Ramadan juga bisa punya identitas khusus. Rutinitas yang berubah, kebiasaan yang berubah.

Selama Ramadan yang saya kenal, festivitas di Indonesia termasuk unik. Jam padat lalu lintas ada di sebelum buka. Lalu senyap antara buka dan habis tarawih. Mulai agak ramai usai tarawih.

Tapi Ramadan sekarang di Indonesia (oke, di Jakarta terutama) mulai dipaksakan untuk sama saja seperti bulan umumnya. Saya melontarkan ide untuk mempercepat jam kerja agar rekan yang beragam Islam bisa berbuka di rumah, tarawih, tadarus di rumah. Tapi ide ini justru ditertawakan, jadi bahan olok-olok, dan ditepis (justru rekan yang muslim dan menjalani ibadah Ramadan. Memang mengapa bila sebulan sekali dalam setahun kita punya ritme yang berbeda?

Sepertinya kita lebih sibuk mempertahankan imej ketangguhan kala puasa. Bahwa di bulan puasa, tanpa makan dan minum, kinerja kita berlipat ganda. Pamer kepada siapa? Inilah riya kebutuhan modern. Kantor buka seperti biasa. Mal buka seperti biasa. Semuanya harus seperti biasa. Utopia saya, di bulan ini kantor beroperasi berbeda. Mal mungkin buka lebih siang, tutup lebih malam. Ada harapan sesuatu yang berbeda.

Apakah warung harus tutup? Tanpa paksaan, saya sebetulnya melihat ini sebagai keunikan. Mungkin bisnis yang tumbuh di Ramadan adalah katering rumahan, mengantar makanan ke mereka yang berpuasa? Atau Ramadan ini bisa jadi bulan dengan intensitas istri memasak untuk suami lebih sering? Bulan Ramadan bisa menjadi bulan membawa bekal bagi yang tidak (atau tidak sedang) puasa. Mumpung tidak banyak warung yang buka. Ini jadi ritme yang berbeda juga, tidak di bulan lain. Sama seperti maraknya dagangan takjil di sore, yang juga diserbu pembeli, apapun agamanya, apakah mereka menjalankan puasa atau tidak.

Saya mendamba nuansa yang berbeda di bulan ini. Alhamdulillah bila itu bisa menjadi ciri khusus yang mendatangkan pengalaman layak jual. Mengalami bulan puasa di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Membayangkan wisatawan ikut tinggal di Indonesia, bangun ikut sahur karena riuhnya ronda. Melihat ramainya aktivitas usai subuh. Menikmati jajaran warung dan foodcourt yang lengang di siang hari. Ikut lapar kala siang dan nimbrung di keriuhan bursa takjil. Mengalami nikmatnya berbuka dan mendengar azan tanda boleh makan. Lalu melihat anak-anak pulang tarawih.

Mungkin itu utopia, di tengah tekanan "menghormati yang tidak puasa". Upaya menjadikan Ramadan bulan yang biasa-biasa saja. Riuh kala sahur mengganggu nyenyak tidur kita. Kembali lelap usai santap, kemudian menghajar jalan seperti biasanya. Berjibaku di macet ibukota yang panas. Toh kalau lapar-dahaga, warung juga buka seperti biasa. Pulang ke rumah usai tetangga tunai jamaah tarawih. Anak sudah di rumah, terlelap. Kita pikir esok ia bisa mengejar tadarus, atau akhir pekan. Sampai bulan suci berlalu.

Berapa uang yang kita hamburkan untuk merasakan pengalaman "bulan suci di tanah suci"? Padahal kita sedekat ini mempunyai potensi "bulan suci di kampung kita sendiri".

Mari kembalikan ke lirik lagu Bimbo. "Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadan. Sekeluarga, sekampung, senegara."

Mulai dari keluarga kita dulu, adakah yang berbeda di Ramadan?

Related

tradisi 8375773824310459965

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item