Bapak dan Investasi yang Tak Lagi Kiwari


Bapak tidak cocok buat zaman ini, Pak! Zaman pagebluk, yang mungkin mengubah norma-norma.

Bapak tidak mungkin menolak tamu. Mereka yang sudah datang mengetuk pintu, jam berapapun, kapanpun, siapapun. Dandan, sisiran, dan pakai baju terbaik sebelum menemui tamu.

Hari ini mana ada, Pak? Sudah dianjurkan untuk tidak bertamu. Menerima tamu, jaga jarak. Sebelum pagebluk juga mensyaratkan berkabar sebelum bertamu sebagai norma baru. Tidak perlu dandan, sisiran, toh di rumah sendiri.

Bapak tidak bisa mengingkari undangan. Tidak memilih-milih, dan hanya kalender menjadi asisten Bapak. Siapa yang datang, dan kalender masih belum dilingkari, “Insyaallah saget”.

Hari ini tidak bisa, Pak. Harus dicek dulu siapa yang mengundang. Apa pandangan atau afiliasi politiknya. Kapan tanggalnya? Bukankah lebih baik dipakai acara makan-makan atau wisata?

Bapak, kenapa sih selalu datang melayat? Siapapun, di manapun, repot-repot berkunjung? Ketika pandemi masih bisa bilang “rasane kuwe ra penak banget”, meski melayat di tengah prosedur kesehatan. Meninggikan empati sebagai orang yang merasakan banyak sekali kehilangan dalam hidup, dibanding kesehatan.

Hari ini tidak bisa, Pak! Melayat ini aktivitas membahayakan. Layat prokes? Nanti tertular. Layat non prokes? Nanti bertemu banyak orang. Salaman sama keluarga yang ditinggalkan. Via WA saja Pak. Di WA Group juga bisa mengucapkan, ganti takziah, meski tidak ada relasi almarhum/ah yang menerima ucapannya.

Bapak kenapa ya, repot menjalin silaturahmi dengan keluarga almarhumah ibu? Malah seperti Bapak yang jadi keluarga inti pihak ibu. Mengurusi ini-itu, padahal kami yang masih bertali darah saja kadang tak peduli.

Hari ini tidak umum, Pak! Urusan keluarga ya keluarga inti saja. Aku dan anakku. Paling mentok saudara kandungku. Sisanya orang asing. Cukup relasi di WA group saja, seperti grup-grup kantor dan alumni.

Pak, buat apa bikin acara “kumpul kaji”? Selesai ibadah kan ya sudah. Ibadah itu buat individu saja. Bapak menghabiskan waktu akhir pekan, berbagai selapan yang berbeda, untuk menghadiri acara ini.

Hari ini jangan bikin acara-acara. Apa-apa diselesaikan dan bicarakan melalui media sosial saja. Kalau ada waktu luang, mending olahraga. Bersepeda. Habis itu kumpul sambil makan-makan. Tetap prokes. Yang penting foto.

Pak, menjelaskan dirimu ke orang kiwari itu sulit. Membaca tulisan orang-orang, tentang Bapak hadir pas nikahan mereka. Atau menulis Bapak melayat ketika kerabat mereka tiada. Atau mengunggah foto ketika bertamu ke rumah Bapak.

Orang kiwari berpikir Bapak itu mantan pejabat. Pasti kaya. Pasti sering anjangsana. Pasti sering menerima orang-orang penting.

Mungkin hanya yang kenal, tahu Hasyim itu tetangganya Bu Mah dan Bu Jiamah. Saudaranya Pak Jabir. Warga Besaran, Parakan. Dulu pakai GL Max plat merah, wara-wiri ke berbagai pelosok ngisi pengajian.

Tapi rasanya banyak yang kenal Bapak. Bapak yang tidak berubah dari sosok tersebut hingga berbagai sebutan menjelang. Pak Kakan, Pak Bupati, atau Pak Kyai. Bagi mereka, Bapak ya Pak Hasyim. Sama saja dulu dan sekarang.

Sepertinya memang banyak yang mengenal Pak Hasyim. Dulu saya pernah kecelakaan di antah berantah, dalam kondisi payah masih sempat terdengar “ini anak Pak Hasyim”.

Dalam ratusan karangan bunga, ketika Bapak tiada, yang menyebut kami, anak-anak Bapak, hanya hitungan jari. Bagaimana mungkin, relasi Bapak lebih mentereng dari kami, yang ikut norma kiwari?

Mungkinkah aliran takziah yang tidak bisa kami bendung ini buah dari Bapak yang selalu membuka pintu?

Mungkinkah aliran tahlil dan yasin yang diadakan bukan keluarga ini karena Bapak hadir ke lingkaran-lingkaran di tanggalan, entah dari siapa saja.

Mungkinkah sanak saudara sekalian pada hari kematian Bapak, semua mengunggah foto Bapak, karena senantiasa mengikat tali silaturahminya?

Rasanya, yang disalatkan warga di depan Pasar Parakan itu memang Pak Hasyim dari Besaran. Bukan pak manten. Pak Hasyim bagian dari mereka, relasi hasil dari undangan, takziah, tahlilan, pengajian, dan sebagainya.

Tapi Pak, ya seperti itu mungkin jadi tidak relevan. Dunia baru yang akan muncul ini akan makin disekat oleh kepentingan-kepentingan. Nilai-nilai lama yang menjadikan Bapak teladan barangkali akan jadi norma yang bertentangan.

Ah, jadi karena itu Bapak pergi?

Rasanya tidak. Karena Bapak masih dan selalu percaya nilai yang dianut itu akan selalu relevan. Buktinya Bapak masih mau jadi guru. Buat pondok bagi anak-anak karena yakin dengan prinsip agama yang bisa diwariskan.

Manifes utama agama adalah akhlak, dan realisasi utama akhlak adalah ukhwah.

Mungkin memang zaman akan tidak relevan dengan prinsip itu, Pak. Namun boleh saya berharap yang akan menegakkan panji itu masih ada. Terutama dari mereka yang kenal Bapak.

Related

STICKY 9072313503633171359

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item