It's a Long Way (to the Top) if You Want to Speak


Saya mengenal Talk Inc jauh-jauh hari ketika mendapatkan buku yang ditulis Becky Tumewu dan Erwin Parengkuan sekitar awal 2010-an. Lupa persisnya, sama tidak ingatnya dengan sepertinya ada satu lagi individu yang menulis buku tersebut.

Long story short, expectation set because reputation most of the time preceding any premises. Oleh karena itu, ketika ada tawaran dari kantor untuk mengikuti kelas public speaking di Talk Inc, mengikuti ujaran terkenal mantan musisi Indonesia: “Aku sih, yes!”

So, dimulailah kelas di Talk Inc, sekitar 9 minggu slilam. Kali ini, seperti norma-norma baru terkait pandemi, terpaksa diadakan tatap daring. Tetapi mungkin karena normalitas baru ini pula, ada tweak dari Talk Inc untuk mengakomodasi berbicara di depan layar melalui Zoom, Meet, dan sebangsanya sebagai bentuk public speaking juga. Anyhow, ini akan jadi bekal ilmu yang menarik juga.

Ekspektasi langsung tinggi di pertemuan pertama bersama Lala Tangkudung. Penyiar radio tersebut langsung banyak spill (meminjam istilah kekinian) kunci-kunci dalam public speaking. Dari menyusun tampilan yang baik di layar (sejengkal dari atas monitor) hingga olah vokal.

“Mas Luvi punya timbre vokal yang khas kalau dilatih,” kata mbak Lala mengomentari peserta yang (bukan) kebetulan saya kenal.

Dari mbak Lala ini saya berpikir bahwa untuk jadi public speaker, setidaknya fasih cas-cis-cus layaknya para announcer radio, memang ada jalannya. Tetapi sepertinya jalannya akan seperti yang disampaikan band AC/DC: “It’s a long way to the top if you wanna rock and roll.

Pada pertemuan kedua, bersama Fernando Edo, semakin memperlihatkan jalan tersebut. Sesi yang membicarakan tentang pembuka tersebut, bagi saya, sangat berkesan karena menjadi basis untuk menganalisa bagimana opening perfoma hebat dari para public speaker kondang. Oh, ternyata kuncinya storytelling. Pantas saja di acara-acara talkshow yang makin menjamur di YouTube saat pandemi, skema ini banyak diresital.

Being a storyteller, yes I wouldn't mind.

Yang juga jadi favorit saya adalah ketika mendapatkan ilmu membuat konten pada pertemuan ketiga bersama Willy Priyoko, atau yang lebih saya kenal dengan nama Om Wepe berkat video kucingnya di YouTube. Formulasi konten yang diajarkan pada sesi inilah yang kemudian, rasanya, menjadi ilmu yang paling sering saya praktekkan ketika membuat konten.

Tips untuk menyusun struktur konten dari formula What – So What – Now What menjadi satu mantra yang sejak pertemuan tersebut saya aplikasikan. Baik dalam menyusun outline praktik speaking di sesi-sesi lanjutan, hingga untuk urusan pekerjaan di kantor. Misalnya membuat materi presentasi.

Bagi saya, tiga pertemuan awal di kelas Talk Inc tersebut yang menjadi fondasi penting ilmu baru yang saya dapat. Untuk menjadi se-level para pengajar dalam berbicara di depan umum, apalagi para founder Talk Inc, saya percaya masih butuh ribuan jam dan tempaan yang lebih keji ketimbang komentar para pengajar usai praktik.

Oh yes, we were judged.

Sesi-sesi selanjutnya, bagi saya, memang lebih terkenang praktik demi praktik yang kami lakukan. Kadang-kadang berpikir mengapa di sesi berikut penampilannya malah lebih kedodoran? Are we regressing?

Saya pikir public speaking juga merupakan proses yang muncul dari tempaan. Seorang Barack Obama tidak tiba-tiba instan bisa bicara effortlessly di depan siapa saja. Ada naik turun dalam puluhan ribu jam ia berbicara. Salah satunya pasti sama seperti saya, banyak filler, tatapan tidak ke audiens, atau blank karena grogi.

Mindset usai menjalani sesi-sesi ini jadi perlu diluruskan. Bahwa kelas-kelas yang meyita 9 Sabtu saya akhir-akhir ini baru permulaan. Segala ilmu yang diserap tidak akan ada gunanya apabila tidak dipraktekkan.

Jalan untuk menuju ke atas masih seperti choki-choki. Panjang dan lama. Dan bukan tanpa alasan bila buku Talk Inc yang dulu disusun Becky Tumewu dan Erwin Parengkuan itu terdiri lebih dari 300 halaman kertas (hanya) untuk membicarakan seni berbicara.

I have just only scratch the surface. One thing for sure, I won’t take this experience for granted.

Sesi terakhir Sabtu (20/11) lalu adalah akhir dari awal.

Path is open to be (better) introvert storyteller.

Related

willy priyoko 528414142347653716

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Podcast

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item