Messias dan Kosakata Kesempatan yang Memberkati Brasil


Pekan ini, pemain AC Milan, Junior Messias mencuri garis utama dalam aras berita. Narasi tentang hasil pertandingan satu hal, tetapi cerita mengenai subyeknya juga sama-sama seru. Terutama kisah Messias.

Sama seperti jutaan pemuda Brasil umumnya, Junior Messias bisa bermain bola tetapi butuh uang juga untuk kebutuhan ekonominya. Lantaran kesempatan jadi pebola profesional mampat, ia akhirnya merantau ke Italia. Bekerja jadi buruh konstruksi, kemudian tukang angkut. Bahasa populernya, jadi kuli.

Dulu, sekitar dua dekade sebelumnya, ada juga orang Brasil yang merantau. Ia bekerja di kapal pesiar milik perusahaan Italia. Tiap kali kapal berlabuh, ia dan kru tak pernah melewatkan kesempatan bermain bola. Mereka bahkan mendirikan klub amatir.

Suatu saat, kapalnya berlabuh cukup lama di Italia. Bos kapal memberi kesempatan klub amatirnya untuk ikut turnamen lokal. Mereka bermain, dan si orang Brasil kemudian ditawari trial di klub sepak bola Swiss, Bellinzona.

Ndilalah diterima. Dan ia kemudian dapat kesempatan masuk tim yang berlaga di liga Swiss. Konon gaji berlayarnya lebih tinggi daripada pendapatan bermain bolanya. Namun baginya, ini adalah soal kesempatan. Bukan uang.

Messias juga sama. Terbiasa main bola bersama teman-teman kulinya, ia sering diajak bermain di klub amatir Casale. Rekan setimnya rata-rata anak muda lulusan SSB atau mereka yang pro-am. Main bola tapi sambil bekerja.

Messias berusia 25 tahun ketika klub Serie D, Gozzano, mengontraknya secara profesional. Artinya, Messias tidak lagi boleh jadi kuli angkut. Tugasnya hanya fokus ke sepak bola

Sama seperti desertir kapal pesiar yang bermain di klub Liga Swiss. Gaji Messias sebagai kuli barangkali lebih tinggi dibanding main di Serie D. Akan tetapi sepak bola punya caranya sendiri untuk membawa orang menekuni mimpinya.

Apalagi DNA mereka adalah orang Brasil. Seperti David Goldblatt bilang, di bukunya Futebol Nation, Brasil adalah negara pertama yang menemukan cara bermain bola dengan mengombinasikan bakat dan kemampuan fisik. Dan itu ditemukan ketika kuli-kuli seperti Messias mulai diperbolehkan main bola.

Bersama Gozzano, Messias promosi ke Serie C. Pada Januari 2019, klub Serie B Crotone memboyong Messias. Musim berikutnya, Crotone promosi dan selang tiga tahun dari bermain bersama buruh bangunan, ia bermain melawan Leonardo Bonucci dan Milan Skriniar di Serie A. Awal musim ini, Messias ditarik AC Milan.

4 tahun setelah bermain di Serie D (di usia 25 tahun), sebagai debut profesionalnya, Messias mencetak gol kemenangan di Liga Champions. Bersama AC Milan, juara 7 kali gelaran tersebut. Untuk sampai ke sana, jalan Messias tidak ditilik dari karier profesionalnya yang baru berusia 4 musim.

Cerita Messias banyak dikutip karena memberikan kepercayaan lagi pada kosakata yang disebut dengan "kesempatan". Messias tahu bahwa sesimpel ia ditarik AC Milan untuk jadi bagian tim tersebut adalah pencapaian kerja kerasnya. Bukan persoalan ia dibayar berapa, sama seperti mula kariernya yang merelakan gaji kuli angkut demi kesempatan menjadi bagian klub sepak bola.

Kisah Paralel Amauri


Messias mengalami hal paralel dengan imigran Brasil yang saya ceritakan di atas. Generasi sekarang barangkali asing dengan nama Amauri. Namun, mereka yang dulu akrab dengan Serie A di awal milenia tentu ingat sosoknya.

Dari Bellinzona, Amauri dipinang Parma. Berpindah beberapa kali, namanya baru berkibar kala dirinya menjadi striker Chievo Verona.

Amauri bermain 90 kali untuk Chievo, yang mengantarnya hingga ke Juventus (melalui Palermo). Ia bahkan sempat masuk ke tim nasional Italia. Jalan menuju ke puncak tak sesingkat (kata Andy Warhol) 15 detiknya dalam puncak popularitas. Amauri tidak pernah “take off” di Juventus. Bisa jadi Messias juga akan bernasib sama.

Cerita mereka bukan tentang gemilangnya talenta, layaknya kisah Carlos Tevez atau Ronaldo Nazario (yang juga punya latar cerita merana). Amauri dan Messias adalah balada orang-orang yang bertaruh pada diri mereka sendiri dan mengaplikasikan mantra terkenal “carpe diem”.

Sejatinya, sepak bola Brasil memang didapat dari mantra tersebut. Desakan anak-anak peladang tebu, bekas budak, untuk bisa main bersama tuan tanah mereka yang kaukasia. Di klub-klub yang tadinya eksklusif, ketika terbuka, akhirnya mereka mulai mendominasi jagad sepak bola.

Era diktator Vargas di akhir 1920-an dengan Brasilidade-nya justru membuka peluang negara baru tesebut menemukan aset berharga mereka: sepak bola. Dimulai dari Brasilisasi dengan "naturalisasi" klub seperti Palestra Italia yang diwajibkan membaur sehingga menjadi Palmeiras. Atau identitas asing yang kemudian lenyap di Curitiba dan Cruzeiro.

Pembauran yang juga ditandai dengan menjadi negara pertama yang melakukan amalgamasi antarras di lapangan hijau. Mengombinasikan disiplin kulit putih dengan atletisisme keturunan Afrika. Ditambah dengan hybrid para mulatto - kaum blasteran Afro-kaukasia. Sebelum Vargas, mereka dilarang bermain sepak bola nasional.

Justru pembauran ini yang akhirnya membuat identitas unik Brasil sampai sekarang. Dominasi mereka dibawa ketika pertama kali showcase hasil pembauran dengan membawa Leonidas ke Perancis 1938. Lalu siapa yang yang turut berada di puncak Piala Dunia pertama usai perang? Brasil.

Nama Pele, Garrincha, Socrates, Aldair, dan seterusnya adalah buah dari dibukanya kesempatan kepada semua orang Brasil untuk bermimpi lewat sepak bola. Mimpi yang inklusif, sehingga alirannya tidak berhenti sampai sekarang. Brasil memproduksi ribuan pebola tiap tahun, dan mereka adalah negara terbanyak yang mengirim tenaga kerja ke luar negeri dalam wujud pemain bola.

Ekspornya tidak pernah berhenti, dan kisah-kisah seperti Messias dan Amauri saya yakin masih akan selalu terjadi. Selama manusia masih percaya terhadap yang namanya kesempatan.

Related

STICKY 8515721083998166771

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item