Riwayat Hasyim Afandi: Dari Pembuat Tahu sampai Mengasuh Pondok Pesantren


Hasyim Afandi lahir di Parakan, Temanggung, pada 1946 dari pasangan Suhaimin dan Robitah. Tanggal lahir Hasyim secara resmi tercatat pada 1 Juli 1946 dalam dokumen kependudukan. Namun, seperti yang pernah dikatakannya, tanggal lahir tersebut dibuat secara kolektif bagi siswa SD yang baru masuk pada tahun ajaran 1953/1954.

Hasyim hanya ingat weton-nya, yaitu Jumat Wage, dan anekdot orang tuanya kalau ia dulunya akan dinamakan Jumadi lantaran lahir di bulan Jumadil. Dari kalender penanggalan tahun 1946, hari Jumat Wage pada bulan Jumadil Awal 1365 H jatuh pada tanggal 12 April 1946. Sedangkan Jumat Wage pada Jumadil Akhir 1365 H jatuh pada tanggal 17 Mei 1946. Apapun, secara resmi milad Hasyim Afandi diperingati pada 1 Juli.

Putera bungsu dari pedagang tahu, sejak kecil Hasyim tinggal di lingkungan sekitar Pasar Legi Parakan. Mulanya di Klewogan, kemudian bergeser sedikit mendekati pasar ke Besaran (dahulu bernama Kuncisari). Ia adalah anak ketiga, setelah kakak-kakak perempuannya Sintiyah dan Martinah. Martinah meninggal dunia ketika Hasyim berusia 6 tahun.

Riwayat Akademik

Hasyim memulai pendidikan akademiknya di SD Negeri I Parakan, dilanjutkan dengan bersekolah di SMP Al Iman Parakan, dan SMA Negeri I Temanggung. Di sela-sela libur sekolah, ketika SMP dan SMA, ia belajar mengaji ke berbagai pondok pesantren, baik di Parakan sendiri sampai ke Tegalrejo, Magelang. Minat dan aktivitasnya banyak dihabiskan bersama organisasi kepemudaan Nahdlatul Oelama (NU) Parakan.

Usai menuntaskan pendidikan menengah, pada 1965 Hasyim melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Meski dengan banyak kekurangan secara ekonomi, Hasyim berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun.

“Di akhir kuliah, mbakyu selalu berpesan: ‘Syim, ini uang kuliahmu, seharusnya uang ini untuk kulak kedelai. Lekas selesai kuliah, tidak usah pacaran, tidak usah aneh-aneh.’, kenangnya. “Ini jadi motivasi untuk bisa secepatnya lulus.” 

Masa-masa Hasyim tinggal di Yogyakarta adalah masa penuh perjuangan sebagaimana yang pernah beliau ceritakan. “Dulu saya kuliah jalan kadang naik sepeda dari daerah Kauman ke arah Tugu Jogja terus jalan ke arah IAIN sambil membawa handuk dan jarit, aku tawarkan door to door buat tambah-tambah biaya kuliah.”

Pada masanya, ada opsi untuk sampai ke gelar sarjana muda (BA), tanpa menyelesaikan tesis. Namun Hasyim berhasil menuntaskan kuliah untuk meraih gelar sarjana yang pada masa itu bertitel doktorandus (Drs).

Pada masa kuliah pula, Hasyim bertemu dengan Isnadiyah, teman sekelasnya. Perempuan asal Suruh, Salatiga, tersebut kemudian dipinang untuk menjadi istri, serta diboyong kembali ke Parakan.

Usai kuliah, pada 1969, kondisi ekonomi Indonesia tengah menjalani transisi kepemimpinan. Lapangan kerja belum banyak tersedia, sehingga Hasyim menjalani profesi ganda sebagai guru honorer di SMP Al Iman dan meneruskan pekerjaan membuat tahu dari orangtuanya. Ketika situasi ekonomi semakin sulit, ditambah dengan hadirnya anak pertama pada 1973, Hasyim sempat berencana untuk transmigrasi ke Sumatra. Pilihan tersebut urung karena tak lama ayahnya, Suhaimin, meninggal dunia. Hasyim kini menjadi tumpuan untuk menjalankan bisnis tahu yang dimiliki keluarga.

“Masa-masa itu merupakan masa sulit, tetapi setiap butir kedelai yang terlibat, berperan membentuk saya saat ini,” kata Hasyim mengenang.

Karier Pegawai Negeri

Kondisi ekonomi sedikit terbuka ketika tahun 1979 ia diterima sebagai pegawai negeri di Departemen Agama Kabupaten Temanggung. Namun, pilihan itu membawa konsekuensi bahwa bisnis tahu milik keluarganya harus ditutup. Ibunya, Robitah, memilih untuk berdagang baju di Pasar Legi.

Pada masa itu, orde baru, menjadi pegawai negeri artinya harus menjadi anggota dari partai penguasa, Golongan Karya (Golkar). Demikian juga dengan Hasyim, yang meski sejak muda aktif di NU, akhirnya harus bergabung dengan Golkar. Pilihan ini sempat menimbulkan ketegangan di lingkungannya, basis massa NU, yang memuncak di sekitar Pemilu 1982. Namun, hal ini tak menyurutkan Hasyim yang memang cenderung aktif di manapun ia berada.

"Yang penting selalu berpegang pada prinsip agama. Apa yang dilarang, dijauhi," tegasnya.

Baik di lingkungan kantor maupun Golkar, Hasyim terlibat dalam berbagai kegiatan. Kariernya di Departemen Agama naik, dari menjadi Kepala Seksi, sampai ke Kepala Sub Bagian Tata Usaha. Demikian juga di partai politik, pada periode legislasi 1987, ia terpilih menjadi anggota DPRD dari Golkar di Temanggung.

Menjalani karier dan anggota DPRD, Hasyim masih beberapa kali menerima tawaran mengisi pengajian ke berbagai pelosok Temanggung. “Dengan sepeda motor, saya pernah mengisi pengajian dari ujung Tembarak hingga Tretep,” kenangnya di suatu masa.

Hasyim memang tidak pernah jauh dari agama. Dan mengajar tampaknya menjadi ghirah, atau dorongan hidupnya. Ia menerima anak-anak sekitar rumah yang belajar tadarus setiap usai Maghrib. Setelah Isya, biasanya ikut atau mengisi berbagai pengajian.

Pada tahun 1989, berbekal dukungan dana dari istrinya, Isnadiyah, Hasyim pergi menunaikan ibadah haji. “Istri saya menyimpan uang dari ‘gaji’-nya sebagai ibu rumah tangga. Uang itu digunakan untuk melunasi biaya perjalanan haji.” Haji, kenangnya, mengubah banyak hal terutama terkait tujuan hidupnya. Perjalanan ini begitu berkesan, sehingga Hasyim bertekad untuk memberangkatkan istrinya untuk haji pada periode berikut (tahun 1992).

“Haji menjadi tempat saya berkeluh kesah kepada Allah,” kenangnya. “Saya selalu ‘melaporkan’ capaian dan juga keluhan dengan ke Tanah Suci.”

Sayangnya, pada 1991, sekitar setahun dari jadwal keberangkatannya, Isnadiyah meninggal dunia di usia 45 tahun, meninggalkan Hasyim dan 3 orang anak. “Ibumu wafat ketika segala sesuatunya seperti sedang tertata dan menuju ke puncak,” ujar Hasyim kepada anak-anaknya. “Ini menjadikan pelajaran bahwa kita ini kecil dalam rencana Yang Maha Rencana.”

Ujaran tersebut muncul ketika tidak lama kemudian, Hasyim diminta untuk menjadi Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Magelang. Perjalanan karier yang ditatanya dari tahun 1979 menemui titik tinggi di usianya yang ke-46.

Untuk mengiringi kariernya, serta kebutuhan sosok ibu bagi anak bungsunya yang masih berusia 11 tahun, pada tahun 1993 Hasyim menikah dengan Lies Daryati. Lies merupakan mantan istri dari almarhum Saiful Islam, sahabat Hasyim dari masa kecil. Lies membawa 3 orang anaknya ke keluarga baru Hasyim. Kehidupan baru ini mengiringi kepindahan Hasyim dan keluarga dari Parakan ke Magelang. 

Menjadi Bupati

Selama menjadi Kepala Kantor Departemen Agama, Hasyim menjalin hubungan baik dengan berbagai ulama dan pemuka agama. Kabupaten Magelang memiliki sejumlah tokoh agama yang berpengaruh, di antaranya dari Pondok Pesantren Tegalrejo, Pabelan Muntilan, Watu Congol, dan sebagainya. Jejaring ini kemudian yang mendorong nama Hasyim ikut mengapung jelang pemilihan Bupati Magelang periode 1999 - 2004.

Pada masa itu, pemilihan Bupati masih dijalankan oleh DPRD, bukan pilihan langsung. Nama Hasyim, yang didorong dari Golkar, mendapat restu dari berbagai pemuka agama. Jadilah ia kemudian menjabat menjadi Bupati Kabupaten Magelang, pejabat dari kalangan sipil pertama setelah sekian lama dipimpin kalangan militer (Kol H Mohammad Solihin dan Kol H Kardi sebelumnya, dari 1984 - 1999).

Hasyim purnakarya dari status Pegawai Negeri Sipil pada 2002. Sehingga, ketika masa jabatan Bupatinya selesai pada 2004, ia kembali ke kampung halamannya di Parakan, Temanggung. Masa-masa ini diisinya aktif berkegiatan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Temanggung, yang memicu banyak diskusi dan interaksi dengan pemuka agama.

Interaksi tersebut membangkitkan keinginan lamanya sebagai pengajar. Ia berangan-angan untuk membangun pondok pesantren di Temanggung. “Mbuh piye, insyaallah,” ujarnya.

Pada tahun 2007, masyarakat Temanggung yang menjelang pemilihan kepala daerah langsung, menyampaikan aspirasi mereka agar Hasyim bersedia menjadi salah satu kandidat Bupati. Pilihan ini menjadi dilematis antara menuruti aspirasi atau menjalankan cita-citanya sebagai pengajar dan membangun pondok tadi.

“Saya hanya berpikir, karena masih kuat ya berbakti,” jelas Hasyim kepada anak-anaknya, ketika mengemukakan pilihannya untuk maju ke kontestasi. Hasyim kemudian terpilih sebagai Bupati Kabupaten Temanggung periode 2008-2013.

Mewujudkan Mimpi

Bagaimanapun juga, menyadari usia dan terlebih cita-citanya yang lain, sejak awal Hasyim menetapkan hanya akan menjalani Bupati untuk satu periode. Ia, di sisi lain, juga terus mencoba mewujudkan keinginannya untuk membaktikan diri ke agama dengan mendirikan pondok pesantren. “Sungguh Gusti terlalu sayang dengan saya,” kata Hasyim. “Segalanya dipermudah, sampai tiba-tiba ada yang menawarkan tanah wakafnya untuk dijadikan pondok.”

Tahun 2012, setahun jelang masa jabatan Bupatinya berakhir, bangunan pondok pesantren Nida Al Quran sudah berdiri di daerah Tegalsari, Kedu. Di usianya yang ke-66, ia melihat mimpinya terwujud. “Sekarang, inilah ‘anak saya’. Yang akan diasuh, ditumbuhkembangkan, menggantikan kalian yang sudah punya kehidupan masing-masing,” ujar Hasyim kepada anak-anaknya.

Selesai masa jabatan Bupati, Hasyim tidak kembali ke Parakan, tetapi menetap di kompleks Pondok. Ia masih aktif mengajar, mengelola, dan menjalankan operasional pondok hingga akhir hayatnya, setahun yang lalu, di usia 75 tahun.

“Saat ini, Allah sudah mengabulkan segalanya,” kata Hasyim ketika dijumpai sedang membersihkan lantai Masjid Nida Al Quran. “Kalau orang sekarang bilang: ‘I am living my dream’.”

Dari anak pembuat tahu di Besaran, hingga kemudian dimakamkan di Besaran. Di antaranya, riwayat Hasyim Afandi adalah bagaimana menjalani mimpi dengan menjadi hidup.

Ngimpi gawe urip, ora urip gawe ngimpi.


* Disusun sebagai manakib untuk acara haul 1 tahun wafatnya Hasyim Afandi, 5 Juli 2022.

Related

temanggung 1222917809512837268

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item