Hasil Survei Kebiasaan dan Preferensi Peminum Kopi


Sekitar 7 tahun yang lalu, saya membuat survei untuk mengetahui kebiasaan minum kopi bagi audiens yang ada di wilayah Jabodetabek.

Survei ini saya buat ketika gelombang ketiga kopi mulai melanda Indonesia. Waktu itu mulai muncul beberapa chainstore dan kedai artisan yang turut memopulerkan gaya hidup minum kopi. Dalam survei ini, saya coba merekam beberapa preferensi, mulai dari pilihan kedai, metode seduh, membeli biji, dan pada umumnya konsumsi kopi.

Setelah beberapa lama, survei ini tidak pernah saya close dan memperbarui diri sampai sekarang. Ketika saya menengok hasilnya, beberapa sudah berubah seiring dengan perkembangan zaman dan tentunya preferensi.

Responden survei ini didominasi kelompok usia mahasiswa (42%) dan pekerja mula (23%). Mereka yang ada di rentang usia 18-27 tahun tersebut adalah kelompok terbesar yang menjawab survei ini. Secara strata ekonomi, responden sebagian besar masih di segmen SES BC dengan pengeluaran sebulan di bawah 5 juta rupiah.

Dari seluruh responden, 66% tinggal di wilayah Jabodetabek. Secara spesifik, Jakarta Selatan (15%) dan Tangerang (12%) menyumbang bagian cukup besar dalam proporsi responden. Potret mirip juga didapat dari tempat bekerja responden yang banyak dari Jakarta Selatan (24%) serta Tangerang Selatan (12%).

Kebiasaan Konsumsi Kopi


Ketika ditanya mengenai jumlah (gelas) kopi yang dikonsumsi dalam sehari, mayoritas responden (65%) menjawab hanya satu kali. Ada juga 23% responden yang mengaku mengonsumsi kopi tiga kali dalam sehari.

Dari waktu tersebut, kapan mereka meminum kopi? Menariknya, kopi yang identik dengan minuman pagi hanya dijawab oleh sebagian responden (42%). Sisanya rata antara siang dan sore (masing-masing 15%), kemudian agak naik (26%). Hal ini mengindikasikan bahwa kopi, berbeda dengan Italia misalnya, masih merupakan occassional beverage, belum menjadi kebiasaan kultural.

Lalu, bagaimanakah kopi yang mereka konsumsi? Mayoritas responden (75%) mereka memilih mengonsumsi kopi dengan campuran (seperti susu) dibandingkan dengan kopi hitam. Untuk rasio penikmat kopi dengan dan tanpa gula, angkanya berimbang 49% berbanding 51%.

Mayoritas responden (75%) juga mengaku bahwa mereka lebih memilih membeli kopi jadi ketimbang harus menyeduh sendiri. Mereka biasanya membeli kopi dari kedai khusus (kopi) pada waktu siang (46%) dan malam (38%). Dikaitkan dengan jawaban sebelumnya, penikmat kopi pada pagi hari rupanya adalah mereka yang menyeduh sendiri, bukan pembeli kopi jadi.

Responden juga mengaku lebih memilih mengunjungi kedai kopi di akhir pekan (75%) dibandingkan dengan hari kerja. Survey ini di antaranya dilakukan sebelum era pandemi. Sehingga, hal ini akan menjadi menarik untuk dilihat pemetaannya dengan persebaran tempat tinggal dan tempat kerja responden.

Kedai Kopi


Salah satu output yang diharapkan muncul dari survei ini adalah untuk mengetahui apakah gelombang ketiga kopi berdampak dalam preferensi dan konsumsi?

Istilah-istilah yang mungkin baru populer belakangan, seperti "roastery", ternyata diketahui mayoritas (67%) responden. Sedangkan istilah lain seperti "specialty coffee", belum terlalu familiar. Hal ini mungkin merefleksikan mengenai preferensi konsumsi kopi mereka sendiri yang tidak terlalu rumit.

Pandangan ini tercermin juga ketika responden ditanya pertimbangan memilih kedai kopi. Rasa ternyata  bukan elemen yang utama. Pertimbangan lokasi, suasana, dan harga masih berada di atas rasa.

Sementara, untuk fasilitas, responden menjawab tiga hal yang harus ada dalam kedai kopi. Yang pertama adalah Wi-Fi atau koneksi internet (38%), kemudian smoking room (31%) dan ruang ber-AC (23%) juga menjadi pilihan fasilitas penting.

Mayoritas responden (75%) juga mengaku mereka jauh lebih memilih untuk mengunjungi kedai kopi yang memiliki bangunan sendiri. Apalagi bila bangunan tersebut ditunjang dengan desain ruangan yang fotogenik (bahasa kekiniannya: instagrammable).

Mulai membaiknya informasi mengenai kopi menyebabkan responden mayoritas (71%) juga mulai selektif dalam memilih jenis kopi yang dikonsumsi. Istilah yang dikenal dalam pemilihan kopi juga mulai masuk dalam sebagian leksika responden. "Single origin" menjadi tema yang paling populer, dengan separuh responden mengetahui istilah tersebut.

Asal kopi (origin) dipertimbangkan 71% responden ketika memilih biji kopi. Sebagian besar responden (71%) juga mengaku bisa membedakan kopi arabica dan robusta. Tingkat rendeng (roast) kopi juga menjadi pertimbangan bagi sebagian responden. Namun, hanya sebagian kecil responden (28%) yang sampai mempertimbangkan proses olah kopi (washed, natural, dan sebagainya) sebagai pertimbangan pemilihan.

Dalam proses menyeduh (brewing), 67% responden mengaku memiliki preferensi khusus. Espresso menjadi metode seduh paling populer (42%) disusul tubruk (29%) dan filter (15%).

Efek Gelombang Ketiga

Hasil ini memperlihatkan preferensi kopi yang semakin berkembang dibandingkan sebelum gelombang ketiga muncul. Kesadaran akan proses seduh, asal biji, dan detail lainnya mulai muncul meskipun belum massal.

Munculnya kedai kopi dan habit untuk mengunjungi guna rendezvous, bersosialisasi, atau sekadar membeli kopi adalah fenomena lain yang disambut dengan berseminya tempat ngopi. Terutama di kantong-kantong responden (Jakarta Selatan, Tangerang, dan Tangerang Selatan).

Kedai-kedai yang naik turun mungkin bisa mengambil hikmah dari hasil survey ini, bahwa faktor dasar seperti lokasi dan fasilitas masih menjadi pertimbangan. Tetapi setelah pilihan-pilihan itu, faktor rasa dan sikap kritis konsumen bisa jadi mulai menjadi pertimbangan penting.

Akan menarik mengetahui di mana aspek rasa akan makin menanjak ketika diseminasi informasi mengenai kopi dan gelombang ketiga makin masuk ke masyarakat.

Atau, bisa jadi juga fenomena ini menjadi fenomena kultural yang final.

Related

urban living 3492033759049772867

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

Arsip Blog

Ads

Translate

item