Transfer Madness

Di Inggris, media menyebut istilah Transfer Window . Di Spanyol, lebih dikenal dengan frasa "Altas Bajas".Versi Italia melafalkan...


Di Inggris, media menyebut istilah Transfer Window. Di Spanyol, lebih dikenal dengan frasa "Altas Bajas".Versi Italia melafalkan "Calciomercato". Apapun istilahnya, ritual tahunan di dunia sepakbola itu melibatkan banyak uang bernominal ratusan juta Euro! Pertanyaannya: tidakkah berlebihan?

Bursa Transfer, demikian kita menyebutnya di Indonesia, adalah fase penting bagi sebuah klub sepakbola modern. Itu adalah aksi dari reaksi atas pencapaian di musim sebelumnya. Tak heran jika aktivitas Bursa Transfer yang heboh biasanya dilakukan oleh klub yang kurang puas dengan pencapaian di musim lampau. Sedikit banyak hal itu bermakna positif, sebab makin memeratakan kadar kompetisi dalam sebuah liga.

Liga Inggris, yang dari awal milenium mulai menanjak, makin gila dengan mulai turunnya sejumlah konglomerat asing ambil bagian dalam kompetisi sepakbola tertua di dunia. Sejak Roman Abramovich mengambil Chelsea di 2003, omset Liga Inggris makin tak masuk akal. Duit yang tak berbatas membuat harga pemain di kancah domestik Inggris mengalami inflasi.

Setelah lebih dari lima tahun, inflasi itu tak kunjung turun. Malah diperparah dengan makin banyaknya aksi jor-joran para milyarder dunia mengakuisisi klub Inggris dan berusaha menjadikannya kuda pacu unggulan. Terakhir, konglomerasi Arab bernama Abu Dhabi United sukses mengambil Manchester City dari tangan residivis Thailand, Thaksin Sinawatra.

Kembali ke inflasi, susah percaya rasanya melihat seorang Robbie Keane yang pernah gagal di Italia dan cenderung medioker sekembalinya di Inggris mampu dijual dengan angka 24 juta Euro! Keane bukan yang termahal. Harganya masih jauh di bawah raihan Abu Dhabi United mendatangkan Robinho ke City dengan banderol 42 juta Euro. Sekedar bandingan, Ronaldinho, yang notabene senior Robinho di timnas Brasil, plus peraih dua kali Ballon D'Or "hanya" dihargai 21 juta Euro dari Barcelona ke AC Milan di Liga Italia (Serie A).

Total 10 besar transfer Liga Inggris mencapai angka 239 juta Euro! Jelas superior dibanding Serie A yang hanya 164,15 juta Euro - selisih hampir 80 juta Euro, atau cukup untuk mendatangkan 4 orang kaliber Ricardo Quaresma yang menjadi pemain termahal di Italia.

Liga Spanyol yang biasa jor-joran, harus puas di posisi ketiga kali ini ketika omset 10 besar Altas Bajas hanya menyentuh angka 142,5 juta Euro. Tak seberapa jauh dari Serie A, namun jelas makin jauh dari Liga Inggris. La Liga juga lesu darah dalam mendatangkan bintang dari luar. Rekor termahal hanya diraih melalui transaksi lokal, yakni kepindahan Daniel Alves ke Barcelona dari Sevilla. Impor paling mahal paling hanya Aliaksandr Hleb dan Rafael Van Der Vaart, dengan jumlah hanya berkepala satu, yakni 16 dan 15 juta Euro.

Italia sedikit lebih bergairah dalam transaksi impor. Catatan termahal untuk Quaresma diikuti dengan kedatangan Dinho, Stevan Jovetic dan Sulley Muntari.Semuanya di atas angka 16 juta Euro. Tapi tetap tak seberapa jika dibandingkan dengan Premiership yang menggelontorkan lipat tiganya untuk mempercantik Premiership dengan nama-nama Jo, Luka Modric, Jose Bosingwa, Roman Pavlyuchenko dan Samir Nasri. Pemain yang disebut terakhir meraih raihan nominal yang sama dengan pemain yang digantikannya di Arsenal, yakni Hleb. An eye for an eye. Nasri adalah penghuni dasar 10 besar transfer di Liga Inggris dengan nominal 15 juta Euro. Di La Liga, beberapa pemain bersamaan menyentuh plafon 10 juta Euro di dasar sepuluh besar perpindahan termahal. Sementara Christian Poulsen "hanya" berharga 9,75 juta Euro untuk menjadi pemain kesepuluh termahal di Serie A musim ini, ketika pindah ke Juventus dari Sevilla.

Dengan jumlah fantastis yang dikucurkan Liga Inggris, apakah mereka memang sahih sebagai pemilik Liga Terbaik. Secara kuantitas: yes! Namun perlu disimak bahwa itu tak lepas dari gelembungan gila-gilaan para agen dan pemilik klub, sehingga menghasilkan angka transaksi yang "aneh". Dimitar Berbatov memang striker tangguh. Namun sedikit mengherankan, ketika dengan duit 37 juta Euro yang dikeluarkan Manchester United mereka bisa mendapatkan David Villa atau Samuel Etoo yang tentu lebih mentereng secara reputasi kontinental. Apakah itu hanya panic buying? Atau "kepandaian" manajemen Tottenham Hotspur mempermainkan harga Berbatov, ketika mereka melihat United hanya menginginkan striker Bulgaria berusia 27 tahun tersebut?

Spurs sendiri mengeluarkan dana besar guna mendatangkan Modric, David Bentley dan Pavlyuchenko. Total, ketiganya bisa mencapai 58 juta Euro! Dengan jumlah yang sama, mungkin Spurs bisa mnegimpor pemain yang lebih "reputable", sebut saja membajak Van Der Vaart, membeli Karim Benzema dan pemain termahal Serie A, Quaresma.

Sepertinya, Transfer Window di Inggris adalah ajang bagi para pemilik klub untuk saling pamer kekayaan. Terutama bagi klub-klub yang dimiliki oleh ekspatriat. Apa yang terjadi di Premiership seperti melihat fenomena sosial yang menjangkiti para OKB, alias Orang Kaya Baru. Mereka seolah jor-joran mengeluarkan dana overpaid untuk pemain yang overrated.

Kucuran ratusan juta Euro akan menjadi bumerang ketika prestasi yang hendak dibeli tak kunjung tiba. Jika menilik hasil dari tiga partai perdana, menarik untuk melihat apakah Spurs, salah satu pembelanja paling boros di EPL, akan bernasib seperti halnya Lazio di Serie A di era Sergio Cragnotti. Waktu itu Lazio sama seperti Spurs, galak di bursa transfer, namun kurang berhitung cermat, sehingga ketika hasil yang dipetik jauh panggang dari api, klub berjuluk Aquilloti itu gulung tikar!

Aksi berujung reaksi yang akan menghasilkan aksi. Itu hukum alam. Klub bereaksi atas aksi di musim lalu dalam wujud bursa transfer. Itu akan kembali menghasilkan aksi, berupa pencapaian di lapangan hijau. Reaksi dari hal itu juga akan menarik. Bisa berupa sanjungan, atau malah hujatan yang berujung pemecatan. Jika gagal, maka reaksi di musim depan juga bakal sama saja.

Buntutnya, kita sebagai penikmat sepak terjang para klub itu yang merasa terhibur. Terbuai oleh harapan-harapan dari para bintang yang dibeli dengan harga mahal tersebut. Harapan yang kadang tak sesuai kenyataan, akibat semua terlalu silau dengan nilai ekonomis belaka.

Menarik dinanti!

Foto: Welt
Reactions: 

Related

football 2725002499579841967

Posting Komentar Default Comments

5 komentar

Arif Rahmat Basuki mengatakan...

Priemership memang penuh kejutan dan kegilaan. Sayang ga ditayangin TV reguler. Disaat kemewahan tontonan sedang diobral. Kita dipermainkan pemodal media yang tamak..Ironis.Memang saatnya kita ber-Seri A mania kali. he2

ipul mengatakan...

Saya koq merasa ada yang makin hilang dari persaingan gila2an di Premiership...makin banyak klub yang pengen buru2 memanen hasil tanpa mau bersusah payah menanam sendiri bakat2nya...

nafsu para kapitalis besar itu rasanya mulai mengotori nilai murni sepakbola...semua mau serba instant dan gak sabaran..

Helman Taofani mengatakan...

@Basuki: Ditayangin tuh di TV-One. Hehehehe...tapi Serie A sekarang emang lagi menarik. Lazio dan Atalanta di Capolista, dan Milan di jurang klasemen bareng Fiorentina dan Roma? Hahahaha...

Helman Taofani mengatakan...

@Ipul: Resiko yang harus ditanggung ketika bola jadi kapital kan?

oom Kumis mengatakan...

Premiership emang lagin IN banget sekarang, kaya' serie A jaman taon '97 s/d awal 2000-an....
tapi gw ga' terlalu pikirin masalah 'ntu, yang penting masih ada TV yang berbaik hati mao nyiarin langsung Match liga inggris dan ataw liga itali....

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item