Mei 21, 2013 0 Comments

A Warp Too Fast


Bagi non-trekkies (sebutan untuk yang bukan penggemar franchise Star Trek), film pertama Star Trek (2009) karya JJ Abrams mampu mengantar mereka untuk memahami jagad raya adaptasi cerita Gene Roddenberry. Non-trekkies bisa mengerti karakteristik James Kirk, bangsa Vulcan dengan ikonnya, Spock, dan berbagai karakter lain yang turut memberi sukses Enterprise bertahan menahun di televisi.

Bab pertama adalah prolog, lalu ekspektasi tentang sambungan Star Trek yang dirilis pekan lalu tentu meninggi. Dunia apa lagi yang akan dibawa Abrams bagi semua penonton untuk bersentuhan dengan luar angkasa?

Abrams dan tim penulis naskahnya (Orci-Kurtzman) memanggungkan Khan, salah satu villain terberat dalam sejarah Star Trek. Film fitur panjang terakhir yang cukup sukses dari Star Trek adalah versi The Wrath of Khan (1982) yang menewaskan Spock. Sehingga, Khan dianggap sebagai nemesis Star Trek era James Kirk. Kini ia muncul lebih awal, di instalasi kedua, dengan Benedict Cumberbatch yang sohor sebagai Sherlock Holmes memerankan sang penjahat.

Inti konflik dari film ini berpusar di lingkaran intrik yang menyelubungi kehadiran Khan, dengan kru Enterprise terjebak di tengahnya. Bagi trekkies, kehadiran Khan bisa meletupkan emosi mereka ketika mengetahui sang nemesis muncul di sekuel awal. Bagi non-trekkies, Khan tetaplah penjahat biasa. Penampilannya bahkan manusia, bukan alien layaknya bangsa Romulan di film pertama.

Benedict Cumberbatch juga tidak memperlihatkan aura sebagai super-villain yang mampu memberikan teror terhadap kru Enterprise. Tidak sesuai dengan premis yang diantar trailernya.

Cumberbatch dengan suara bariton berat, satu genre dengan Alan Rickman atau Jeremy Irons, sebetulnya lebih cocok mengisi karakter psikologis, bukan fisik. Alhasil, Khan di Star Trek Into Darkness tidak terlihat sisi fierce-nya yang membuat Spock versi Leonard Nimoy terpaksa mengorbankan diri sendiri.

Non-trekkies mungkin bertanya, apa istimewanya Khan? Di film pertama, penggemar dimanjakan dengan gambar-gambar indah luar angkasa, lubang hitam, pertempuran kapal angkasa, dan teknologi advanced (warp). Di film kedua, tidak banyak keindahan angkasa, pertempuran kapal, dan pemanfaatan teknologi. Lebih banyak didominasi adegan laga fisik.

Sayang, padahal di awal film Abrams telah membangun dengan cantik adegan di Planet Nibiru. Script kecil di hutan merah dan planet vulkanis itu mirip dengan kasus yang sering dihadapi kru Enterprise di serial televisinya. Mereka menyelesaikan satu kasus dengan teamwork, dan kecanggihan teknologi yang di-ekspose dalam kaidahnya sebagai film sci-fi.

Khan mendistorsi ekspektasi itu, dengan menggeser Star Trek Into Darkness lebih ke ranah laga (pop action) dan thriller (dengan kerumitan skenario). Mungkin memang belum saatnya, bagi non-trekkies, untuk diperkenalkan dengan sang super-villain, ketika mereka masih mencoba meraba luasnya dunia Star Trek.
0 Comments

Ray in Peace


20 Mei 2013, di usia 74 tahun, kibordis yang sekaligus pendiri The Doors, Ray Manzarek, dinyatakan meninggal dunia. Usianya memang tak lagi muda, tapi saya masih belum begitu percaya bahwa salah satu jenius berbakat di dunia musik ini sudah tidak ada.

Ketika sebagian besar (99%) orang memuja Jim Morrison kala mengenal The Doors, saya dari awal cenderung ke kubu Ray Manzarek. Sahabat Jim yang berkacamata ini kebetulan mempunyai tanggal lahir yang sama dengan saya, 12 Februari. Ia adalah ice-breaker saya ketika berbicara tanggal lahir.

"12 Februari. Saya merayakan ulang tahun bersama Abraham Lincoln, Charles Darwin, dan Ray Manzarek," demikian ucapan yang sering saya lontarkan.

Ray adalah kibordis yang otaknya terbelah menjadi banyak bagian. Bila berbicara multitasking, ia adalah contoh sempurna. Dengan karakter Jim yang on-off, Ray acap menekel tugas Jimbo di atas pentas. Sering terjadi ia menyanyikan part lagu The Doors menghadap mik, tangan kiri menekan tuts kibor atas mendendangkan bas, sementara tangan kanan di kibor bawah memencet ritem dan melodi. And the fire were lit, The Doors juga melegenda tanpa perlu meregistrasi pemain bas resmi.

Usai Jimbo menghilang dari dunia, Ray membawa panji The Doors bersama Robby Krieger dan John Densmore. Nama terakhir keluar dari kongsi dan bertempur melawan faksi Manzarek-Krieger di pengadilan untuk mencegah mereka membawakan panji The Doors.

"Saya hanya akan mengakui The Doors bila mereka bisa membujuk Eddie Vedder untuk gantikan Jimbo," tegas Densmore. Ini sempat terwujud dalam gelaran Rock N Roll Hall of Fame yang menandai kembalinya The Doors minus Jimbo pada awal 1990-an. Eddie Vedder tampil sebagai vokalis di tiga lagu.

Tapi Ian Astbury yang akhirnya dipilih Manzarek-Krieger dengan nama The Doors in 21st Century, meninggalkan Densmore. Namun dengan segala konflik, ketika berita Ray tiada, Densmore-pun mengenang:

"Hanya Ray yang bisa masuk ke jiwa Jim Morrison," ujar Densmore sebagaimana dikutip New York Times. "Saya juga merasa kehilangan salah satu bagian jiwa saya dengan perginya Ray."

Selamat jalan Ray Manzarek. Rasanya di alam berikut sedang terjadi reinkarnasi kejadian di awal 1960-an ketika dua mahasiswa film menyatukan visi transendental dalam wujud musik.

He broke on through to the otherside.
Mei 20, 2013 0 Comments

Bahagia Selebrasi Nirpesta


Ada momen antara tanggal 12 Februari dan 20 Mei di mana usia saya dan istri sama. Kami memang berselisih. Istri saya, Gina, lebih senior 9 bulan dibanding sang suami. Meski cuma sekandung-badan, tetapi tetap saja masuk ke dalam bracket "suami muda", hehehe.

Kami menikah tahun 2007, sehingga 20 Mei ini adalah ulang tahun keenam yang dirayakan bersama. Pertama merayakan, saya menyembunyikan kue tart di dalam kulkas pada kamar kos kami yang mungil di Surabaya. Tengah malam, tepat pada malam final Liga Champions 2007 yang mempertemukan AC Milan melawan Liverpool, saya membangunkannya, dan kami sejenak meniup lilin berbahagia.

Perayaan kedua dan seterusnya saya tidak ingat. Saya berasal dari keluarga yang tidak mengingat anniversary apapun, meski saya juga tidak melupakan momen 20 Mei. Terakhir perayaan ulang tahun yang saya ingat adalah dua tahun lalu ketika kami merayakannya di Tebet. Saya membeli kue, dan berhasil menyembunyikannya di dalam kulkas dengan konspirasi bersama asisten rumah tangga.

Tahun ini, nirselebrasi dan kejutan. Effort kami rasanya lebih banyak untuk merayakan ulang tahun anak-anak. Januari lalu, ulang tahun pernikahan yang keenam juga diisi dengan perayaan ultah Magenta kedua. Kini, ketika Gina berulang tahun ke-32, ia bekerja seperti biasa. Pun demikian dengan saya.

Meski sepi kesan, tetapi saya tetap saja bahagia melintasi perayaan keenam ulang tahun istri.

Selamat ulang tahun ya, Mui!
Mei 16, 2013 0 Comments

Menikmati "Unpredictability" Blur


Mengikuti Blur adalah karena nilai unpredictablity-nya. Di dalam album, antar lagunya memiliki dinamika yang lebar, sehingga unpredictable. Di antara album, sinambung tidak menjadi hal wajib, sehingga memprediksi konsep album baru Damon Albarn cs bisa dikatakan unpredictable. Lalu live show, yang sepanjang mengamati aneka video di YouTube, setiap rendisi tidak pernah sama kualitasnya. Sekali lagi, unpredictable.

Sisi itu juga menjadi menarik untuk dinanti ketika Blur mewujudkan konser pertama mereka di Indonesia setelah 22 tahun sejak rilis album perdana. Premis telah terlontar dari Graham Coxon dalam konferensi pers sehari sebelum penampilan band asal Inggris ini di Big Sound Fest, Rabu (15/5).
Mei 12, 2013 0 Comments

Kembali Ke Khittah Blog

Should you notice, yang biasa ke sini pasti menyadari ada yang berubah dari tampilan blog ini. No more colorful bar, categories, dan template yang menyertai sejak awal.

Ide ini kepikiran lately setelah saya membuka "cabang" web portfolio tulisan dan karya grafis di sini. So, mestinya ini bisa kembali ke khittah-nya sebagai blog dengan blog-roll, kategori atau label yang segambreng. That's how blog looks like. Kebutuhan website yang agak-agak pro sudah dipindah.
 
;