Strategi Anti-Barca

Manchester United barangkali dihajar Barcelona di Final Liga Champions Sabtu (28/5) lalu. Tapi bisa jadi Sir Alex Ferguson malah berjasa m...



Manchester United barangkali dihajar Barcelona di Final Liga Champions Sabtu (28/5) lalu. Tapi bisa jadi Sir Alex Ferguson malah berjasa memberikan sneak-peek tentang strategi meredam eksplosivitas possesion football milik Barcelona. Setidaknya untuk musim depan.

Antiteori pertama untuk menangkal Barcelona, yang sampai saat ini dianggap sahih, adalah mengemulasi taktik Jose Mourinho di Liga Champions musim lalu (bersama Inter). Dengan garis pertahanan yang ditanam dalam di depan kiper, sehingga semua elemen tim juga sedikit lebih mundur. Pemain depan bertugas melebar (flanking) di garis tengah lapangan.

Mourinho sukses di semifinal Liga Champions musim lalu. Mereka bertahan dalam, dan menempatkan Samuel Eto'o serta Goran Pandev menyisir kapangan. Partai pertama dimana mereka berhasil mencetak 3 gol bergantung pada inisiatif cepat gelandang bertahan untuk melepas umpan daerah melewati kepala bek-bek sayap Barcelona yang selalu ofensif.

Pattern itu telah dibaca oleh Josep Guardiola. Di La Liga musim ini ketika bersua kembali dengan Mourinho yang kini menukangi Real Madrid, ia memberikan jawaban berupa pola 3 bek sentra yang bertahan di belakang ketika Barca menyerang. Satu bek sayap selalu tinggal di belakang. Dari sekian partai kontra Barca musim ini,Mourinho hanya menang sekali. Taktiknya telah dipatahkan Pep.

Preseden United
Lalu, dari final lalu, ada satu lagi potensi taktik untuk meredam permainan pendek-merapat Barcelona. Di menit-menit awal, Manchester memasang garis pertahanan tinggi, dengan pressing yang dimulai dari 3/4 lapangan. Taktik ini cukup bisa meredam Barca, lantaran Xavi dkk tidak bisa leluasa mengembangkan pass and move. Barcelona dipaksa melepas umpan cepat untuk melakukan serangan balik, which is bukan kelebihan mereka. Sayangnya, taktik macam ini membutuhkan konsistensi dan fisik yang prima. Man United hanya bisa bertahan sekitar 10 menit sebelum organisasi permainan kacau balau dan hilang orientasi.

Taktik yang dibangun di awal memerlukan striker yang menjemput bola ke bawah, karena gelandang lainnya sibuk melakukan pressing. Satu striker lagi bergerak dinamis membuka ruang dan memberikan pemecah atensi pemain bertahan lawan. Peran ini kurang bisa dijalani Javier Hernandez, yang sembari Wayne Rooney mati-matian memburu bola, namun begitu didapat ia menjadi ujung tombak. Proses gol United mungkin bisa jadi skenario sukses dari instruksi, dimana selebihnya, mengutip Ferguson, para pemain Man United "mesmerized" oleh permainan posesi Barca.

Taktik ini barangkali akan lebih banyak diadopsi musim depan oleh tim-tim di La Liga yang secara kualitas bisa sedikit merival Blaugrana. Valencia, Villareal, Atletico Madrid dan tentu saja Real bisa mendapatkan sedikit inspirasi.

Lalu, akan menarik menanti reaksi selanjutnya dari Pep Guardiola. Yang jelas, salah satu keuntungan Barcelona ketika mati secara taktik adalah mereka masih bisa keluar melalui skill individu beberapa pemainnya.
Reactions: 

Related

strategy 3371638735215391925

Posting Komentar Default Comments

2 komentar

aan mengatakan...

Barca memang tidak ada matinya. karena disamping taktik yg jitu mereka memiliki pemain dengan kemampuan individu diatas rata2.

Helman Taofani mengatakan...

Messi-Xavi-Iniesta. They're gold.

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item