Hati-Hati Respon Iklan

Sabtu (8/10) iklan mengenai rumah yang akan kami jual tertayang di sebuah media (surat kabar) lokal terkemuka. Koran ini memang menyimpan ...



Sabtu (8/10) iklan mengenai rumah yang akan kami jual tertayang di sebuah media (surat kabar) lokal terkemuka. Koran ini memang menyimpan reputasi sebagai media dengan respon iklan yang cukup tinggi. Semenjak iklan tertayang, handphone istri saya, Gina, yang menjadi nomer kontak berulang-kali berdering, mengiringi perjalanan kami dari Jakarta menuju Bandung.

Respon iklan masih berlanjut di hari berikutnya, ketika iklan sudah tak lagi tertayang sebetulnya. Pada Minggu (9/10) siang, kami menerima sms dari seseorang yang mengaku membaca iklan tersebut, kira-kira berbunyi:

"Pak, saya berminat dengan rumah yang bapak jual. Saya sulit menghubungi Anda ke nomor yang ada di iklan. Bisa nggak, bapak menelpon bapak saya ke nomor 082191143445. Arif."

Dengan itikad baik, maka kami menghubungi nomor yang dimaksud. Yang menerima adalah Haji Rahmat, konon ayah dari si Arif. Ia mengaku berdomisili di Semarang, sementara si Arif ini anaknya yang tengah ia carikan rumah. Selepas menanyakan mengenai rumah, ia bertanya tentang surat-surat dan kemudian mengenai harga yang akan dilepas.

Di sinilah kejanggalan mulai terjadi. Too good to be true, Haji Rahmat langsung deal dengan harga yang kami tawarkan. Ia bahkan menawarkan akan mengirim uang tanda jadi sebesar 25 juta rupiah melalui mekanisme transfer bank.

Saya segera mengirimnya dua buah nomor rekening bank. Satu dari BCA, dan satunya lagi CIMB Niaga.

Tak berapa lama, Haji Rahmat sms bahwa ia sudah mengirimkan uangnya melalui transfer dengan nomor rezi (demikian tulisnya) 04998770. H Rahmat meminta kami cek di ATM terdekat, karena ia akan pergi ke suatu tempat. Karena kami masih di jalan (Bandung ke Jakarta), Gina bilang ke Haji Rahmat bahwa kami akan cek kurang lebih 30 menit kemudian.

Tanpa menunggu ATM, saya segera memeriksa melalui netbanking yang connected dengan perangkat saya. Saldo tak berubah (karena uang saya memang tak sebanyak itu mencapai 25 juta). Dan kamipun menelpon Haji Rahmat.

Dalam percakapan telepon, ia bersikeras telah mentransfer uang sebesar 25 juta melalui situs Global BCA. Berulang kali ia menanyakan tentang jumlah saldo saya dengan nada memaksa. Gina yang menerima teleponnya kekeuh tak memberikan informasi hal itu. Haji Rahmat memaksa kami memeriksa via ATM karena - menurutnya - informasi website dan ATM sering berbeda.

"Baik pak, akan kami periksa dengan cek ke BCA melalui call center," kata Gina sambil menyebut nomor Call Center BCA.

Haji Rahmat tak lagi menjawab, dan kami mulai berpikir aspek ilogikal dari kejadian tersebut.

Yang pertama, begitu mudahnya Haji Rahmat menyetujui transaksi yang bernilai besar (ratusan juta). Negonya terlalu lancar untuk ukuran rumah. Kedua, mudahnya ia mengirim uang puluhan juta kepada kami yang belum dikenal. Pengalaman kita, untuk tanda jadi rumah bisa dengan nominal yang jauh lebih kecil. Ketiga, ia mengaku menggunakan netbanking (situs Global BCA), tapi di sisi lain mendiskreditkan ketepatan layanan tersebut (dispute yang ia klaim tentang keabsahan saldo yang saya cek melalui netbanking). Keempat, ia memaksa kami memberitahu saldo rekening.

Empat poin tersebut kami renungkan sebelum memutuskan untuk menelpon balik atau berhenti di ATM. Saya dan Gina mengambil kesimpulan bahwa ini adalah fraud atau modus penipuan, lalu sepakat untuk tak lagi menghubungi Haji Rahmat, ayahnya Arif yang mengaku berasal dari Semarang - namun menurut Gina - berbicara dengan logat Madura.

Esoknya, yaitu hari ini (10/11) saya browsing mengenai "penipuan global bca" yang sepintas lalu pernah saya dengar. Hasil di Google merujuk salah satunya ke blog ini.

Jadi, Anda yang memasang iklan di surat kabar, hati-hatilah dengan respon iklan. Terutama untuk media yang terkenal mempunyai respon bagus di iklan retail (iklan baris). Bukan hanya respon positif, tapi hal negatif seperti yang kami alami ini bisa juga terjadi.
Reactions: 

Related

random notes 3538992736922224984

Posting Komentar Default Comments

5 komentar

palsayfara mengatakan...

gw pernah nih kejadian kaya gini. Ceritanya kakak gw jual motor, trus ada yg mau bayar DP, kakak gw minjem atm gw karena dia ga punya bca. si "pembeli" bilangnya dah transfer, trus gw telp tuh orang pas masih di atm..eh masa dia nanya jumlah saldo gw, lah gw nyolot...apalagi terus gw diguide sama dia langkah2 utk transfer ke atmnya dia...dikira goblok kali ya? langsung aja gw maki2 tuh orang...sial..

Helman Taofani mengatakan...

Ternyata modus yang udah lumayan sering. Abis googling, banyak juga yang ngaku abis kena tipu ginian.

Rudolf Maurits mengatakan...

gw juga pernah kayak gini pas jual motor ... gile jakarte .. gak ada yg beres dah jaman sekarang

iPul dg.Gassing mengatakan...

model kayak gini memang sudah sangat biasa..
untung kalau kita masih aware, coba kalo orang yg misalnya emang bener2 butuh duit cepat dan gak terlalu mikir jernih..

kalau saya yg dapat kayak gini pengen sy kerjain..
pas ditanya saldo berapa, sy bakal bilang kalo saldonya cm beberapa ribu..hihihi

kira2 reaksi mereka kayak gimana ya ?

Helman Taofani mengatakan...

@Bobo: Itu di Surabaya lho. Tampaknya udah menjalar ya?

@Ipul: Kalo gua malah pengen gua kerjain seolah-olah kita udah transfer balik dan bego-begoin mereka karena ngga nerima. Hehehe...

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

item