Kembali ke Ibukota

Setelah dua kali hajatan melanglangbuana ke kota lain, Pearl Jam Nite - hajatan tahunan konser tribut Pearl Jam yang digelar komuni...


Setelah dua kali hajatan melanglangbuana ke kota lain, Pearl Jam Nite - hajatan tahunan konser tribut Pearl Jam yang digelar komunitas Pearl Jam Indonesia akhirnya kembali ke pangkuan ibukota.

Sampai sekitar pukul 18.30 WIB saya masih di bilangan Cikini, makan malam di kedai Ampera. Setengah jam kemudian, Pearl Jam Nite VIII akan dimulai di Rolling Stone Cafe, daerah Ampera. Sesama Ampera, untuk menuju ke sana harus tricky menghadapi daerah banjir dan macet yang kemungkinan menghadang.

Perjalanan lancar menuju Ampera - yang nama jalan. Kali ini akan menjadi Pearl Jam Nite keenam yang saya hadiri. Catatan absen saya adalah pada Pearl Jam Nite IV di Kebon Jeruk, dan Pearl Jam Nite VII di Cirebon. Mind you, dari edisi I sampai V, saya bermukim di Surabaya. Setelah dua edisi berkelana ke luar kota, ini adalah kali pertama saya menghadiri Pearl Jam Nite di Jakarta sebagai warga ibukota.

Sesampai di venue, Uwie dan Reza tengah mengakhiri set dengan "Love Reign O'er Me". Sayang saya melewatkan duet eks personil Bittertone dan Beku tersebut - berkat parkir yang agak ribet di Rolling Stone Cafe. Tapi hebat juga acara mulai tak molor dari janji pukul 19.00 WIB. Di parkiran, dua orang bermotor menyapa yang rupanya adalah mas Noy dan Wahyu, teman kantor. Olala, ini akan menjadi malam spesial karena bahkan bersinggungan dengan teman kantor yang datang untuk menonton Pearl Jam Nite. Terakhir begini, ada di helatan perdana ketika bertemu pertama dengan Egha (sekarang jadi penyelenggara) dan Amin yang juga bekerja di Kompas. Saya dari (cabang) daerah waktu itu.

Konon Uwie dan Reza membawakan sejumlah rarities selain cover song The Who tersebut. Ada "4/20/02" yang untuk menemukannya Anda harus membeli kompilasi B-Sides, serta menemukannya di ujung track (not listed). Dengan ranah digital tentu lebih gampang. Tapi ode untuk Layne Staley itu memang jarang yang mengerti, dan saya agak bingung kenapa Uwie dan Reza membawakannya untuk membuka show. Sudahlah, toh saya melewatkannya.

Panggung kecil semi-outdoor itu sudah disemuti rombongan yang duduk di meja masing-masing. Saya berkeliling sejenak menyapa siapapun yang kenal dan terlihat malam itu. Ada veteran Pearl Jam Nite I, II, dan seterusnya. Ritual ini salah satu daya tarik Pearl Jam Nite bagi saya. Gathering akbar dan mencoba mengingat kembali wajah yang sehari-hari mungkin diakrabi via avatar Facebook atau Twitter belaka.

Bandung Lost Dogs tengah memanaskan panggung. Bersiap untuk memperlihatkan hasil kristalisasi komunitas yang mereka bentuk dengan rutin jamming dan tampil. Selain Arif, vokalis yang dulunya magang sebagai gitaris pada Pearl Jam Nite V, saya tidak mengenal personil lainnya. CJ, eksponen Pearl Jam Nite I sekaligus motor BLD gagal hadir. Arif kini sudah menjadi vokalis dan mengantar "Corduroy" untuk membuka set BLD. Power vocal dan pengunjung mulai memupuskan ambisi untuk mendengar Vedder-Indonesia.

Usai "Unthought Known", BLD mengganti vokalis dengan pria mirip Ariel (dan penonton setuju dengan saya) yang sedikit lebih Vedder secara suara. Ia membawakan (in random order) "State of Love and Trust", "Crazy Mary", dan "Porch". Tentu lagu tersebut lebih familiar bagi mereka yang mengakrabi Ten dan sekitarnya.

Di sela penampilan BLD, Boy - MC acara - memberitahu saya dan Eko untuk naik panggung. Akhirnya memang kami menjadi filler yang baik, sembari mengisi void ketika Perfect Ten - penampil selanjutnya - menyetel alat. Boy menanyakan seputar Pearl Jam Indonesia yang turut saya gawangi deklarasinya dulu, jelang Pearl Jam Nite I di bilangan Kemang juga. Dalam kesempatan ini, tak lupa saya menyambut dari atas panggung pengunjung terjauh dari Makassar, Ipul, yang menghadiri PJ Nite maiden-nya.

Yang ditunggu penonton tentulah Perfect Ten, bukan saya. Sebelum BLD, Wahyu, teman sekantor yang menyempatkan datang juga sudah menodong. "Perfect Ten nanti main, kan?"

Irsya cs memang sudah kelewat beken sebagai Acca/Dacca versi Pearl Jam Indonesia. Streak mereka adalah menjadi host band gelaran Pearl Jam Nite V sampai VIII (empat edisi!). Kali ini dengan formasi paling simple rasanya, berupa Irsya, Ari, Ino, Didit dan beberapa vokalis - termasuk twin tower Hasley dan Deddot. Sebelumnya selalu ada pemegang instrumen berganti, katakanlah Nito, Made, dan sebagainya. Mungkin karena Nito dan Made ada di bill lain sebagai Sonic Wood, malam itu Perfect Ten hanya menyimpan amunisi cadangan di vokalis.

Sayang, vokalis tamu tidak diperkenalkan. Razak, kami semua sudah mengenalnya. Tetapi satu lagi vokalis pelantun "Why Go" lupa diumumkan ke khalayak. Jadilah kami yang di front row bingung menebak. "Ini siapa ya?"

Seperti biasa, Perfect Ten membagi set mereka menjadi Deddot-set dan Hasley-set. Vitalogy membuka suasana dengan "Whipping" dan "Satan Bed". Bagian Hasley adalah "Even Flow", "Do the Evolution", dan lagu-lagu yang membuka keran emosi. Ketika kembali katarsis ke zen-themed, seperti "Given to Fly", kendali beralih ke Deddot. Formula ini cukup familiar bagi mereka yang sering menongkrongi Perfect Ten. Motor malam itu adalah Irsya yang tak pernah memberi jeda sehingga semua lagu tampak seperti medley.

Pit memanas, alam mendingin. Hujan turun dan air membanjri muka panggung. Ia membuat tubuh-tubuh tua menjadi sungkan melompat. Tetapi hal ini tampak seperti cue bagi penampil berikutnya, The Mind Charger yang berformat stripped down acoustic. Sebelumnya, Farry - wakil penyelenggara berbicara mengenai acara dan disahuti oleh Krishna Raditya dari Blackrock Entertainment. Mereka masih berjuang untuk mendatangkan Pearl Jam ke Indonesia rupanya, meskipun momentum mulai beranjak pergi dengan pengumuman tur solo Eddie Vedder seusai rangkaian konser mereka di Australia.

Meski agenda mendatangkan para bintang menjadi tajuk utama, malam itu kita cukup puas menikmati rendisi dari bintang panggung yang tampil. Terlebih ketika The Mind Charger tampil.

Jujur, bayangan saya akan Pearl Jam Nite pada tahun 2005 adalah menikmati lagu-lagu Pearl Jam yang dibawakan live, di tengah suasana lounge, sambil chit-chat menyeruput kopi. Istilah saat itu: ngafe. Bukan menonton konser rock. Kenyatan yang terjadi, arena Pearl Jam Nite selalu menjadi moshpit, bahkan ketika diusung dalam format akustik - Acoustology.

Kala The Mind Charger - yang berkiblat pada Boyce Avenue - menguasai panggung, penonton yang sudah paham konsep Andra Nasution cs segera mencari tempat duduk. Suasana Rolling Stone Cafe kembali menjadi lounge dengan suguhan musik akustik. Andra, frontman The Mind Charger adalah veteran Pearl Jam Nite I, III dan album kompilasi Not For You bersama band-nya dulu, Dua Sisi. Setelah vakum dari Dua Sisi, ia membentuk The Mind Charger yang rajin membawakan lagu hits dalam format akustik. Pearl Jam Indonesia sempat menjajal penampilan mereka di acara rilis majalah komunitas RVM jilid ketiga, Desember lalu.

Membuka dengan "Oceans", The Mind Charger mendinginkan suasana. Yang paling menarik adalah bagaimana mereka melakukan interpretasi terhadap lagu-lagu Pearl Jam untuk disesuaikan dengan format mereka. Spektrum lagu Pearl Jam memang luas. Dari punk model "Spin the Black Circle" hingga lullaby macam "Around the Bend". Spektrum yang agak pinggir dan lunak diambil The Mind Charger via pilihan setlist mereka - tetapi ada juga "Severed Hand" dari album Pearl Jam (2006) yang sebenarnya lekat dengan distorsi.

Kekuatan terbesar mereka adalah membius penonton melalui lagu macam "Light Years", "Sleeping By Myself" (medley dengan lagu The Beatles, "Blackbird"), serta tentu saja "Sirens". Koor massal tak terelakkan dan menjadikan suasana dingin makin merinding ketika puluhan pria sangar bersama-sama meratapi hidup.

Kejutan di akhir set The Mind Charger adalah hadirnya bintang tamu spesial, Lala Karmela. Jujur saya pertama mendengar namanya di acara, tetapi setelah googling usai Pearl Jam Nite, Lala cukup eksis di YouTube membawakan sejumlah lagu. Yang menarik perhatian saya adalah penampilannya membawakan "Ironic" milik Alanis Morissette bersama Ahmad Dhani di stasiun televisi. Saya selalu tertarik mendengar lagu Pearl Jam disuarakan penyanyi perempuan. Konsep ini pernah dicoba dengan Vedderina pada ajang Acoustology yang tidak bisa saya saksikan. Ketika akhirnya penyanyi perempuan (pro) membawakan Pearl Jam, wah, dream came true. Sayang hanya selagu.

Lala dan The Mind Charger membawakan lagu penutup set akustik, "Daughter". Terhibur dengan suara (dan wajah) Lala, sesi akustik ini menjadi hal baru bagi helatan Pearl Jam Nite yang sebelumnya selalu menggeber stamina penonton dengan moshpit nonstopnya. Format ini asyik juga, pernah selintas dicoba pada Pearl Jam Nite V dengan SiLENTiUM yang bisa membuat dinamis gelaran konser. Mulai dingin, penonton diingatkan untuk kembali "kerja" oleh Ryo Domara, frontman Sonic Wood - band yang menutup acara.

Sonic Wood adalah band ensemble cast yang pernah tampil di spin off Pearl Jam Nite, Acoustology. Digawangi oleh musisi-musisi serius, mereka sukses mentransfer kemampuan dalam format akustik sebelumnya. Kini, Alex Kuple cs harus menjajal aneka setting ampli dan efek untuk tampil fullband pertama kali.

Usai setting alat, distorsi menyalak dan drum bertalu mengantar ke "World Wide Suicide" - nomor pembuka mereka. Sonic Wood seolah menjanjikan set yang keras, ditandai dengan make up Joker yang dikenakan gitaris mereka, Adhit. "RVM" menyusul, disahuti "Marker of the Sand". Semua mengekspose kualitas vokal Ryo yang pernah dipilih oleh Erwin Gutawa untuk membawakan track rock "Hilangnya Seorang Gadis". Ryo sempat vakum beberapa lama. Terakhir ia bergabung bersama Jimmu bersama Alex Kuple dan Adhit.

Memanfaatkan range vokal Ryo, Sonic Wood hadir pada sesi dengan sejumlah lagu bertenaga (kecuali "Future Days" yang sangat menyentuh). Mereka lantas menggeber jam session dengan mengundang Fadly dan Rindra (Musikimia/Padi) ke atas panggung. Dimotori oleh Nito, jamming mendadak ini menelurkan "Small Town" dan "Animal" yang dibawakan Fadly, tetap dengan gaya effortless-nya (tapi mampu menjangkau pitch).

Che Cupumanik juga tampil pada sesi jamming ketika "Alive" berkumandang diawali dengan lagu "Walk" (Foo Fighters). Hadirnya Fadly dan Che mengingatkan kembali ke Pearl Jam Nite I yang juga diwarnai suara mereka. Momen jamming ini menjadi arena beberapa vokalis di atas panggung hingga tiba waktunya melantunkan "Rocking in the Free World" sebagai penutup.

Acara dijadwalkan selesai pada pukul 23.00. Masih ada sekitar 10 menit sisa, dan hujan tetap saja deras. Jamming sesi dua dibuka dengan "Blood" menampilkan Che dan Ryo beradu power. Puluhan lagu sudah dilantunkan, curfew berakhir dan hajatan kedelapan menemui akhirnya. Penonton yang terjebak hujan memilih untuk bercakap-cakap mengenai blast acara yang baru saja usai.

Bagi yang datang untuk Pearl Jam Nite, kembalinya acara ini ke ibukota ditandai dengan big bang. Star-studded, penampilan yang menghibur, dan bersua teman lama. Bagi yang datang untuk Pearl Jam, aneka lagu dengan bermacam rendisi sudah dibawakan dari album pertama sampai paling gres. Bagi yang datang untuk suguhan rock, interaksi panggung dan penonton bisa menjadi highlight bagi pertunjukan.

Sayang bagi mereka yang datang mencari shelter teduh dari hujan yang mengguyur sepanjang hari. Usai pertunjukan selesai, air tampak enggan berhenti turun dari awan dan memerangkap semua di Rolling Stone Cafe. Seolah menjadi bisikan encore.

"We want more!"

Photo courtesy of Karmela Kartodirdjo - taken from Jakarta Post article
Reactions: 

Related

the mindcharger 5530308887613220008

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item