Skolastik

Sejumlah selebritis ramai mendirikan sekolah-sekolah. Dik Doank dengan sekolah alternatif-nya, kemudian Ulfa Dwi Yanti yang akan menyusul...


Sejumlah selebritis ramai mendirikan sekolah-sekolah. Dik Doank dengan sekolah alternatif-nya, kemudian Ulfa Dwi Yanti yang akan menyusul David Chalik. Nama terakhir terlebih dulu mendirikan playgroup yang sudah berusia 3 tahun.
(Berdasarkan pengamatan atas infotainment belakangan)

Saya jadi inget pada masa akhir kuliah. Pada waktu itu lagi ng-tren di kalangan mahasiswa yang konon mendapatkan pencerahan: sekolah itu useless. Sampai ada yang bikin Tugas Akhir: "Alternatif Sekolah - Sekolah Alternatif". Stigma-nya adalah kita bakal didoktrin macem-macem hal yang belom jelas gunanya. Emang sih, kalo kita nonton Dead Poet Society dan sebagainya, hal itu semacam jadi teori besar yang menantang untuk dibuktikan. Atau ketika kita membaca literatur-literatur Paulo Freire dan sebagainya.

Mereka benar adanya ketika menyampaikan bahwa sekolah itu bukan monopoli metode kita belajar. Atau setidaknya metode yang disampaikan pengajar di sekolah (dalam skala besar: kurikulum) bukan merupakan satu-satunya metode belajar yang harus kita terima secara straight tanpa penafsiran. Sekolah adalah media. Media untuk menyampaikan informasi dan salah satu bentuk komunikasi massal.

Yet indeed, saat ini belom ada metode yang bagus sebagai media penyampaian informasi yang se-massal sekolah. Lagu "Indonesia Raya" bisa dengan mudah sampai ke telingan pelajar di pelosok Timika sana via guru-guru sekolah mereka ketimbang satelit palapa dengan serbuan sinetron-sinetron-nya. Atau alfabet yang diperkenalkan melalui volunteer yang dengan sukarela melintasi belantara Afrika untuk memberikan sedikit "pencerahan" kepada kaum Bushman.

Sekolah menjadi media pencerahan bagi banyak orang tanpa bisa memprediksikan output yang mungkin bakal keluar. Jika pemerintah kolonial mengetahui bahwa jebolan-jebolan STOVIA nantinya menjadi inlander intelek yang selalu membakar semangat perjuangan, maka tentu saja politik etis yang dicanangkan akan direvisi ulang. Sekolah berperan sebagai media yang bisa mengangkat derajat bangsa dari ketertinggalan secara materialistis, menjadi lebih percaya diri secara mental. Singapura adalah negara kecil yang kalah luas ketimbang Jakarta tetapi penduduknya sangat percaya diri karena mereka merasa terfasilitasi dengan adanya jaminan pendidikan dari pemerintah-nya. Dalam frame besar ini, sekolah terbukti sebagai salah satu instrumen yang mampu memberikan penilaian atas kesejahteraan dan pola pikir manusia.

However, janganlah kita berhenti di sekolah. Sekolah hanyalah media dan manfaatkanlah sebagai perantara. Sarana komunikasi dari yang "tahu" kepada yang "tidak tahu". Media untuk memberikan pengantar kepada manusia bahwa dunia itu tidak sesempit yang dibayangkan, tetapi bulat dan bisa kita jelajahi tanpa henti...

Dan juga kaum skeptis...beruntunglah kita merasakan sekolah yang mungkin kita tolak manfaatnya. Bukan gelarnya, tetapi sisi-sisi di dalamnya. Tentang bagaimana kita menemukan lingkungan sosial kedua setelah keluarga. Tentang bagaimana kita merajut dinamika proses berpikir menjadi seperti bagaimana sekarang. Tentang bagaimana kita diajarkan untuk selalu haus dan bertanya ("...jika tidak bertanya, ibu guru yang akan bertanya!"). Banyak hal yang kita dapat dari sekolah, dan bahkan negara kita yang sebentar lagi berusia 60 tahun ini berdiri di antara pondasi pendidikan yang termaktub nilai pentingnya dalam konstitusi dasar.

Tetapi yang sekali lagi perlu diingat: sekolah itu hanyalah sebagai media dan metode tentatif, bukan sumber absolut atau metode absolut.

Bersyukurlah kita ketika David Chalik menjamin bahwa dirinya tidak akan berniat mencari uang lewat pendidikan. "Gue nyari uang bukan di sini (dunia pendidikan - pen)." Satu hal yang (mestinya) menyindir berat para perumus dunia pendidikan di Indonesia di mana mereka memeras habis-habisan para orangtua siswa yang berpikir sempit, bahwa pendidikan melalui sekolah adalah sumber dan metode absolut yang akan menjamin masa depan anaknya.

Mari kita rayakan kebebasan maya ini dengan memberikan kutukan bukan kepada sekolah sebagai institusi dan media komunikasi, tetapi kutuklah sistem dan kurikulum yang demikian mengungkung. Mengingatkan kepada sejarah materialis yang menggunakan sekolah sebagai wadah untuk mempersiapkan manusia-manusia hybrid siap pakai untuk kebutuhan pabrik-pabrik industri mereka.
Reactions: 

Related

random notes 2472383958908804692

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item