Anak Lama yang Selalu Relevan

Bagi kalian yang ikut-ikutan membenci istilah "grunge", bayangkan beban yang harus ditanggung Mudhoney. Lebih dari dua dekade l...


Bagi kalian yang ikut-ikutan membenci istilah "grunge", bayangkan beban yang harus ditanggung Mudhoney. Lebih dari dua dekade lalu, personil band ini mencetuskan istilah tersebut, memelopori gayanya, tapi tak mendapatkan keuntungan dari meledaknya istilah "grunge", dibanding beberapa sejawat mereka.


Film dokumenter yang baru dirilis, "I'm Now" mengangkat tentang tema tersebut, serta kontribusi Mudhoney terhadap scene "grunge". Film ini dirilis tepat jelang konser mereka bersama simbol sukses grunge, Pearl Jam.

"I'm Now" dibuat oleh duet sutradara Adam Pease dan Ryan Short. Sebelumnya, mereka sempat membesut dokumenter lain tentang band Seattle - yang juga grunge - Tad. Film ini akan berisi kutipan dari lebih 20 jam arsip interview mereka dengan anggota band, ditambah dengan rekaman dan footage dari era VHS.

"Prosesnya sangat lama," ujar Pease. "Kita mengamati satu demi satu arsip yang ada, dan memilih mana yang masuk ke dalam jalinan cerita."

"Kita juga mendokumentasikan footage dari tur mereka ke Jepang dan Eropa di 2009, serta Brasil di 2010," tambahnya.

Pease dan Short memastikan beberapa klip penting, termasuk arsip pers yang memuat kesahihan mitos mengenai Arm sebagai pencetus istilah grunge.

Adegan pembuka film ini memuat misi Mark Arm dalam bermusik yang termuat via statemen: "Bila kamu bermain demi penonton, bukan untuk dirimu sendiri, habislah sudah." Dalam film ini, juga terdapat paradoks yang menggambarkan aksi panggung Arm dengan kehidupan sehari-harinya sebagai manajer gudang di Sub Pop Records.

"Kami ingin penonton bisa melihat secara utuh Mudhoney sebagai band dan manusia," tulis Pease. "Jadi, kami justru memulainya dengan memperlihatkan keadaan Arm di masa kini."

Film lantas mundur ke Seattle scene di dekade 1980-an ketika band bernama Green River pecah. Arm dan gitaris Steve Tyrner membentuk Mudhoney. Stone Gossard dan Jeff Ament ke faksi glam-rock Mother Love Bone, sebelum lalu membentuk Pearl Jam.

Arm remaja pernah mendeskripsikan band-nya sebagai "pure grunge", dan itu membuatnya sebagai founding father genre tersebut. "Ketika grunge meledak, saya bilang kepada Mark, 'Ya, itu semua gara-gara kamu. Kamu yang menemukan grunge,'" kata Bob Bert, mantan drummer Sonic Youth.

Komentar tersebut agak keluar dari proporsi, karena Arm (dan Mudhoney) sebetulnya tengah berusaha mereplika model sound heavy fuzz gaya Stooges. Mereka bahkan menamakan rilisan debutnya dengan judul "Superfuzz Bigmuff" sebagai langkah tributasi ke sound Iggy Pop cs yang menggunakan dua pedal distorsi.

Rilisan awal itu juga yang turut membesarkan Sub Pop. Bruce Pavitt dan Jonathan Poneman, co-founder Sub Pop berulang kali menegaskan bahwa tanpa Mudhoney, tidak akan ada Sub Pop. Artinya mungkin tak akan ada Nirvana, lalu tak ada ledakan grunge, dan kita mungkin masih akan mendengarkan Talking Heads.

Di awal karir, Mudhoney memulai dengan beberapa kesembronoan yang menurut pengakuan Mark, merugikan mereka sendiri. Itu menjadi pelajaran penting bagi Mark, Steve, drummer Dan Peters, dan bassis Guy Maddison (serta mantan bassis, Matt Lukin) di periode selanjutnya. Mereka masih solid dan berteman, membuat rekaman, dan tur ke berbagai belahan dunia. Masa-masa kelam penuh booze dan drugs sudah berlalu.

"Mengerjakan dokumenter ini membuat saya respek berat kepada Mudhoney," ungkap Pease. "Mengagumkan bahwa mereka masih saling menjaga satu sama lain dan produktif dalam berkarya selama sekian lama."

Jam terbang dan asam garam Mudhoney telah melewati berbagai tragedi, kematian, keluar-masuk anggota, dan konsekuensi ketenaran. Mereka masih membuat album, dan bersama Pearl Jam menjadi yang paling konsisten mengibarkan bendera Seattle di kancah musik rock global.

Bila menengok dua band itu, lucu bila kita masih menemukan nama bekas anak-anak urakan yang dulu secara asal membantu mendefinisikan sebuah pergerakan kultural. Ament dan Gossard, lalu Turner dan Arm. Sedari awal mereka selalu relevan, dan cocok dengan judul yang diambil untuk dokumenter: "I'm Now".
Reactions: 

Related

music 8031476287737153291

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item