Haji: Muslim World Summit

Mekkah pada pekan haji adalah world summit khusus muslim dari seluruh dunia. Sangat mengagumkan melihat diversifikasi bangsa di Mekkah pa...

Mekkah pada pekan haji adalah world summit khusus muslim dari seluruh dunia. Sangat mengagumkan melihat diversifikasi bangsa di Mekkah pada masa-masa ini. Inilah sisi festive dari penyelenggaraan haji.


Kongres OKI di Yaman pada 1988 menetapkan kuota haji 1/1000 populasi muslim dalam satu negara. Kuota ini berlaku untuk semua negara tanpa kecuali.

Indonesia adalah penyumbang kontingen terbesar dengan sekitar 200.000 jamaah. Di dalamnya juga menampilkan keragaman yang mengesankan. Seluruh provinsi terwakili. Aturan perseribu juga diterapkan untuk tiap provinsi berdasarkan populasi muslim. Jadi dipastikan ada keterwakilan dari semua suku bangsa dan daerah (serta kabupaten) di dalam kontingen Indonesia.

Panitia haji di maktab saya adalah orang Papua. Di Jeddah kami dibantu panitia asal Ternate. Dalam maktab, kami mendengar bahasa Jawa, Makassar, dan Melayu di kantin dan kios. Dalam skala ini saja saya sering terharu (ngga jelas) mensyukuri keragaman yang dipersatukan ini.

Melihat dalam skala lebih besar adalah melihat Mekkah. Ketika kami datang, banyak apartemen atau hotel yang dihias dengan bendera negara-negara. Tergantung negara mana yang menjadikan area tersebut sebagai maktabnya. Kami berbagi area dengan Benin, negara di Afrika, dalam satu maktab. Bila jalan keluar dari hotel, akan mudah menjumpai orang Benin dengan baju tradisional mirip batik yang mereka kenakan.

Dari maktab kami, terlihat gedung tinggi (burj) yang dihiasi bendera Mali, dan Maroko. Penanda teritori dua negara Afrika Barat tersebut.

Keragaman makin luar biasa di Masjidil Haram dan sekitarnya. Itu adalah melting pot semua delegasi "world summit" ini. Biasanya mereka membawa identitas negara. Ada berupa scarf bendera negara, seperti yang ditunjukkan kontingen Turki. Ada juga dengan badge di dada, layaknya negara-negara eks Uni Soviet seperti Tajikistan, Kyrgiztan, dan Kazakhstan.

Iran tak mau ketinggalan. Negeri yang sering dicap stereotipe bidah oleh muslim Indonesia, lantaran mayoritas syiah, ternyata mewakilkan kontingen yang cukup besar. Biasanya ditandai dengan pakaian gelap dengan ornamen bendera Iran.

Tak sebatas fisik, di dalam Masjidil Haram juga dituntut untuk menghormati perbedaan pandangan. Bila di negeri kita acap hangat dengan perdebatan yurisprudensi (fikih), maka rasanya muslim Indonesia akan tercengang melihat bagaimana berbeda pandangan terhadap tatacara salat, berwudu, menjalankan ibadah, tetapi semua diakomodir.

Diversity in unity, alias bhinneka tunggal ika, dulunya juga yang mengubah pandangan Malcolm X mengenai sikap rasialisme. Haji adalah contoh absolut pelaksanaan wasiat Muhammad pada saat kutbah di Arafah dalam momen satu-satunya beliau berhaji.

Muhammad menegaskan persamaan (equality) manusia dan perintah untuk menghormati keragaman. Pesan itu mendahului perintahnya untuk menyiarkan Islam. Dulu keragaman yang hadir pada era Muhammad mungkin baru sebatas keturunan Etiopia dan sedikit Persia.

Tapi pandangannya menembus batas waktu ketika muslim dari seluruh penjuru dunia, beragam suku bangsa, mahzab, dan juga aliran, berduyun-duyun ke Mekkah.

Siapapun yang datang ke rumah Tuhan akan disambut.
Reactions: 

Related

travelogue 6715477919448401157

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item