Haji dan Perburuan Amal

Salah satu cerita yang paling sering saya dengar mengenai ibadah haji adalah kisah Fulan yang menggendong orang tua.

Salah satu cerita yang paling sering saya dengar mengenai ibadah haji adalah kisah Fulan yang menggendong orang tua.


Di tengah panasnya Mina, tampak seseorang menggendong orang tua yang ringkih dan tak berdaya. Ia dalam perjalanan menuju jamarat.

"Ya Akhmad, mulia sekali engkau atas apa yang kau lakukan untuk ayahmu," kata orang yang berpapasan.

"Ia bukan ayahku," jawab si Fulan. "Betapa saya sangat berharap ia adalah ayahku."

Momen haji adalah ladang amal. Yang dibantu jelas orang berniat baik, sesama muslim, dan pasti membutuhkan. Ini pula yang menjadi alasan relawan haji Indonesia. Rata-rata mereka adalah mahasiswa atau pekerja yang merantau ke negara Arab. Salah satunya adalah penerjemah yang tinggal di Madinah. Ia berkisah kepada saya.

Ketika Khalifah Umar meminta relawan untuk tinggal di Mesir, banyak muslim Makkah dan Madinah yang keberatan.

"Wahai Amirul Mukminin, Makkah adalag sebaik-baik tempat. Salat di masjid ini (Masjidil Haram) senilai seratus ribu kali salat di tempat lain," kata wakil muslim Makkah.

Begitu juga warga Madinah. "Salat di masjid Nabi lebih utama seribu kali. Lagipula kami bisa berhaji tiap tahun."

Namun ada saja relawan yang berpikir lebih panjang.

"Amirul Mukminin, saya bersedia ke Mesir," katanya. "Saya akan membuat mereka bisa berhaji, dan insyaallah pahala saya akan mengalir dari tiap warga Mesir yang bisa ke tanah suci."

Dihitung sampai sekarang, mungkin aliran amal si fulan sudah melebihi koleganya yang menabung amal lewat salat di Masjidil Haram. Jamaah Mesir yang berhaji tahun ini saja puluhan ribu.

Kisah itulah yang meneladani para relawan tersebut. "Kami tidak berhaji selama bertugas," kata seorang relawan. "Tahun depan masih bisa, berikutnya juga masih bisa."

Mereka percaya ada pahala yang mengalir dari lancarnya proses haji dua ratus ribu jamaah Indonesia. Semua makbul dan mabrur, sebagian terbang ke rekening amal para relawan.

Jamaah Indonesia yang bhinneka tunggal ika (berbeda suku bangsa tapi sama-sama tua) adalah lautan pahala. Bila kita sedikit merelakan waktu untuk memburu tabungan amal pribadi, kita bisa berkontribusi memakbulkan dan memabrurkan haji orang.

Di Arafah dan Mina, berulang kali saya mengantar kakek-nenek yang tersesat. Tergabung satu maktab dengan rombongan Aceh membuat saya sadar banyak lansia dari sana yang tak bisa membaca, dan berbahasa Indonesia.

Untuk ini gelang identitas maktab sangat membantu. Di sana ada informasi kloter. BTH 3. Maka saya antar ke kemah kloter tiga yang berangkat dari Batam. Biasanya mereka tersesat dalam proses dari dan ke kamar mandi.

Di Masjidil Haram yang kelilingnya mencapai 3 kilometer (sudah saya ukur dengan Endomondo), jamaah tersesat menjadi pemandangan biasa. Menghafal 90 pintu bukan perkara mudah.

Pernah suatu kali, karena penuh, jamaah salat Jumat diarahkan ke bagian yang masih dalam proses pembangunan. Seorang kakek dari Maros menggandeng saya sambil berkata: "Tolong jangan tinggal saya."

Dalam perjalanan pulang, saya melihat perempuan paruh baya mendorong nenek yang sangat renta di kursi roda. Ketika berpapasan, saya menggantikan si ibu untuk mendorong sang nenek menuju terminal Al Ghaza.

"Wah andai ada kesempatan berbakti pada ibunda seperti ibu, saya tentu akan sangat bahagia," kata saya mengenang cerita Fulan yang menggendong orang tua.

"Dik, nenek ini bukan ibu saya," jawab si ibu. "Ia dari rombongan saya, kemarin baru saja stroke dan tidak bisa berjalan."

Di tanah suci, Tuhan gemar menjawab.
Reactions: 

Related

travelogue 4184308462781603779

Posting Komentar Default Comments

1 komentar

Putrimeneng mengatakan...

Membaca rangkaian prosesi haji dan segala lika likunya ini membuat kadar optimisme saya naik berpuluh-puluh persen mempersiapkan mental dan fisik saat nanti giliran saya tiba.

Jujur selama ini artikel2 ttg haji kurang begitu mengena membuat saya sedikit gamang dan khawatir bagaimana nanti disana. Karena haji berbeda dg umroh, dalam benak saya.

Di sisi lain saya jadi sedikit mengenal melankolisme seorang helman, selain pearl jam dan bola haha.

By the way di slah satu tulisan ini ada yang membuat saya berniat untuk meng upgrade paket y plus semoga Allah meridhoi amiin :)))

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item