Aku Indonesia, Manifestasi Berbahasa

Akhir pekan lalu, saya maraton menonton film seri True Detective (season 1). Di episode awal, karakter protagonis yang diperankan Woody ...


Akhir pekan lalu, saya maraton menonton film seri True Detective (season 1). Di episode awal, karakter protagonis yang diperankan Woody Harrelson menjelaskan mengapa ia bermitra dengan Rust Cohle (diperankan Matthew McCounaghey). "You don't choose your partner, just like you don't choose your parents."

Saya tidak akan bicara tentang True Detective. Lebih kepada mengamini kalimat terakhirnya, bahka kita tidak memilih partner, apalagi orangtua. Saya dan partner (istri) bertemu di Jakarta tahun 2006. Ini menjawab pertanyaan, bagaimana bisa, saya yang waktu itu bekerja di Surabaya bertemu dengannya yang bekerja di Jakarta. Kami tidak pernah sedaerah, satu sekolah, atau sepermainan. Murni acak.

Saya satus persen Jawa, meminjam istilah yang dirilis Harian Kompas dalam rangka Sumpah Pemuda, manifestasi dari Kulo Indonesia. Ayah saya asli Temanggung, ibu saya asli Salatiga. Untuk menambah wawasan geografis, keduanya terletak di Jawa Tengah. So, ya, saya sangat fasih ngomong Jawa. You don't choose your parents too.

Istri saya, saratus persen Sunda. Ia manifestasi Urang Indonesia, istilah dari kampanye sama Harian Kompas. Ayahnya asli Majalaya, ibunya Cirebon. Keduanya di Jawa Barat. Dan ya, mereka semua berbahasa Sunda. Bila saya berkesempatan untuk mengikuti salat jamaah dengan ceramah (kutbah) di lingkungan mertua, saya pasti akan gegap bahasa (lost in translation). Saya hanya kenal frasa "urang sadayanya" sehingga tidak bisa membedakan mana yang kutbah, dan mana yang laporan kas masjid.

Bila menarik akar syukur, salah satu yang akan terucap adalah betapa saya beruntung belajar bahasa Indonesia sejak sekolah. Ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat memudahkan, sehingga kami bisa bersua, bersatu dalam pernikahan, dan kini mengajari anak-anak kami dengan bahasa penghubung tersebut. Anak saya semuanya bernama Indonesia. Yang pertama, Aksara Asa Madani. Yang kedua Magenta Aura Madani. Semuanya adalah persembahan (homage) bagi lingua Indonesia.

Menarik lebih ke dalam, bahasa Indonesia ini tentu saja muncul mengemuka berkat inisiatif pemuda dalam Kongres Pemuda II yang berlangsung 28 Oktober 1928. Butir ketiga mengemukakan niat mereka untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi antara pribadi dari Melayu, Jawa, Ambon, dan seterusnya. Merangkai Kulo Indonesia, Urang Indonesia, Beta Indonesia, dan seterusnya menjadi Aku Indonesia.

Dalam periuk kecil, manifestasi Aku Indonesia inilah yang terjadi di keluarga saya. Sebetulnya mudah saja secara aklamasi kami menentukan bahasa Sunda sebagai bahasa resmi keluarga. Dua ART saya berbahasa Sunda. Tapi untuk mengakomodasi saya yang Jawa, dan kebetulan tetangga sekitar berbahasa Indonesia, maka kami menjadi Aku Indonesia.

You don't choose your country as well. Bahasa Indonesia mungkin satu di antara sekian manfaat bernegara yang paling kami rasakan.
Reactions: 

Related

STICKY 7288547926624595143

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item