Parma Fenomena


Kamis kemarin, seorang wartawan bertanya pada Gianluigi Buffon mengenai apakah ia mau kembali ke Parma, klub yang memberinya debut di Serie A.

“Sungguh romantis, tapi rasanya tidak,” kata Gigi yang tahun ini berusia 40 tahun.

Gigi adalah bagian dari “Parma Fenomena”, klub promosi yang meroket sepanjang dekade 1990-an. Mereka pernah diperkuat Tomas Brolin, Faustino Asprilla, Hernan Crespo, Fabio Cannavaro, Juan Veron, atau Lilian Thuram. Puncaknya adalah gelar Piala UEFA dua kali pada dekade tersebut.

Klub yang sinonimus dengan Parmalat (perusahaan makanan) itu terjun kala bisnis yang dimiliki keluarga Tanzi itu bangkrut. Parmalat bangkrut, Parma dijual, pada 2004. Momen ini merupakan awal siklus krisis yang dialami klub sampai pada 2014/2015 mereka tidak mampu lagi menyewa bis untuk pertandingan tandang!

Di akhir musim Parma menyatakan bangkrut dan turun ke Serie D bersama organisasi dan kepemilikan baru. Satu yang tidak berubah adalah kapten mereka, Alessandro Lucarelli. Bek veteran berusia 36 tahun (saat itu). Parma bangkit bersama konsorsium pebisnis lokal kota Parma, menjadikan pelatih legendaris mereka pada dekade 1990-an, Nevio Scala sebagai presiden, serta eks pemainnya, Luigi Apolloni untuk melatih.

Hanya dalam semusim, pada 2016, Parma promosi ke Serie C (Lega Pro). Lucarelli bilang, ia akan berusaha membawa Parma ke Serie B dan pensiun di akhir musim.

Tahun 2017 menjadi titik balik. Berlaga di Serie B, Parma memperoleh investasi Tiongkok untuk menjadikan skuad Crociati kompetitif. Mereka di ambang sejarah klub pertama di Italia yang mentas dari Serie D ke Serie A secara langsung dalam empat musim.

Jumat, sehari setelah konferensi pers Buffon, Parma menjalani laga terakhir Serie B musim 2017/2018. Mereka akan promosi langsung bila Frosinone, pesaingnya, gagal menang. Sampai menit ke-89, Frosinone unggul 2-1 atas Foggia. Sementara Parma sudah mengunci skor lawan Spezia dengan keunggulan dua gol.

Sebuah serangan balik Foggia di menit akhir menjadikan skor 2-2 untuk kerugian Frosinone. Dengan ini Parma promosi langsung. Usai pertandingan, Alessandro Lucarelli menangis.

“Aku tepati janjiku kepada fans untuk membawa klub ini ke Serie A lagi. Dan inilah dia.”

Fans turun ke jalan. Wakil presiden klub, Hernan Crespo, yang baru saja menyelesaikan pertandingan bersama Inter Legends (lawan Chelsea Legends) tak percaya melihat skor. Ia mengucapkan selamat. Sejumlah mantan pemain, termasuk Buffon, juga mengucapkan selamat. Salah satunya adalah Afriye Acquah, gelandang Ghana yang kini bermain untuk Torino.

“Yang perkasa tetaplah perkasa. Selamat kalian telah membuktikan jatidiri. Dari (Serie) D ke (Serie) A.”


Bangkit dari Abu
Acquah adalah bagian dari tim Parma yang menemui titik nadir pada musim 2014/2015. Di tahun keramat itu manajemen Parma kehabisan bensin. Klub dijual dengan nilai hanya satu Euro! Tetapi tidak ada yang berminat karena tahu mereka akan membeli aset hutang senilai 200 juta Euro.

Beberapa pertandingan terakhir, para pemain Parma patungan membayar dengan sebagian harta mereka untuk menyewa bis, menyewa panitia pertandingan. Mereka bertekad menyelesaikan Serie A sebagai bentuk profesionalitas mereka. Di akhir musim, klub bubar. Bahkan untuk berkompetisi di Serie B mereka juga tidak mampu.

Pemain Parma memutus kontrak, berpisah dengan klub. Dari abu klub yang pernah mendunia itu, beberapa mantan pemain Parma dan sejumlah pebisnis asal kota tersebut mengumpulkan dana. Fans juga patungan, sehingga dibentuklah klub 1913 Parma Calcio. Patron Parma, Nevio Scala, menjadi presiden klub. Eks bek timnas Italia dan Parma, Luigi Apolloni menjadi pelatih.

Di deretan pemain, menyadari usianya yang menginjak 37 tahun, kapten Parma, Alessandro Lucarelli memutuskan untuk bertahan dan bermain di Serie D. Alessandro yang masuk ke Parma sejak 2008 berujar akan membantu klub untuk minimal naik ke Serie C musim berikut.

Di akhir musim 2015/2016, Parma promosi ke Serie C. Lucarelli hendak pensiun namun fans memintanya bertahan.

“Capitano, semusim lagi, bawa kami ke (Serie) B.”

Lucarelli bermain di usianya yang ke-38. Dan ajaibnya, Parma naik ke Serie B musim berikutnya (2016/2017). Keberhasilan ini membuka minat sejumlah pebisnis untuk mengambil alih klub. Desports Group, yang didukung taipan Tiongkok, Jiang Lizhang, membeli 60% saham klub. 30% masih dimiliki konsorsium, dan sisanya milik fans.

Dengan kekuatan finansial baru, Parma bersaing di Serie B. Mereka didukung sejumlah pemain yang turut berjuang dari Serie D termasuk Lucarelli dan gelandang Senegal, Yves Baraye yang mengenakan nomor 10. Beberapa lagi pemain baru alumni Serie A seperti Gianni Munari. Sisanya adaah pemain pinjaman, termasuk Roberto Insigne, adik Lorenzo, striker Napoli.

Di Serie B, Parma bersaing dengan Frosinone, Perugia, Palermo, Venezia, Bari, dan Cittadella untuk merebut posisi runner up. Empoli, juara Serie B, nampak jauh dikejar. Parma baru bisa memastikan promosi setelah Frosinone membuang kesempatan lolos langsung usai ditahan Foggia 2-2. Daam kesempatan yang sama, Parma mengalahkan Spezia, klub yang diperkuat eks striker mereka, Alberto Gilardino.

Drama di hari terakhir musim 2017/2018 ini membawa Crociati kembali ke Serie A. Sukacita Parma disambut oleh penggila bola dunia yang ingin bernostalgia dengan masa romantis Serie A bersama Seven Sisters (Juventus, Milan, Inter, Lazio, Roma, Parma, dan Fiorentina) pada dekade 1990-an.

Namun peta saat ini sudah bergeser. Di tempat Parma sudah ada status quo baru dalam wujud Napoli. Perjuangan mereka tentu berat dan mungkin membutuhkan tenaga pemain berpengalaman seperti Gigi Buffon atau bahkan Alessandro Lucarelli. Keduanya saat ini berusia 40 tahun.

Gigi mungkin menolak saat jumpa pers terakhirnya sebagai Juventino. Tapi itu sebelum Parma dipastikan promosi. Namun, bila Gigi menolak, Parma masih bisa bergantung pada Pierluigi Fratalli, pemain yang bersama mereka dari Serie C. Fratalli mencatat 14 clean sheet musim ini.

Sementara untuk Lucarelli, bermain di Serie A pada usia 41 mungkin tampak terlalu berat. Namun rasanya semua sepakat bahwa kembali bermain di kompetisi puncak Italia adalah hadiah sepadan bagi dedikasinya. Mungkin ia tak akan menginjak lapangan setiap pekan, tetapi pendukung Parma tentu ingin memberi salutasi baginya kala klub kota penghasil keju itu kedatangan Juventus, Milan, dan Internazionale.

Sebagai penggemar, melihat Parma seperti menonton sekian episode burung Phoenix yang terbang dari abu klub lama. Italia sudah pernah menyaksikan Napoli hancur lalu bangkit. Demikian juga dengan Fiorentina. Kali ini giliran Parma.

Bentornato!
Reactions: 

Related

STICKY 7358321986202186541

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

SHOP

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Translate

item