S&M2: Simfoni Para Pelintas Batas


Sudah tak terhitung kita mendengar lagu “Nothing Else Matters” dari Metallica. Sejak mula di awal 1990an, hingga semalam, ketika menonton film S&M2 yang diputar serentak di seluruh dunia untuk satu hari (9 Oktober 2019) saja. Melihat retrospeksi karier James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammett dan Robert Trujillo itu memang seperti "walk the talk" dari apa yang mereka sampaikan di lagu tersebut.

Open mind for a different view.

Film tersebut merupakan dokumentasi konser Metallica yang berkolaborasi dengan San Francisco Symphony. Kelompok orkestra dari kampung halaman band metal terbesar di dunia itu. Ini adalah kali kedua mereka bekerja sama. Tahun 1999, San Francisco Symphony dan Metallica menggelar konser yang bertajuk S&M.

Kala itu konser dipimpin oleh Michael Kamen, komposer dan konduktor yang memang kerap bekerja sama dengan band rock (Nothing Else Matters versi rekaman termasuk salah satunya). Kamen mangkat tahun 2003. Sehingga, pucuk konduktor kini dipegang oleh Edwin Outwater yang memimpin kolaborasi antara orkestra dan musik metal.

S&M2 yang tayang di bioskop bukan dokumenter konser pertama yang tayang di bioskop. Pemutaran seperti ini sudah jamak dilakukan. Ini juga bukan pertama kali pula Metallica merilis film ke bioskop. Fans bisa merasakan pengalaman sinematis sembari mencicipi sedikit aspek kolektif yang didapat layaknya menonton konser. Indonesia beruntung menjadi bagian dari pemutaran eksklusif S&M2 yang diputar di bioskop-bioskop CGV.

Sebelum mulai konser, film menampilkan dokumentasi insiatif filantropi All Within My Hands Foundation (AWMF) yang digagas Metallica dan manajemen. Mereka menggalang dana untuk membuka sejumlah lapangan kerja. Setelahnya, baru masuk ke presentasi konser dan wawancara terhadap band, Edwin, serta Michael Tilson Thomas yang jadi music director pada gelaran ini.

Disebut oleh Tilson, bahwa semua pihak yang terlibat disebutnya nekad (intrepid), karena melintas batas-batas yang sudah jadi pakem. Antara liberalisasi yang diberikan musik populer dengan kaidah ketat yang membungkus musik klasik. Melihat hasilnya, tentu saja terbayang disiplin latihan yang dilakukan semua pihak, sehingga menyuguhkan konser 2 jam penuh yang sangat memuaskan.

Metallica, tentu saja, bukan band yang kagetan dengan aspek klasik semacam itu. Selain sudah pernah melakukan konser dengan orkestra, template band yang sudah beredar sejak 1981 ini memang mengandung unsur musik klasik.

Act I

Seperti biasa, konser bermula dengan “Ecstasy of Gold”. Komposisi gubahan Ennio Morricone yang biasanya diambil dari film The Good, The Bad, and The Ugly. Kali ini, seperti versi 1999, dibawakan oleh San Francisco Symphony. Dan masih serupa dengan versi dua dekade silam, repertoir konser yang sekaligus berfungsi untuk meresmikan arena Chase Center ini dilanjutkan dengan “The Call of Ktulu”. Komposisi instrumental dari album Ride the Lightning (1984) yang jadi flirting mula Metallica dengan musik klasik.

Metallica, terutama di era Cliff Burton, menghasilkan banyak lagu dengan komposisi sinematik (cenderung klasik). Lagu-lagunya mempunyai struktur, atau minimal mempunyai dimensi yang memungkinkan diisi dengan kekayaan nada yang beragam. Seluruh komposisi lagu di album Master of Puppets (1986) misalnya, bisa menjadi studi yang menarik diamati.

Namun, Metallica juga ingin membuktikan bahwa beberapa katalog baru mereka juga memiliki dimensi yang serupa. Sehingga, konser ini dibagi menjadi dua “babak”. Paruh pertama berisi lagu-lagu baru yang mendominasi. Definisi “baru” di sini adalah momentum usai album Metallica (1991) yang menjadi garis pembeda era klasik dan baru.

Lagu-lagu seperti “Confusion”, “Halo on Fire”, atau “The Day That Never Comes” terbukti memiliki komposisi yang bisa diisi dengan orkestra. Sesi ini juga masih menampilkan lagu “No Leaf Clover” yang diambil dari S&M pertama. Dengan mixing yang lebih oke, orkestra di seri kedua ini jauh lebih terdengar. Pada lagu yang berkisah tentang kesialan tiada akhir itu orkestra betul-betul menjadi latar yang komplimenter dengan terjangan truk fregat.

"...just like a freight train coming your way."

Act II

Paruh kedua dimulai dengan konduksi Michael Tilson Thomas yang mengambil alih. Ia menyampaikan penjelasan mengenai proyek ini, sebagaimana wawancara di awal film. Bahwa bukan hanya band, penonton juga harus bersedia ditarik ke dunia klasik. Tilson memberi pengantar mengenai bangsa Skythia sebelum memulai komposisi klasik, Scythian Suite Op 20, dari abad ke-13 karya Sergei Prokovief. Disebutnya lagu ini “heavy metal” karena terinspirasi dari suku Asia Tengah yang bertato dan mengenakan zirah logam.

Usai menyambung dengan orkestrasi Iron Forgery karya Alexander Mosolov, yang juga diikuti oleh Metallica, James Hetfield tampil solo. Bak diva, tanpa gitar, diiringi orkestra, ia menyanyikan “The Unforgiven III”. Frontman yang tengah dirawat karena alkoholisme ini menampilkan suara primanya. Suara yang jauh lebih baik dibandingkan rentang waktu S&M edisi pertama hingga sekarang. Ia juga bisa berekspresi mengikuti lirik lagu, sehingga acap terlihat seperti tengah berkisah.

Kontekstual dengan kondisi Hetfield, beberapa lirik lagu menjadi lebih emosional ditonton. Di Grand Indonesia, tempat pemutaran film S&M2, fans yang menonton membawa banner doa kesembuhan bagi Papa Het. “My life is a war that never ends,” katanya di lagu Confusion. Barangkali ia memang sudah siap dengan hidupnya yang tidak pernah settle. Termasuk berani melintas-batas untuk bermain (lagi) dengan orkestra usai mencoba eksperimen mini-symphony pada konser akustik AWMF. Sesi ini diulangi lagi dengan membawakan lagu "All Within My Hands" dengan format serupa. Kali ini, tentunya, diiringi orkestra.

Sesi kedua juga menampilkan atraksi pemain cello Scott Pingel yang membawakan tribut untuk Cliff Burton. Ia memainkan komposisi bas yang jadi signature Cliff, yang berujung pada lagu “Anesthesia (Pulling Teeth)” dari album Kill ‘Em All (1983).

Pada sesi ini, katalog hits Metallica disimpan untuk mengakhiri konser. Berturut “One”, “Master of Puppets”, dan “Nothing Else Matters” dibawakan. Membawa kita kembali ke awal catatan. Bahwa lagu ini selalu saja mendera emosi ketika dilantunkan. Dengan versi lengkap termasuk orkestra, tentu semakin mendayu jadinya.

Seperti yang diduga, setelah 2,5 jam lamanya, konser berakhir dengan “Enter Sandman”. Durasi yang sebetulnya lama (untuk ukuran film dan konser), tetapi menjadi tampak sekelebat karena performa yang sangat prima dan rapi dari band dan orkestra. Pengambilan gambar (oleh Wayne Isham) juga sangat adil untuk membagi peran antara Metallica dan orkestra. Berkali-kali gestur konduktor juga jadi lakon ketika memandu adegan dengan reaksi atau abanya.

Tepuk tangan membahana memenuhi bioskop usai kredit akhir bergulir. Senada dengan applaus penonton di Chase Center yang muncul dari dokumentasi sinema. Rasanya semua yang hadir sepakat bahwa kenekatan para penampil malam itu terbayar tuntas dengan performa yang rapi, produksi kelas satu, serta tata suara yang mumpuni.

S&M2
Chase Center, San Francisco 

Act I
Ecstasy of Gold
Call of Ktulu
For Whom the Bell Tolls
The Day That Never Comes
Memory Remains
Confusion
Moth Into the Flame
Outlaw Torn
No Leaf Clover
Halo on Fire

Act II
Scythian Suite Op 20
Iron Foundry
Unforgiven III
All Within My Hands
Anesthesia (Pulling Teeth)
Wherever I May Roam
One
Master of Puppets
Nothing Else Matters
Enter Sandman
Reactions: 

Related

STICKY 5726230141320953126

Posting Komentar Default Comments

Follow Me

-

Ads

Popular

@helmantaofani

Arsip Blog

Ads

SHOP

Translate

item