Italian Tales

Setelah menyelesaikan 15 pertandingan, akhirnya Milan menjuarai Liga Champions untuk ketujuh kalinya sepanjang sejarah, sekaligus mengokoh...



Setelah menyelesaikan 15 pertandingan, akhirnya Milan menjuarai Liga Champions untuk ketujuh kalinya sepanjang sejarah, sekaligus mengokohkan posisinya di nomer dua klub peraih gelar terbanyak untuk ajang antarklub paling bergengsi tersebut. Milan memulai dari pertengahan Agustus ketika Filippo Inzaghi mencetak gol ke gawang Red Star Beograd. Dan petualangan Milan berakhir juga ketika pemain yang sama mencetak dua gol ke gawang Pepe Reina, kiper Liverpool pada final yang diselenggarakan di Stadion Olimpiade Athena, 23 Mei 2007. Perjuangan Milan menghasilkan ending yang gemilang, meski pada awalnya mereka terancam didepak dari gelaran ini akibat kasus calciopoli yang melanda sepakbola Italia.

Perjuangan itu juga yang membuat satu kesamaan cerita dengan kisah sukses tim nasional Italia pada Piala Dunia 2006 lalu. Berangkat dengan sejuta konflik, tercoret dari bursa unggulan sampai akhirnya terus melaju hingga menjadi juara dunia. Bahkan alurnya mirip. Italia lolos dengan "susah payah" dari group stage setelah membuang kesempatan ketika bermain imbang dengan Amerika Serikat 1-1. Mereka baru pasti lolos ketika menggasak Republik Ceko di partai penentuan. Milan, on the other hand, juga mengalami nasib serupa. Setelah menang di pertandingan pembuka, mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk segera lolos dari grup yang tergolong mudah. Milan menempati Grup H bersama Lille, AEK Athens dan Anderlecht.

Ketika lolos, banyak yang menyangka bahwa Italia akan dengan mudah mengatasi Australia. Begitu juga dengan Milan yang "hanya" perlu menyingkirkan wakil Skotlandia, Glasgow Celtic. Kenyataannya, kedua partai tersebut berakhir hanya dengan keunggulan satu gol dan catatan kontroversi. Simulasi Fabio Grosso mewarnai penalti Francesco Totti ke gawang Australia pada menit akhir yang membawa Italia melaju, sementara handsball Paolo Maldini menghalangi Celtic mendapatkan pinalti. Padahal, jika menyamakan 1-1, Celtic akan lolos ke perempat final karena mengantongi bekal 0-0 di leg pertama yang digelar di Hampden Park, kandang mereka.

Di perempat final, Italia menyikat kuda hitam Ukraina dengan skor 3-0. Milan juga melaju ke semifinal setelah unggul 4-2 di dua leg melawan juara Jerman Bayern Munich. Milan akan menghadapi Manchester United yang secara perkasa menyingkirkan wakil Italia lainnya, AS Roma dengan agregat 8-2! Sama dengan sukses Jerman mengkandaskan Argentina, favorit juara di Piala Dunia lalu. Meski demikian, Italia dan AC Milan mencatat permainan terbaik di semifinal. Italia memupus harapan tuan rumah Jerman, dan Milan menghempaskan lawan terkuat di Liga Champions, Manchester United dengan agregat skor 5-3.

Milan akan menghadapi Liverpool yang menyingkirkan "dewa" Liga Champions sekaligus juara bertahan Barcelona. Situasi yang mirip dengan Italia ketika berhadapan dengan penjegal favorit sekaligus juara bertahan Brasil, yaitu Perancis di final Piala Dunia. Keduanya juga mencatat permainan anti-klimaks meski sama-sama menggondol trofi juara.

Sungguh suatu kebetulan jika garis takdir berbicara serupa. Tetapi bukan sekedar nasib jika Milan dan Italia berbagi aktor penentu dalam diri Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso. Bersama dengan elemen lain, dua gelandang tersebut sangat berjasa membawa bendera Italia ke kancah global ketika kompetisi domestik mengalami kemerosotan. All in all, summer 2006 sampai summer 2007 boleh dikata sebagai "Italian Tales". Tetapi tidak hanya orang Italia saja yang bersuka cita, termasuk fans Milan dan sepakbola Italia yang tersebar di seluruh dunia.

Forza Milan, Forza Italia!!!
Reactions: 

Related

football 1137266017563439829

Posting Komentar Default Comments

3 komentar

Ipul mengatakan...

hmmm..kayaknya ni ya, Sepakbola Italia emang musti didera ama persoalan dulu supaya bisa sukses besar. ingat taon 82 kan..?. kayakx mereka dapat energi tambahan yang besar banget klo udah banyak masalah..jadi,sekarang udah merasa Tuhan bersama orang Italia lagi kan yak..? :)

btw, kemarin kan udah sempat bikin farewell note buat Peruzzi, kapan bikin yang sama buat Costacurta ?,he's one of my favourite player too...

redaksi mengatakan...

HIlman,
mau follow-up artikel BZ!Blogfam nih.
Bisa dikirim ke redaksi.bz@gmail.com dan cc ke bdwiagus@yahoo.com

thaks ya. Ditunggu..
maaf, ngepush2, .. kekejar deadline soalnya. hehehehhee

Mohammad Helman Taofani mengatakan...

@Ipul:
Couldn't agree with you more. Logically, hal kaya gitu kasi ekstra motivasi kan yak? Sama halnya dengan pemain di 1934 yang terancam dihukum sama Mussolini...hehehe.

@Redaksi:
Bos, tulisan gue kalo ngga di muat juga oke kok. Space di blog gue masih lapang...hahahaha.

Follow Me

-

SHOP

Popular

Arsip Blog

item