J U N O

Biasanya, ketika hendak menonton film yang sudah mendapatkan banyak review positif, saya akan mencari celah untuk mengapresiasi dari sudut p...


Biasanya, ketika hendak menonton film yang sudah mendapatkan banyak review positif, saya akan mencari celah untuk mengapresiasi dari sudut pandang lain. Salah satunya adalah mencari celah negatif atau kekurangan dari film tersebut. Bukannya skeptis, namun saya hanya coba melihatnya dari sudut pandang yang mungkin tak pernah dipikirkan sebelumnya oleh pemirsa lain.

Anyway, jadi apa yang akan kita harap ketika menonton "Juno"? Film fenomenal dari tahun lalu yang menjadi buah bibir budaya. Ada di segala penjuru, dari panggung gemerlap Oscar sampai bonus-bonus addons berupa theme remeh temeh yang saya temukan di Facebook. Ellen Page, sang Juno sendiri juga langsung mengorbit sebagai bintang muda yang kian diperhitungkan.

Selama 96 menit durasi, saya rasa film ini ekselen di semua aspek apresiasi. Name it! Jalan cerita "out of the box". Peran dan akting yang prima. Sinematografi yang proporsional. Latar musik yang pas. Dialog natural dan cerdas tanpa bersifat menggurui (wahai semua penulis skrip Indonesia, mohon dicermati gaya dialog yang ada di Juno ini). Apalagi yang disisakan untuk mencari celah negatif dalam apresiasi?

Dan saya juga bingung membagi, untuk siapa saja lima bintang pujian yang film rilisan September tahun lalu ini dapatkan. Jika kemarin saya menyerahkan tiga bintang dari empat untuk akting Dustin Hoffman di film Rain Man, maka kini lima bintang Juno rasanya saya serahkan saja bagi film ini untuk kemudian mereka distribusikan sendiri secara adil. Apakah itu ke Ellen Page sebagai aktris utama, para satelit yang begitu kuat dalam diri Michael Cera, Jennifer Garner, Olivia Thirby atau J.K Simmons. Entah itu kredit untuk Jason Reitman, sang sutradara yang mampu merangkul semua elemen untuk menjadikan filmnya brilian. Bisa juga ke sang penulis skrip, Diablo Cody yang menurut saya telah merangkaikan salah satu dialog terbaik dalam sejarah film. Bagaimana dengan Mateo Mesina yang merangkai musik sebagai penambah volume dalam film, alih-alih hanya sebagai latar? Atau para produser, yang di antaranya John Malkovich, dengan uang mereka yang turut memberi salah satu 96 menit terindah dalam hidup saya? Hmm...silahkan di bagi.

Juno hanyalah sebuah cerita fiksi tentang remaja berusia 16 tahun yang tiba-tiba mendapati dirinya hamil. Dia bukan gadis stereotipikal yang sering "kecelakaan" dalam film atau (lebih parah) serial teve. Dan keluarga eksentriknya tidak seaneh sanak saudara di Little Miss Sunshine. Mereka sangat manusiawi. Ayah eks tentara (JK Simmons) yang kini mengerjakan AC/pemanas ruang. Lalu sosok ibu tiri (Allison Janney) yang sangat baik (yes it happened to real world, in fact ibu tiri saya juga baik, meski tidak se-cablak ibu tiri Juno). Teman Juno, Leah (Olivia Thirlby), sosok cheerleader girl yang kali ini rela sebagai peran sekunder, meski kehadirannya seribu kali lebih penting daripada para pemadu sorak di film apapun. Lalu pasangan Loring, antara pribadi Vanessa (Jennifer Garner) dan Mark (Jason Bateman) yang secara cerdas dibalik di akhir film oleh Diablo (hey, dia diganjar Oscar untuk skrip ini). Masing-masing peran sangat terikat satu sama lain. Hanya dihubungkan oleh plot bahwa kehamilan Juno akhirnya mengantar dirinya bertemu dengan pasangan Loring tersebut yang berniat mengadopsi anak yang akan lahir. Sementara, Juno menikmati dukungan sangat hangat dari keluarga dan temannya. Sampai bisa terasa melawan dinginnya set musim gugur sampai awal musim semi yang terlihat di gambar.

Saya pikir banyak sekali yang memorable dari film ini. Saya sangat terkesan dengan SEMUA dialog yang diucapkan di film ini. Hampir tidak ada yang tak penting. Jika ada kekosongan, alih-alih mereka menyajikan ucap-ucap semu, musik yang banyak diisi oleh lagu Kimya Dawson diperkenankan mengalun, baik itu sebagai narasi, deskripsi mood atau mengisi ruang. Oleh karena itu saya bilang di awal bahwa musik di sini sangat volumik.

Ah, saya bisa menghabiskan 104 kali scroll untuk memenuhi panjang blog saya guna bercerita panjang lebar tentang impresi saya ke film ini. Rotten Tomatoes menahbiskan 93% review positif untuk film ini. Saya sudah memberi rating di atas. Sekarang biarkan saya menunggu "No Country for Old Man" dari Coen Brothers yang "menghabisi" Juno di penghargaan Oscar.

Karena film ini memang "simply flawless"...

PS: Anyway, atas impresi itu semalam saya dapet hadiah Tic Tac Orange dari Gina...
Reactions: 

Related

movie 7286125982032414214

Posting Komentar Default Comments

5 komentar

Raden Mas Angki Bukaningrat mengatakan...

"Pokok'e Juno is de best" Hilman said



Hehehehehehe

Ipul mengatakan...

wah jadi penasaran ama film ini..
abis baca juga di sini :http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_juno.htm

nonton ahh...

Fifa mengatakan...

moga2 aku bisa jadi parents yg cool kayak gitu

Starlet aka Minutestar mengatakan...

Gina, you're very sweet!!!!

Aku masih belum nonton ini film, pengeeeeen bangeet!!!

Ipul mengatakan...

Saya sudah nonton..!!!!
dan gilaaaa...keren..keren...
kenapa orang Indonesia ndak bisa bikin film remaja kayak gini ya..?

btw, pas adegan mo ngecat kamar baby, Vanessa pake kaos Alice in Chains ya..?, hehehehe..

Follow Me

-

Popular

Arsip Blog

item